Dari Jawara ke Punah: Pelajaran dari LG, BlackBerry, dan Nokia

Dari Jawara ke Punah: Pelajaran dari LG, BlackBerry, dan Nokia
Minat|Memilih dan Membeli Ponsel

Inti Pelajaran: Inovasi Hebat Bukan Jaminan Kelangsungan Brand

Kegagalan LG, BlackBerry, dan Nokia di bisnis smartphone adalah kisah tentang bagaimana inovasi teknis yang canggih tetap bisa kalah ketika tidak ditopang strategi ekosistem, model bisnis, dan fokus jangka panjang yang jelas, sehingga brand ponsel punah bukan karena teknologi buruk, melainkan karena keputusan bisnis yang tidak selaras dengan perubahan pasar modern.

LG pernah berdiri sebagai rival serius iPhone melalui LG Prada, salah satu smartphone pertama dengan layar sentuh kapasitif yang bahkan hadir sebelum iPhone generasi pertama. Namun perjalanan panjang itu berakhir ketika LG resmi menghentikan bisnis smartphone secara permanen pada 31 Juli 2021. BlackBerry dan Nokia menyimpan kenangan positif di mata penggemar teknologi, tetapi nostalgia terbukti tidak cukup ketika konsumen dihadapkan pada pilihan smartphone modern yang lebih relevan dengan kebutuhan saat ini. Cerita tiga nama besar ini adalah peringatan: di industri ponsel, pemimpin pasar bisa berubah menjadi sejarah hanya dalam satu dekade.

Dari Jawara ke Punah: Pelajaran dari LG, BlackBerry, dan Nokia

LG: Dari Rival iPhone ke Pangsa Pasar 2 Persen

LG sering dicontohkan sebagai bukti bahwa “banyak teknologi canggih” tidak identik dengan bisnis yang sehat. Perusahaan ini menghadirkan ponsel dengan beragam sistem operasi, mulai dari platform berbasis Adobe Flash, Windows Mobile, Symbian, hingga Android. Di masa jayanya, LG mencatat sukses besar lewat LG G3 yang terjual lebih dari 10 juta unit secara global, sekaligus memosisikan diri dekat dengan kelas flagship. Bahkan, LG Prada pernah menjadi ikon awal ponsel layar sentuh kapasitif sebelum iPhone hadir di pasar.

Namun performa pasar menunjukkan arah sebaliknya. Secara global, pangsa pasar LG jatuh hingga hanya sekitar 2 persen pada 2020, menempatkannya di posisi kesembilan produsen smartphone dunia. Pada kuartal IV tahun itu, pengiriman smartphone LG sekitar 7,6 juta unit, jauh tertinggal dari Apple, Samsung, dan Xiaomi. Divisi mobile bahkan menanggung kerugian bertahun-tahun dengan nilai kumulatif sekitar Rp73 triliun sebelum akhirnya ditutup. Dalam konteks sejarah smartphone brand, LG keluar bisnis smartphone bukan karena miskin inovasi, melainkan karena kalah dalam perang volume, margin, dan ekosistem.

Dari Jawara ke Punah: Pelajaran dari LG, BlackBerry, dan Nokia

Persaingan, Kerugian, dan Strategi Keluar LG dari Bisnis Ponsel

Kerap terdengar argumen bahwa LG kurang berani berinovasi, padahal faktanya berkebalikan. Selain Prada dan G3, LG sempat bereksperimen melalui perangkat unik seperti LG Wing dan konsep LG Rollable. Masalahnya, inovasi bentuk tidak diikuti keberhasilan membangun ekosistem aplikasi, layanan, dan citra brand yang kuat di mata konsumen. Di segmen premium, LG harus berhadapan langsung dengan Apple dan Samsung; di segmen menengah dan entry-level, mereka ditekan produsen Cina seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo yang menawarkan spesifikasi agresif dengan harga lebih rendah.

Pada titik tertentu, bertahan berarti rugi berkepanjangan. Bisnis smartphone hanya menyumbang sekitar 7 persen dari total pendapatan grup LG, sehingga kontribusinya relatif kecil dibanding lini lain. LG sempat mencoba menjual sebagian bisnis smartphone ke Vingroup, tetapi gagal mencapai kesepakatan. Akhirnya LG memilih menghentikan bisnis smartphone dan mengalihkan sumber daya ke area dengan prospek lebih besar, seperti komponen kendaraan listrik, perangkat terhubung, rumah pintar, robotika, kecerdasan buatan, dan solusi B2B. Langkah ini terbukti berbuah positif karena sektor-sektor baru tersebut kini tumbuh dan menjadi penopang utama pendapatan perusahaan.

BlackBerry dan Nokia: Nama Besar yang Terjebak Nostalgia

Jika LG adalah contoh brand yang memilih mundur strategis, BlackBerry dan Nokia adalah contoh nama besar yang terseret waktu. Keduanya pernah mendominasi sejarah smartphone brand dengan karakter kuat: BlackBerry identik dengan keyboard fisik dan keamanan, sementara Nokia terkenal dengan ketahanan perangkat dan variasi model. Namun, ketika era smartphone layar sentuh modern dan ekosistem aplikasi kian menentukan, reputasi masa lalu tidak cukup mengimbangi kecepatan perubahan pasar.

Saat ini BlackBerry sudah tidak lagi memproduksi smartphone dan mengalihkan fokus ke bisnis perangkat lunak keamanan, komunikasi, dan layanan untuk sektor pemerintahan dan industri. Sementara itu, merek Nokia berada dalam masa transisi: HMD mulai mengurangi penggunaan nama Nokia pada smartphone dan membangun identitas mereknya sendiri, membuat masa depan HP Nokia tidak lagi sejelas ketika sempat bangkit di era Android beberapa tahun lalu. Kasus BlackBerry Nokia gagal Android menunjukkan bahwa masuk ke Android saja tidak menjamin kebangkitan bila ekosistem, diferensiasi, dan kejelasan posisi brand terlambat dirumuskan.

Apa Makna Kejatuhan Brand Ponsel Bagi Konsumen Hari Ini

Kematian bisnis smartphone LG dan pergeseran fokus BlackBerry serta Nokia menegaskan bahwa brand ponsel punah biasanya tumbang bukan pada inovasi hardware, tetapi pada pertarungan ekosistem, skala produksi, dan manajemen fokus bisnis. LG telah membuktikan bahwa keluar dari pasar smartphone dan memusatkan sumber daya pada komponen kendaraan listrik, perangkat terhubung, smart home, robotika, kecerdasan buatan, serta layanan B2B adalah langkah strategis untuk memperkuat bisnis inti mereka. BlackBerry pun memilih jalur serupa dengan konsentrasi pada perangkat lunak keamanan dan layanan industri.

Bagi konsumen yang mengikuti sejarah smartphone brand, pelajarannya jelas: masa lalu yang gemilang tidak menjamin masa depan yang stabil. Ketika sebuah brand tampak tertekan oleh persaingan dan belum memiliki ekosistem kuat, itu sinyal bahwa keberlanjutan lini smartphone mereka berisiko. Pada akhirnya, kejatuhan LG keluar bisnis smartphone dan transformasi BlackBerry Nokia gagal Android menjadi cermin bahwa di industri ini, yang bertahan bukan yang paling inovatif, melainkan yang paling cermat mengelola strategi dan fokus bisnis jangka panjang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!