Ketekunan Tinggi, Namun Mentalitas Belajar Anak Masih Rapuh
Growth mindset siswa adalah keyakinan bahwa kemampuan akademik dapat terus berkembang melalui usaha terarah, strategi belajar yang tepat, dan umpan balik yang konstruktif, sehingga kegagalan dipandang sebagai peluang untuk belajar alih-alih bukti bahwa seseorang tidak berbakat. Di banyak kelas, kita melihat anak yang rajin mengerjakan tugas, tetap berusaha saat pelajaran sulit, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang kuat. Namun ketekunan ini sering terjebak dalam pola “belajar asal kerja” tanpa refleksi, tanpa kebiasaan mengolah kesalahan, dan tanpa kepercayaan bahwa otak bisa disusun ulang lewat latihan. Di sinilah paradoks besar pendidikan muncul: usaha ada, tapi keyakinan bahwa kemampuan bisa tumbuh belum cukup kuat. Akibatnya, prestasi akademik siswa mentok di angka yang mengkhawatirkan meski kerja keras terus digalakkan.

Alarm PISA: Skor Rendah Meski Siswa Tekun Berusaha
Jika ketekunan adalah modal, mengapa prestasi akademik siswa masih tertinggal jauh? Data PISA menunjukkan betapa serius jurang antara usaha dan hasil. Skor matematika hanya 366, membaca 359, dan sains 383, sementara rata-rata OECD masing-masing 472, 476, dan 485. Bahkan tren sebelumnya menunjukkan penurunan: membaca dari 397 menjadi 371, matematika dari 386 menjadi 379, dan sains dari 403 menjadi 396 antara 2015 dan 2018. Angka ini bukan sekadar soal anak kurang pintar; ia menegaskan bahwa sistem belum mendorong pembelajaran mendalam. Di sisi lain, temuan bahwa 74 persen siswa tetap berusaha keras saat menghadapi pelajaran sulit memperlihatkan ketekunan yang cukup kuat. Ketika skor tetap rendah meski sebagian besar anak tekun, kita dipaksa mengakui masalahnya bukan hanya di jumlah jam belajar, tetapi pada mentalitas belajar anak dan cara sekolah memaknai usaha.
Ketekunan Tanpa Growth Mindset: Usaha yang Salah Arah
Temuan bahwa banyak siswa sanggup bertahan menghadapi pelajaran sulit adalah kabar baik: ketekunan dapat menjadi bekal penting dalam belajar. Siswa usia 15 tahun juga disebut menunjukkan tingkat keingintahuan yang termasuk salah satu yang tertinggi dan telah mengembangkan kemampuan belajar mandiri. Namun bekal ini mandek bila mereka diam-diam menganut fixed mindset: melihat nilai ujian sebagai vonis bakat, menghindari tantangan karena takut “ketahuan bodoh”, dan membaca kesalahan sebagai aib, bukan umpan balik. Tanpa growth mindset siswa, usaha berubah menjadi repetisi tanpa peningkatan. Anak bisa berkutat berjam-jam pada rumus yang sama tanpa pernah memahami konsep, karena tidak diajak percaya bahwa kemampuan matematika, membaca, dan sains bisa ditumbuhkan secara bertahap. Paradoksnya, semakin keras mereka bekerja dalam pola yang keliru, semakin kuat rasa frustrasi ketika skor tidak naik, dan semakin kokoh keyakinan bahwa diri mereka memang lemah.
Mengapa Guru dan Sekolah Wajib Memperbaiki Cara Memberi Usaha
Kita sering mengobati gejala pendidikan dengan solusi kosmetik: mengganti kurikulum, membeli perangkat teknologi, atau membangun sekolah unggulan. Padahal akar persoalan ada pada apa yang terjadi di ruang kelas: siapa yang mengajar dan bagaimana mereka memandu mentalitas belajar anak. Guru membutuhkan pelatihan bermutu, waktu mengajar cukup, dukungan profesional, sistem evaluasi yang masuk akal, dan kesejahteraan yang membuat profesi ini menarik bagi orang terbaik. Tanpa guru yang kuat, growth mindset sulit tumbuh. Ketika kebijakan hanya dinilai dari berapa banyak program yang diluncurkan, bukan dari hasil belajar nyata, siswa belajar memaknai sekolah sebagai serangkaian kegiatan administratif, bukan sebagai perjalanan mengasah kemampuan. Kita perlu bergeser dari pujian “rajin” ke pujian atas proses belajar: strategi yang dicoba, pertanyaan yang diajukan, dan keberanian mengakui serta membedah kesalahan.
Menumbuhkan Growth Mindset: Dari Feedback hingga Merayakan Kegagalan
Untuk menyelaraskan ketekunan dengan peningkatan prestasi akademik siswa, sekolah dan guru harus mengubah cara mendampingi usaha anak. Temuan bahwa anak tetap membutuhkan metode belajar dan pendampingan yang sesuai agar usaha membantu memahami materi secara bertahap adalah kunci. Feedback guru hendaknya spesifik pada proses, bukan hanya nilai: apa yang sudah baik, apa yang perlu diperbaiki, dan strategi apa yang bisa dicoba berikutnya. Kesalahan perlu dibahas terbuka sebagai bahan belajar, bukan bahan mempermalukan. Di kelas, guru bisa menormalisasi kalimat seperti “hari ini kita merayakan kesalahan yang membuat kita paham konsep lebih dalam”. Tanpa budaya pembelajaran dari kegagalan, anak akan menghindari tantangan demi menjaga citra diri. Pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang berani menjawab satu pertanyaan sederhana: setelah bertahun-tahun bersekolah, apakah anak sungguh merasa kemampuan mereka bisa tumbuh melalui usaha yang tepat?






