Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Menjaga Hafalan 30 Juz di Tengah Tugas Sekolah

Menjaga Hafalan 30 Juz di Tengah Tugas Sekolah
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Hafalan perlu dijaga, bukan sekadar dituntaskan

Hafalan 30 juz adalah capaian mengingat seluruh Al-Qur’an yang menuntut pemeliharaan berkelanjutan melalui pengulangan, terutama ketika penghafal juga menghadapi kewajiban akademik. Bagi siswa madrasah, menyelesaikan hafalan bukan garis akhir: kemampuan mempertahankannya di tengah tugas sekolah menjadi ujian disiplin, tanggung jawab, dan konsistensi. Pada Selasa, 27 Oktober 2026, Liana Nafil Kamila Rosyid, murid kelas XII F MAN 1 Yogyakarta, menjalani munaqasyah hafalan 30 juz di Grha Bina Husada, Poltekkes Yogyakarta, sebagai bagian dari Apresiasi Tahfiz 2026.

Liana termasuk satu dari 12 murid yang mengikuti munaqasyah itu. Para peserta diuji Dr. KH. Moch. Taufiq Ridho, M.Pd., Al-Hafidz, dengan pertanyaan hafalan secara acak untuk mengukur kelancaran dan ketahanan hafalan. Format ini tepat: kemampuan membaca urutan yang sudah disiapkan belum tentu menunjukkan bahwa hafalan benar-benar melekat. Pengujian acak menuntut penguasaan yang lebih menyeluruh, sekaligus memberi gambaran capaian tahfidz yang tidak cukup diukur dari jumlah juz yang telah diselesaikan.

Menjaga Hafalan 30 Juz di Tengah Tugas Sekolah

Munaqasyah mengukur kebiasaan, bukan hanya ingatan

Munaqasyah tahfidz layak dipandang sebagai evaluasi, bukan semata-mata seremoni apresiasi. Dalam kegiatan MAN 1 Yogyakarta, murid mendapat ruang untuk menunjukkan capaian hafalan sekaligus mengukur kemampuan mempertahankannya. Ujian acak membuat tuntutan itu terlihat nyata: hafalan harus siap dipanggil kapan saja, bukan hanya ketika jadwal murajaah terasa longgar.

Liana mengaku gugup saat diuji di hadapan penguji dan orang tuanya, tetapi bersyukur prosesnya berjalan lancar. Ia menekankan bahwa kesibukan tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan murajaah, yakni mengulang hafalan agar tetap terjaga. Pandangan ini penting di tengah ritme sekolah yang kerap membuat kegiatan belajar Al-Qur’an bersaing dengan pekerjaan rumah dan target akademik. Konsistensi tidak lahir dari waktu luang yang selalu tersedia, melainkan dari keputusan untuk memberi ruang bagi pengulangan meski jadwal padat.

Menjaga Hafalan 30 Juz di Tengah Tugas Sekolah

Disiplin kecil membantu menghadapi jadwal padat

Pelajaran praktis dari pengalaman Liana bukan bahwa tugas sekolah harus dikesampingkan, melainkan bahwa hafalan memerlukan kebiasaan yang bisa bertahan berdampingan dengan kewajiban akademik. Ia mengingat nasihat ayah dan gurunya, “Tidak ada kata gabut untuk penghafal Al-Qur’an.” Waktu senggang sekecil apa pun, menurutnya, dapat dipakai untuk mengulang hafalan atau nderes.

Nasihat itu tidak menggantikan kebutuhan akan jadwal dan dukungan. Liana menyebut pendampingan orang tua dan guru sebagai sumber motivasi, terutama saat tuntutan akademik meningkat. Bagi siswa madrasah, murajaah yang disisipkan dalam keseharian dapat menjadi cara realistis untuk menjaga kesinambungan, bukan tuntutan agar setiap waktu diisi tanpa jeda. Kedisiplinan yang sehat berarti mengelola waktu secara sadar—dan meminta dukungan ketika beban sekolah mulai mengganggu kebiasaan belajar.

Capaian tahfidz harus berlanjut menjadi pengamalan

Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, mengapresiasi capaian hafalan 30 juz, tetapi berharap keberhasilan itu diteruskan dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menempatkan konsistensi menjaga Al-Qur’an sebagai bagian dari pendidikan karakter, dengan dukungan guru dan orang tua agar tanggung jawab akademik dan hafalan dapat berjalan seimbang. Arah ini membuat evaluasi tidak berhenti pada kelancaran saat ujian: mutu pendidikan Islam juga terlihat dari bagaimana hafalan menjadi pedoman perilaku.

Upaya membangun kesinambungan tampak pula pada wisuda tahfidz terintegrasi yang diikuti 128 siswa dari MAN 3 Sleman, MTsN 3 Sleman, dan MIN 1 Sleman pada 21 Oktober 2026 di Aula Universitas Alma Ata, Yogyakarta. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sleman, H. Nadhif, menekankan pentingnya program tahfidz berjenjang dari tingkat ibtidaiyah hingga aliyah, serta menyatakan komitmen untuk menyiapkan generasi berakhlak mulia melalui penguatan Sleman Religi.

Kesimpulannya, munaqasyah memberi ukuran yang lebih bermakna daripada sekadar hitungan juz: ia menguji apakah hafalan tetap terawat di tengah kehidupan sekolah. Apresiasi patut diberikan, tetapi tanggung jawab sesudah ujian lebih panjang—terus bermurajaah, memperkuat hafalan agar mutqin, memahami kandungannya, lalu mengamalkannya. Itulah keseimbangan yang seharusnya diperjuangkan madrasah, keluarga, dan para penghafal.

Menjaga Hafalan 30 Juz di Tengah Tugas Sekolah

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!