Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Permainan Tradisional sebagai Alat Literasi Anak

Permainan Tradisional sebagai Alat Literasi Anak
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Bermain sambil belajar: ketika literasi tumbuh dari permainan tradisional

Permainan tradisional anak yang disusun dengan aturan, narasi, dan simbol edukatif dapat menjadi media literasi anak edukatif, karena menggabungkan kesenangan bermain dengan kesempatan berlatih bahasa, logika, dan kepekaan sosial dalam satu aktivitas yang akrab bagi anak dan mudah diterapkan di berbagai lingkungan. Pendekatan ini menantang anggapan bahwa kemampuan membaca dan berhitung hanya bisa dibangun lewat buku teks dan lembar kerja. Ketika anak melompat, berhitung langkah, membaca kartu aturan, atau berdiskusi soal strategi permainan, mereka sedang terlibat dalam pembelajaran berbasis permainan yang jauh lebih hidup daripada duduk diam di kelas. Di sinilah permainan tradisional anak bukan sekadar nostalgia, melainkan pilihan pedagogis yang layak diprioritaskan dalam kebijakan literasi anak.

Pertakid: contoh konkret literasi anak edukatif yang lahir dari pesisir

Langkah Pertamina Patra Niaga IT Ampenan menyerahkan 15 paket Permainan Tradisional Anak Indonesia (Pertakid) kepada Bunda Literasi Provinsi NTB untuk Program Gelitra menunjukkan keseriusan mengangkat permainan tradisional sebagai medium belajar yang sah. Program ini bukan kegiatan seremonial: ia berakar pada Sekolah Alam Anak Pesisir, bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang telah berjalan sejak 2024. Dengan menggandeng komunitas Alo Main dan Sanggar Jalan Pulang, Pertakid memadukan permainan tradisional dengan materi ekosistem pesisir, terutama mangrove, sehingga anak belajar mengenal lingkungan sambil bermain. "Melalui pendekatan learning by playing, Pertakid dirancang agar materi edukasi dapat diterima anak secara interaktif dan mudah dipahami," ujar Ahad Rahedi. Ini definisi konkret bermain sambil belajar: materi serius disajikan lewat aktivitas yang anak pilih dengan sukarela.

Pembelajaran berbasis permainan: mengapa anak lebih mudah menyerap pengetahuan

Keunggulan pembelajaran berbasis permainan dibanding metode ceramah tidak semata karena lebih menyenangkan, tetapi karena selaras dengan cara kerja otak anak. Saat bermain, anak mengaktifkan gerak tubuh, emosi, dan interaksi sosial secara bersamaan, sehingga informasi yang dipelajari menempel lebih kuat. Pertakid dirancang agar materi edukasi—mulai dari ekosistem pesisir hingga isu sosial—masuk lewat interaksi langsung, bukan hafalan kering. Permainan tradisional anak yang mengandung unsur menghitung langkah, membaca instruksi, atau mencocokkan simbol secara tidak langsung melatih kemampuan membaca dan berhitung. Kombinasi hiburan dan edukasi semacam ini memperkuat retensi pengetahuan dan menumbuhkan rasa suka terhadap proses belajar, bukan sekadar hasil akhir. Jika literasi didefinisikan sebagai kebiasaan memahami dunia lewat bahasa dan simbol, maka permainan tradisional adalah laboratorium kecil literasi yang sangat efektif.

Dari pesisir ke kampung: relevansi permainan tradisional di daerah minim sarana

Pertakid lahir dari konteks pesisir, tetapi pelajarannya relevan untuk banyak daerah yang minim akses fasilitas pendidikan modern. Permainan tradisional anak tidak membutuhkan perangkat mahal: cukup ruang terbuka, beberapa alat sederhana, dan panduan permainan yang memuat materi literasi. Penyerahan 15 paket Pertakid untuk disebarluaskan lewat jejaring PKK di kabupaten/kota NTB menunjukkan niat memperluas akses media belajar kreatif ke berbagai wilayah. Bunda Literasi Sinta Iqbal menegaskan bahwa Pertakid diharapkan berkembang bukan hanya untuk isu lingkungan, tetapi juga pencegahan bullying, pernikahan dini, kesehatan, dan isu sosial lain. Ini sinyal bahwa permainan tradisional bisa menjadi kurikulum berjalan di tengah kampung: anak-anak bermain, orang dewasa memfasilitasi, materi penting tentang kehidupan disisipkan. Ketimbang menunggu perpustakaan lengkap, pendekatan bermain sambil belajar membuat literasi berjalan dengan sumber daya lokal yang ada.

Menjaga budaya sambil membangun masa depan literat

Pertakid memperlihatkan bahwa merawat permainan tradisional bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi masa depan. Di satu sisi, anak dikenalkan kembali pada permainan tradisional anak yang perlahan tergeser gawai; di sisi lain, permainan itu diisi dengan muatan literasi anak edukatif yang relevan dengan tantangan zaman. Dengan dukungan Bunda Literasi dan jaringan PKK, Pertakid diharapkan dimanfaatkan di berbagai wilayah NTB sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada generasi muda. Masa depan literasi anak tidak harus bertumpu pada aplikasi digital dan konten impor. Kita punya modal budaya yang kaya; yang dibutuhkan adalah keberanian mendesain ulang permainan lokal menjadi pembelajaran berbasis permainan yang sistematis. Jika langkah seperti Pertakid diperluas dan didokumentasikan dengan baik, permainan tradisional dapat berdiri sejajar dengan metode formal sebagai salah satu pilar utama pendidikan anak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!