Sharenting: Ketika Rasa Bangga Orang Tua Berbalik Jadi Risiko Anak
Sharenting adalah kebiasaan orang tua mengunggah aktivitas, cerita, hingga dokumentasi anak-anak mereka ke media sosial sebagai bagian dari pola pengasuhan dan ekspresi kebahagiaan, tetapi praktik ini secara tak disadari dapat menyeret identitas, privasi, dan keamanan digital anak ke ruang publik yang tidak lagi sepenuhnya bisa dikendalikan. Sharenting merupakan gabungan dari kata sharing (berbagi) dan parenting (pola pengasuhan), merujuk pada kebiasaan orang tua mengunggah aktivitas, cerita, hingga dokumentasi anak-anak mereka ke media sosial. Di era digital parenting, banyak orang tua muda menganggap melibatkan anak dalam konten sebagai bentuk perayaan hidup, dengan menutup wajah sebagai kompromi yang dianggap cukup aman. Masalahnya, kompromi ini menciptakan batas yang sangat rapuh antara perlindungan diri dan eksposur publik, sehingga sharenting risiko anak menjadi isu serius yang tidak bisa lagi dipandang sebagai “hal lucu di internet”.
Tiga Dampak Utama: Dari Pencurian Identitas hingga Jejak Digital Permanen
Begitu foto atau video anak diunggah, kendali orang tua atas dampak wajah anak online pada dasarnya berakhir di detik yang sama. Kreator konten Siti Khotijah mengingatkan, “Sekali diunggah, foto anak bisa kesebar kemana aja loh tanpa kita tahu. Dari screenshot, share, sampai masuk ke dataset AI,” dan kalimat ini seharusnya membuat orang tua berhenti menganggap unggahan anak sebagai hal ringan. Pencurian identitas menjadi risiko nyata ketika wajah, nama, dan detail keseharian anak tersedia sebagai bahan mentah sistem identifikasi otomatis dan model AI, memunculkan potensi penyalahgunaan keamanan data anak digital. Di saat yang sama, eksploitasi konten semakin mudah terjadi: video lucu bisa diedit ulang, dipakai untuk tujuan yang tidak bermoral, atau menjadi bagian dari komersialisasi tanpa persetujuan anak. Jejak digital permanen memperparah situasi, karena sekali sebuah cerita atau potongan kehidupan dilemparkan ke ruang siber, kendali atas persepsi dan rasa penasaran publik tak lagi sepenuhnya berada di tangan kita.

Paradoks Privasi Anak Selebriti: Hak Orang Tua vs Hak Anak
Insiden bocornya wajah anak selebriti yang sejak lahir disembunyikan menunjukkan betapa rapuhnya benteng privasi anak di tengah budaya sharenting. Dalam kasus ini, seorang anak dari keluarga selebritas, yang sejak lahir wajahnya dirahasiakan oleh orang tuanya, tanpa sengaja terekam kamera warga dan tersebar luas di internet. Orang tua memiliki hak otonom penuh untuk menentukan sejauh mana batas kehidupan pribadi anak mereka boleh diakses oleh orang asing, dan kemarahan ketika privasi anak dilanggar sepenuhnya sah. Namun publik menyoroti paradoks: anak yang wajahnya ditutup tetap menjadi materi konten harian, dijadikan daya tarik engagement, dan ditempatkan di panggung komersialisasi digital. Di sini privasi anak media sosial menjadi arena tarik-menarik antara rasa bangga orang tua dan hak anak atas kehidupan yang tenang. Sharenting selebriti mengajarkan satu hal: jika dunia anak terus ditarik ke layar publik, jangan kaget ketika publik menganggap batas privasi itu boleh dinegosiasikan.
Menutup Wajah Tidak Cukup: Metadata, Narasi, dan Eksposur Digital
Banyak orang tua merasa sudah aman dengan menutup wajah anak memakai stiker, mengambil dari belakang, atau memotong angle video. Padahal perlindungan privasi anak yang sejati tidak cukup hanya dengan menutupi bagian wajah, melainkan dengan secara bijak membatasi sejauh mana dunia anak ditarik ke dalam riuhnya panggung komersialisasi digital. Studi tentang sharenting dan privacy calculus menunjukkan bahwa strategi privasi parsial—menyembunyikan wajah namun tetap mengekspos narasi kehidupan, tubuh, dan identitas anak—justru memunculkan ketimpangan persepsi. Metadata seperti lokasi, waktu pengunggahan, serta detail latar rumah atau sekolah dapat menambah risiko keamanan data anak digital, bahkan tanpa perlu menampilkan wajah. Ketika narasi sehari-hari, kebiasaan, dan lingkar sosial anak dipaparkan berulang kali, audiens dapat menyusun potongan-potongan informasi itu menjadi profil anak yang cukup lengkap. Di titik ini, menutup wajah hanyalah ilusi perlindungan; esensi sharenting risiko anak tetap hadir dalam cerita dan konteks yang terus dibagikan.
Orang Tua dan Platform: Batas Tanggung Jawab dalam Melindungi Anak
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah sharenting berbahaya, tetapi apakah orang tua dan platform berani mengubah kebiasaan yang mengorbankan privasi anak media sosial demi interaksi dan monetisasi. Banyak orang tua memilih tak menunjukkan wajah penuh anak demi keamanan buah hati, tetapi masih menjadikan kehidupan anak sebagai konten konsisten. Di sisi lain, sifat dasar internet yang beringas, di mana sekali cerita masuk ke ruang siber kendali tak lagi di tangan kita, menuntut platform untuk memperketat proteksi data anak, termasuk pengelolaan foto yang bisa “masuk ke dataset AI”. Namun platform tidak pernah bisa menggantikan keputusan paling mendasar: apakah dunia anak perlu tampil di ruang publik, dan sejauh mana. Kesimpulannya tegas: jika orang tua menganggap anak sebagai subjek utama konten, maka mereka juga harus siap memikul biaya privasi yang dibayarkan anak di masa depan.






