Biogas dari limbah sawit: solusi energi dan limbah dalam satu langkah
Pembangkit listrik biogas adalah fasilitas yang mengubah bahan organik, seperti limbah cair kelapa sawit, menjadi gas metana melalui proses biologis terkontrol yang kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik terbarukan bagi jaringan energi industri dan masyarakat. Di KEK Sei Mangkei, gagasan ini bukan lagi konsep, melainkan realitas yang mengubah cara kawasan industri memandang limbah. Limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME), yang sebelumnya menjadi beban pengelolaan lingkungan, kini diperlakukan sebagai aset energi bernilai strategis. Di sini, persoalan limbah dan kebutuhan listrik tidak lagi berdiri terpisah; keduanya dipertemukan dalam satu sistem yang dirancang untuk menekan emisi sekaligus menjaga daya saing industri.

PLTBg Sei Mangkei: 790 m³ limbah per hari jadi listrik terbarukan
Inti transformasi ini adalah PLTBg Sei Mangkei, pembangkit listrik biogas dengan kapasitas terpasang 2,4 MW yang memanfaatkan POME dari pabrik kelapa sawit milik PTPN III di kawasan industri tersebut. Setiap hari, fasilitas ini mengolah sekitar 790 meter kubik limbah cair sawit menjadi energi, menghasilkan kurang lebih 44.000 kWh listrik yang disalurkan ke sistem kelistrikan kawasan melalui gardu tersinkronisasi. Sejak mulai beroperasi pada 2020, PLTBg Sei Mangkei telah memproduksi sekitar 63.708 MWh listrik dan diklaim berkontribusi menurunkan emisi hingga 500.000 ton CO2. Pernyataan Rein Nasution bahwa “limbah cair yang sebelumnya tidak digunakan sama sekali, dikelola untuk memiliki nilai komersial” menegaskan pergeseran paradigma dari sekadar membuang limbah menjadi mengolah limbah sawit energi terbarukan dengan nilai ekonomi nyata.
Pertamina NRE, PLTS, dan porsi 10% listrik KEK Sei Mangkei
Langkah Pertamina energi bersih melalui Pertamina New & Renewable Energy tidak berhenti pada biogas. Di KEK Sei Mangkei, Pertamina NRE memasang kombinasi PLTBg dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang totalnya menyumbang sekitar 7,4 MW, atau kurang lebih 10% dari kebutuhan listrik kawasan yang telah menembus 74 MW. PLTS yang ada saat ini sekitar 2 MW, dan pada Oktober 2026 ditargetkan masuk fase Commercial Operation Date dengan tambahan kapasitas sekitar 3 MWp, sehingga total kapasitas pembangkit energi terbarukan mencapai 7,4 MW. Ini bukan angka kecil jika diingat, dalam tiga tahun, jumlah pabrik di KEK Sei Mangkei melonjak dari sekitar enam menjadi 34 unit, memacu lonjakan kebutuhan listrik yang tidak bisa lagi hanya bergantung pada sumber fosil.
Menuju target 20% energi terbarukan di kawasan industri
Meski sudah memasok 10% KEK Sei Mangkei listrik, ambisi kawasan ini lebih jauh: minimal 20% kebutuhan listrik harus berasal dari energi terbarukan. Di sini, biogas dan surya berjalan beriringan. PLTBg menstabilkan pasokan dari limbah sawit energi terbarukan, sementara PLTS direncanakan terus diperluas melalui pembangunan PLTS ground-mounted 8 MW dan PLTS rooftop 5 MW, yang berarti dibutuhkan tambahan sekitar 13 MW kapasitas baru. Pendekatan ini penting bukan sekadar untuk mengejar persentase bauran energi; ia menunjukkan bahwa energi terbarukan Sumatera Utara di kawasan industri bisa tumbuh sejalan dengan ekspansi pabrik, bukan sebagai beban tambahan. Biogas juga mengurangi risiko lingkungan dari kolam limbah terbuka, menjawab kritik terhadap industri sawit dengan solusi teknis yang terukur.
Model ekonomi sirkular: dari beban lingkungan menjadi magnet investasi
Proyek PLTBg Sei Mangkei adalah contoh konkret bagaimana model ekonomi sirkular bekerja di sektor agroindustri. POME yang dulu hanya dianggap residu diubah menjadi bahan baku utama energi, menjadikan limbah bagian dari ekosistem energi bersih kawasan industri. Limbah cair yang tidak bernilai kini menjadi aset energi yang mengurangi emisi dan meningkatkan keandalan pasokan listrik—dua faktor yang semakin dicari investor. Model ini menunjukkan bahwa industri kelapa sawit tidak hanya menghasilkan minyak, tetapi juga bisa menjadi produsen energi terbarukan berbasis limbahnya sendiri. Dengan kata lain, Pertamina energi bersih melalui Pertamina NRE memberi pesan tegas: masa depan kawasan industri bukan sekadar soal kapasitas produksi, tetapi juga seberapa cerdas mereka mengelola limbah dan energi. Jika Sei Mangkei bisa, kawasan lain tidak punya alasan untuk bertahan pada pola lama.






