Teknologi canggih, hasil pencarian tetap nihil
Operasi pencarian korban kapal adalah upaya terkoordinasi untuk menemukan orang hilang di laut dengan menyisir permukaan dan memindai dasar perairan menggunakan personel serta peralatan khusus. Dalam pencarian setelah KM Feronia tenggelam di perairan Taman Nasional Komodo, Ditpolairud Polda NTT mengerahkan sonar dan drone robot bawah laut untuk mencari seorang korban yang belum ditemukan. Namun, kecanggihan alat tidak otomatis mengatasi medan laut yang sulit: setelah 10 hari, korban dan bangkai utama kapal masih belum terlacak. Hasil ini menegaskan bahwa teknologi memperluas kemampuan tim, tetapi keberhasilan tetap dibatasi kondisi alam dan petunjuk yang tersedia.
Pencarian melibatkan 76 personel gabungan dari TNI-Polri, Basarnas, KPLP, KKP, Pelindo, serta masyarakat setempat. Tim menggunakan sonar single beam dan drone bawah air milik Ditpolairud, ROV milik PT Farmindo, serta side scan sonar Koarmada II TNI AL. Peralatan itu didukung sejumlah kapal, termasuk KM Hiu Macan 03, RIB Lanal Labuan Bajo, dan KRI Pulau Fani-731. Luasnya dukungan menunjukkan keseriusan operasi, tetapi juga betapa rumitnya pencarian di dasar laut.

Arus bawah laut menyulitkan penyisiran
Penyisiran berpusat di sekitar lokasi awal kapal tenggelam dan wilayah yang diperkirakan menjadi titik pergeseran korban akibat arus. Area yang diperiksa mencakup Tatawa Besar, Batu Bolong, Mawan, Batu Tiga, dan Sebayur. Menurut Direktur Polairud Polda NTT Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, arus bawah laut yang dinamis menjadi tantangan besar bagi tim. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa rekaman drone dan hasil pemindaian sonar belum menghasilkan temuan, meski pencarian dilakukan dengan beragam perangkat khusus.
Teknologi sonar dan drone bawah laut dapat membantu memetakan dasar perairan serta memeriksa titik yang sulit dijangkau penyelam. Namun, pemindaian bukan jaminan bahwa setiap objek atau korban akan segera teridentifikasi, terutama ketika kondisi arus berubah. Dalam kasus ini, evaluasi terhadap rekaman drone dan hasil sonar tetap tidak menemukan korban maupun bangkai utama KM Feronia. Karena itu, kabar penghentian operasi bukan berarti seluruh pertanyaan tentang kecelakaan telah terjawab; artinya, pencarian aktif yang terkoordinasi telah mencapai batas evaluasi tim.
Operasi dihentikan, kewaspadaan tetap diperlukan
Basarnas Maumere resmi menghentikan operasi SAR Komodo pada Kamis, 22 Oktober 2026, setelah pencarian berlangsung selama 10 hari tanpa menemukan satu korban yang masih hilang maupun bangkai utama kapal. Korban tersebut berinisial VBJ, seorang dive master berusia 23 tahun yang berdomisili di Labuan Bajo. Penutupan operasi merupakan keputusan yang berat, tetapi hasil penyisiran dan pemindaian yang nihil menjadi dasar evaluasinya. Kepolisian menyatakan personel Marnit Labuan Bajo akan tetap melakukan patroli rutin di perairan Taman Nasional Komodo.
Bagi kapal wisata dan nelayan yang beraktivitas di kawasan itu, penghentian pencarian aktif tidak menghapus kewajiban untuk waspada. Petugas meminta awak kapal meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor jika menemukan tanda keberadaan korban atau KM Feronia. Informasi dapat disampaikan kepada petugas kepolisian perairan atau melalui layanan call center 101 SPKT Polres Manggarai Barat. Doa bersama juga dijadwalkan di Pelabuhan Marina Labuan Bajo sebagai penghormatan kepada korban dan dukungan bagi keluarga.
Kesimpulan: penutupan operasi bukan akhir kewaspadaan
Pencarian korban KM Feronia memperlihatkan nilai sekaligus batas sonar, drone bawah laut, dan dukungan lintas lembaga: alat memperluas jangkauan penyisiran, tetapi arus dinamis dan nihilnya petunjuk tetap menghambat hasil. Operasi resmi memang berakhir setelah 10 hari, namun patroli dan laporan dari kapal yang melintas masih penting. Bagi pengguna laut di kawasan Komodo, kewaspadaan dan pelaporan temuan menjadi langkah paling nyata untuk membantu apabila muncul petunjuk baru.






