Ujian berskala besar, kesiapan harus menyeluruh
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah asesmen untuk mengukur capaian akademik murid melalui ujian yang dilaksanakan bertahap, dengan kesiapan siswa dan sekolah sama pentingnya bagi kelancaran pelaksanaan. Mulai Senin, 26 Oktober 2026, sebanyak 438.126 murid SMA, SMK, SLB, dan sederajat di Jawa Timur terdaftar mengikuti TKA hingga 8 November. Jumlah itu setara sekitar 94,54 persen dari 463.397 calon peserta; 4.546 dari 4.863 satuan pendidikan yang tercatat telah berstatus terdaftar final. Skala sebesar ini membuat keberhasilan TKA SMA tak cukup dinilai dari soal yang dikerjakan. Pengalaman peserta juga bergantung pada kesiapan ruang, perangkat, jaringan, dan petugas. Karena asesmen berlangsung bergelombang, sekolah harus menjaga mutu pelaksanaan dari awal sampai akhir, bukan hanya memastikan sesi pertama berjalan.
Di Kota Malang, 18.383 siswa SMA/MA dan SMK mengikuti ujian SMA SMK ini: 8.469 dari SMA/MA dan 9.913 dari SMK. Besarnya jumlah peserta mempertegas bahwa persoalan yang tampak kecil bagi satu sekolah dapat berpengaruh pada banyak murid.

Soal penalaran menguji strategi, bukan hanya pengetahuan
Tantangan yang paling nyata bagi siswa di Malang bukan semata-mata mengingat materi, melainkan menyaring informasi dan menentukan berapa lama waktu yang layak diberikan untuk setiap soal. Evaluasi sekolah menunjukkan sejumlah murid membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami dan memilah informasi dalam soal penalaran tingkat lanjut. Akibatnya, pengerjaan menjadi kurang efisien dan peserta berisiko kehabisan waktu. Ini mengingatkan bahwa strategi ujian adalah bagian dari kesiapan akademik: memahami tuntutan soal, mengatur tempo, dan bergerak ke soal berikutnya bila perlu sama pentingnya dengan belajar materi.
Sekolah menyebut geladi bersih pada 5–18 Oktober secara umum berjalan lancar, meski ada kendala ringan seperti perangkat yang perlu diperbarui. Persiapan kemudian diperkuat dengan latihan strategi pengerjaan. Pesan penting bagi peserta TKA ialah jangan membiarkan satu soal menyita waktu terlalu lama; fokus dan kondisi fisik yang terjaga membantu mereka menggunakan waktu secara lebih terukur.
Gangguan listrik dan internet tak boleh menjadi kejutan
Kesiapan teknis bukan urusan tambahan. Pelaksanaan TKA di Jawa Timur memakai moda daring penuh di 3.518 satuan pendidikan dan semi daring di 1.028 sekolah, sehingga komputer, koneksi internet, pasokan listrik, ruang ujian, proktor, dan teknisi perlu diperiksa sebelum hari tes. Sekolah penyelenggara mandiri diminta menyiagakan UPS untuk server atau komputer proktor serta genset bila memungkinkan. Dinas juga berkoordinasi dengan penyedia listrik dan telekomunikasi untuk mengurangi risiko gangguan jaringan maupun pasokan.
Langkah antisipasi ini tepat, tetapi nilainya bergantung pada prosedur yang benar-benar dipahami petugas. Jika listrik atau internet terganggu, peserta tidak seharusnya menanggung kebingungan sendirian. Kepala dinas pendidikan provinsi menyatakan, “Apabila terjadi gangguan listrik atau internet, murid tidak perlu panik”; petugas sekolah disiapkan untuk menangani kendala agar hak peserta mengikuti asesmen tetap terlindungi. Kepastian komunikasi dengan helpdesk dan respons yang cepat menjadi bagian dari keadilan ujian, bukan sekadar urusan teknis.
Ketenangan dan pelaksanaan yang adil harus berjalan bersama
Di Malang, gelombang pertama berlangsung pada 26–29 Oktober dan gelombang kedua dijadwalkan 2–5 November. Peserta mengerjakan Bahasa Indonesia yang terintegrasi dengan literasi selama sekitar 105 menit, Bahasa Inggris sekitar 105 menit, Matematika sekitar 80 menit, lalu mata pelajaran pilihan sekitar 125 menit. Jadwal yang berbeda menuntut siswa menjaga energi sepanjang rangkaian, bukan hanya tampil maksimal pada hari pertama. Imbauan agar tidak belajar sampai kelelahan patut dianggap serius: istirahat dan fokus mendukung kemampuan mengolah soal.
Secara keseluruhan, TKA dapat memberi gambaran capaian akademik dan kebutuhan pembelajaran, tetapi hasilnya hanya bermakna jika peserta mendapat kesempatan mengerjakan tes dalam kondisi yang layak. Siswa perlu mengatur waktu dan menghadapi soal penalaran dengan tenang; sekolah wajib mengantisipasi gangguan dan memberi respons jelas. Pemerintah provinsi juga mengingatkan agar murid mengerjakan dengan jujur dan percaya diri, tanpa menganggap hasil TKA sebagai satu-satunya penentu masa depan. Ukuran kesiapan sesungguhnya ialah gabungan antara kemampuan siswa dan tanggung jawab penyelenggara.






