Teknologi memperluas pencarian, bukan menjamin hasil
Teknologi sonar dan drone robot bawah laut adalah perangkat pencarian yang memindai dasar laut dan merekam kondisi bawah permukaan untuk membantu tim menemukan petunjuk di wilayah yang sulit dijangkau penyelam. Di perairan Taman Nasional Komodo, Ditpolairud Polda Nusa Tenggara Timur mengerahkan sonar dan drone bawah air untuk mencari seorang penyelam profesional yang hilang bersama KM Feronia. Namun, setelah sepuluh hari pencarian, korban belum ditemukan. Fakta ini penting: teknologi sonar drone laut memperluas kemampuan pemantauan, tetapi bukan jalan pintas yang menjamin korban segera terdeteksi. Operasi melibatkan 76 personel gabungan dari unsur TNI-Polri, Basarnas, KPLP, KKP, Pelindo, dan masyarakat setempat. Tim mengoperasikan sonar single beam, drone bawah air, ROV, serta side scan sonar untuk menyisir sejumlah titik. Arus bawah laut yang dinamis tetap menjadi tantangan besar.
Tragedi Tempurung menyoroti pentingnya respons cepat
Kecelakaan KM Berkah di sekitar Pulau Tempurung, Merak, pada 26 Oktober 2026 sekitar pukul 14.00 WIB kembali menunjukkan betapa cepat kondisi laut dapat berubah. Tiga nelayan berada di perahu ketika ombak dalam cuaca yang kurang bersahabat membuat kapal tenggelam; dua orang meninggal dunia dan satu orang selamat. Korban yang selamat ditolong kapal KMP SMS Sagita, sementara dua korban lainnya dievakuasi oleh KM Inti Rezeki. Personel Ditpolairud Polda Banten menindaklanjuti laporan dengan mendata kejadian, mendatangi lokasi, dan melaporkan perkembangan penanganan kepada pimpinan. Peristiwa ini mengingatkan bahwa operasi penyelamatan kapal bukan hanya soal alat pencari canggih. Pertolongan dari kapal yang berada di sekitar lokasi dan kesiapan menghadapi cuaca buruk juga menentukan penanganan awal. Karena itu, keselamatan awak dan keputusan untuk tidak berlayar saat kondisi memburuk harus menjadi perhatian utama.
Pencegahan harus berjalan seiring pencarian
Peralatan bawah laut dapat membantu petugas memeriksa wilayah pencarian, tetapi tidak menghapus risiko di laut maupun menjamin setiap orang hilang ditemukan. Di Komodo, Basarnas Maumere menghentikan operasi pencarian setelah mengevaluasi hasil penyisiran dan pemindaian yang belum menemukan korban maupun bangkai utama kapal. Meski operasi SAR berakhir, personel Ditpolairud Polda NTT tetap berpatroli rutin; kapal wisata dan nelayan juga diminta melaporkan petunjuk yang mereka temukan. Di Banten, imbauan kepada nelayan dan pengguna transportasi laut mencakup memeriksa cuaca, memastikan perahu laik, membawa perlengkapan keselamatan, dan tidak memaksakan diri melaut ketika cuaca tidak mendukung. Inilah dasar keselamatan transportasi laut yang tidak boleh kalah oleh rasa percaya pada teknologi. Penggunaan sonar dan drone perlu berjalan bersama kewaspadaan, kesiapan kapal, dan pelaporan warga. Pencarian dapat dibantu teknologi; risiko kecelakaan paling baik ditekan sebelum kapal berangkat.






