Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Fondasi UMARATU, Penenun Perempuan, dan Masa Depan Tenun Sumba

Fondasi UMARATU, Penenun Perempuan, dan Masa Depan Tenun Sumba
Minat|Industri Fashion

Tenun sebagai naskah bisu dan lahirnya Rumah Ibu Bumi

Fondasi UMARATU adalah rumah budaya yang memaknai tenun Sumba tradisional sebagai medium pengetahuan, identitas, dan memori kolektif, bukan sekadar kain indah, dengan menempatkan penenun perempuan sebagai penjaga utama warisan tekstil nusantara sekaligus penggerak pelestarian kerajinan lokal di komunitas mereka. Pandangan ini tegas menolak cara pandang turistik yang mereduksi tenun menjadi komoditas dekoratif. Asha Smara Darra menyebut tenun sebagai “naskah bisu yang menuturkan luhurnya peradaban Nusantara”, sebuah posisi yang menuntut kita memperlakukan penenun bukan sebagai buruh murah, tetapi sebagai pemilik pengetahuan. Dari kesadaran bahwa perempuan penenun merawat teknik, motif, material, dan nilai budaya turun-temurun, UMARATU lahir sebagai Rumah Ibu Bumi: ruang yang menaungi ekosistem tenun, memulihkan hubungan manusia dengan tradisi dan alam, sekaligus menegaskan bahwa pelestarian hanya mungkin jika keadilan bagi perempuan diakui.

Fondasi UMARATU, Penenun Perempuan, dan Masa Depan Tenun Sumba

UMARATU Foundation dan tiga pilar: sandang, pangan, papan

UMARATU Foundation sengaja dibangun di Maujawa, Sumba Timur, di tengah lima desa, agar budaya tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Lokasi ini adalah pernyataan politik: warisan tradisi bukan milik galeri di kota besar, melainkan hak komunitas yang melahirkannya. Sebagai rumah budaya, UMARATU menjadi ruang mengenal, meneliti, dan menjaga tradisi Sumba lewat tiga pilar; sandang, pangan, dan papan. Sandang memusatkan perhatian pada proses, teknik, dan cerita di balik kain, bukan hanya tampilan akhir. Pangan mengangkat pengetahuan lokal soal hasil alam dan cara mengolahnya sebagai bagian tak terpisah dari identitas budaya. Papan menyoroti arsitektur dan pemanfaatan material lokal, tercermin dari bangunan berbahan bambu yang menyatu dengan lingkungan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian kerajinan lokal harus ditopang oleh keberlanjutan komunitas secara utuh, bukan proyek seremonial sesaat.

Fondasi UMARATU, Penenun Perempuan, dan Masa Depan Tenun Sumba

Penenun perempuan sebagai pusat ekonomi dan pengetahuan

Selama seperempat abad menyelami dunia wastra, Asha memandang penenun perempuan sebagai sosok kunci yang membuat tradisi terus bernapas. Di tangan mereka, teknik pewarnaan, penyiapan benang, hingga penentuan motif diwariskan lintas generasi, menjadikan setiap helai tenun Sumba tradisional tak tergantikan. Namun penghargaan simbolik tanpa pemberdayaan ekonomi hanya akan melanjutkan ketimpangan. Di sinilah UMARATU Foundation penting: ia menggeser fokus dari sekadar mengoleksi kain ke membangun ekosistem yang memberi ruang tawar bagi perempuan penenun. Mereka bukan hanya penghasil produk, tetapi pemilik otoritas atas pengetahuan, sehingga narasi dan harga diri melekat pada karya. Tenun Indonesia bukan sekadar lembaran kain, tetapi arsip hidup peradaban; jika penenun perempuan tetap dimarjinalkan, arsip itu perlahan akan hilang. Menguatkan posisi mereka berarti menguatkan masa depan warisan tekstil nusantara.

Fondasi UMARATU, Penenun Perempuan, dan Masa Depan Tenun Sumba

Membawa warisan ke ruang belajar: dari Sumba ke kelas menengah

Pelestarian warisan tekstil nusantara tidak cukup jika berhenti di desa atau galeri; generasi muda perlu ikut memaknai dan menggunakannya. Di tingkat sekolah menengah, pengenalan tenun kepada siswa menjadi strategi penting. SMAN 1 Sewon di Bantul mengajak 100 siswa kelas XI mengikuti kegiatan pengenalan tenun yang digelar Jumat, 4 September 2026, menjelang Hari Tenun Nasional 7 September. Dalam kerja sama dengan sebuah lembaga sosial yang fokus pada pelestarian tenun tradisional dan pemberdayaan perempuan, siswa belajar sejarah dan kekayaan tenun Nusantara serta mempraktikkan cara memadupadankan kain tenun dengan busana kekinian. Kepala sekolah menegaskan harapan agar pengetahuan itu tumbuh menjadi kecintaan dan komitmen melestarikan tenun sebagai produk lokal yang harus dipertahankan. Langkah semacam ini sejalan dengan semangat UMARATU: tenun harus hadir dalam ekspresi berpakaian generasi sekarang, bukan hanya di upacara adat.

25 tahun Oscar Lawalata dan mengembangkan, bukan membekukan tradisi

Selama 25 tahun, Oscar Lawalata konsisten membawa kain tradisional ke berbagai eksplorasi fesyen sambil memperkenalkan kekayaan budaya di baliknya. Setelah dua dekade lebih berkarya, ia memilih membangun UMARATU Foundation sebagai langkah baru yang memindahkan fokus dari runway ke akar tradisi. Pilihan ini penting: fesyen bisa mengangkat pamor wastra, tetapi tanpa basis riset dan kerja komunitas, pelestarian mudah jatuh pada fetisisasi motif. UMARATU menolak pelestarian yang memaksa tradisi “tetap sama”. Melalui riset dan pengembangan, warisan tradisi dijaga sambil dipelajari agar tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman. “Setelah 25 tahun mendedikasikan karyanya untuk kain Indonesia, UMARATU Foundation menjadi langkah baru Oscar Lawalata untuk membawa kecintaannya terhadap budaya ke ruang yang lebih luas.” Di tengah tumbuhnya minat anak muda pada kain tradisional dan kerajinan lokal, pendekatan ini mengajak kita melihat tenun sebagai pengetahuan yang terus diperbarui, bukan artefak beku di museum.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!