Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Wilayah Percepatan Hilirisasi: Tarik Investasi Pengolahan

Tiga Wilayah Percepatan Hilirisasi: Tarik Investasi Pengolahan
Minat|Asia Tenggara

Hilirisasi sebagai Strategi Ekonomi Baru di Kalimantan Timur

Hilirisasi adalah strategi pembangunan ekonomi yang mengubah orientasi daerah dari penjualan komoditas mentah ke pengolahan dalam negeri, melalui pengembangan kawasan industri, penguatan pelaku usaha lokal, serta penyediaan infrastruktur dan kepastian regulasi agar investasi pengolahan sawit, migas, dan petrokimia betul-betul menetap dan menambah nilai di wilayah asal. Di Kalimantan Timur, tiga daerah – Kotawaringin Timur (Kotim), Bontang, dan Paser – mulai menempatkan hilirisasi sebagai agenda utama kebijakan fiskal dan penataan ruang. Mereka tidak ingin lagi sekadar menjadi pemasok bahan baku, melainkan pusat pengolahan yang memiliki daya tawar investasi. Pendekatan ini patut dibaca sebagai pergeseran politik ekonomi daerah: dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi pengolahan yang menuntut perencanaan jangka panjang, koordinasi lintas wilayah, dan keberanian mengubah pola belanja anggaran.

Kotim: Menjadikan Hilirisasi Sawit sebagai Prioritas Anggaran

Kotim mengambil langkah paling tegas dengan memasukkan hilirisasi sawit sebagai fokus RAPBD 2027, berdampingan dengan penguatan UMKM dan perbaikan konektivitas fisik. Wakil Bupati Irawati menyatakan arah kebijakan fiskal 2027 diarahkan pada optimalisasi ekonomi dan pembangunan infrastruktur berbasis potensi lokal, bukan lagi belanja rutin yang tersebar tanpa prioritas jelas. "Dalam RAPBD 2027, pendapatan daerah dirancang sebesar Rp1,702 triliun, sedangkan belanja mencapai Rp1,736 triliun dengan defisit sekitar Rp34,04 miliar yang ditutup melalui pembiayaan netto". Angka ini menunjukkan ruang fiskal Kotim terbatas, sehingga menjadikan hilirisasi sawit sebagai prioritas berarti memilih bertaruh pada sektor yang dinilai paling mampu mengangkat UMKM dan menciptakan ekosistem pengolahan CPO lokal. Tantangannya, pidato pengantar belum merinci alokasi khusus, sehingga pembahasan dengan DPRD akan menjadi ujian sejauh mana komitmen hilirisasi diterjemahkan menjadi program nyata.

Bontang: Kawasan Industri 1.102 Hektare untuk Migas, Petrokimia, dan Pengolahan CPO

Bontang mengambil rute berbeda: menyiapkan kawasan industri Kalimantan yang jelas dan besar sebagai magnet investasi petrokimia, migas, dan pengolahan CPO. Wali Kota Neni Moerniaeni menekankan bahwa kepastian RTRW, RDTR, dan ketersediaan lahan adalah syarat utama sebelum berbicara promosi investasi. Pemerintah kota menyiapkan Kawasan Peruntukan Industri Bontang Lestari (KPIBL) seluas sekitar 1.102 hektare dan memosisikannya bersama Kaltim Industrial Estate sebagai basis pengembangan industri dan hilirisasi Bontang. Meski tidak punya kebun sawit, Bontang menargetkan menjadi pusat pengolahan CPO menjadi minyak goreng, produk oleokimia, dan turunannya melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO). Proyek fatty acid berkapasitas 91.200 ton per tahun dengan nilai investasi indikatif sekitar Rp3,77 triliun dirancang untuk memasok industri kosmetik, sabun, deterjen, tekstil, dan pelumas. Pendekatan ini menunjukkan cara pandang kota industri: bahan baku bisa datang dari luar, yang penting ekosistem pengolahan dan kepastian lahan berada di Bontang.

Tiga Wilayah Percepatan Hilirisasi: Tarik Investasi Pengolahan

Paser: Membenahi Tata Ruang dan Perizinan demi Percepatan Investasi

Berbeda dari Kotim dan Bontang, Paser masih berkutat pada persoalan dasar: tata ruang, perizinan, dan pencatatan investasi. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Paser, Adi Maulana, menyebut investasi sebagai instrumen kunci transformasi ekonomi, peningkatan daya saing, dan penciptaan lapangan kerja. Namun data menunjukkan realisasi investasi tahun 2025 baru Rp2,76 triliun dari target Rp5 triliun, sementara semester I 2026 baru mencapai Rp739,93 miliar dari target Rp5,4 triliun. Paser mendorong percepatan investasi lewat penguatan tata ruang, kemudahan perizinan, serta penyiapan proyek IPRO, termasuk pengolahan sampah menjadi RDF dan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Masalahnya, kewenangan perizinan di tingkat kabupaten sering hanya sebatas rekomendasi, yang berimbas pada pelaporan LKPM dan ketertiban administrasi investasi. Di sisi lain, ketiadaan kawasan industri dan keterbatasan pelabuhan serta akses transportasi membuat Paser bergantung pada dukungan pusat dan provinsi untuk menyelesaikan RDTR terintegrasi OSS-RBA dan harmonisasi perizinan.

Tiga Wilayah Percepatan Hilirisasi: Tarik Investasi Pengolahan

Menuju Ekosistem Pengolahan yang Lebih Kompetitif

Tiga pendekatan tadi menunjukkan bahwa hilirisasi sawit, migas, dan petrokimia di Kalimantan Timur bukan lagi jargon, melainkan proses politik anggaran dan penataan ruang yang konkret. Kotim memilih mendorong hilirisasi sawit lewat prioritas RAPBD dan penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal. Bontang membangun basis kawasan industri besar dengan kepastian ruang dan skema IPRO untuk menjual proyek pengolahan CPO dan investasi petrokimia kepada investor yang menuntut kepastian. Paser merapikan pondasi: tata ruang, perizinan, dan proyek strategis, sembari mengakui bahwa tanpa dukungan pusat dan provinsi, transformasi hanya akan berjalan separuh. Jika ketiga wilayah ini saling membaca peran – satu sebagai sumber bahan baku, satu sebagai pusat pengolahan, satu sebagai lumbung proyek inovatif – Kalimantan Timur berpotensi membangun ekosistem industri pengolahan yang jauh lebih kompetitif daripada sekadar mengandalkan ekspor komoditas mentah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!