Ritual Jam 10: Lagu Kebangsaan di Tengah Lintasan Rel
Tradisi kebangsaan harian di stasiun kereta api Serang adalah kebiasaan kolektif di mana seluruh penumpang dan petugas berdiri tegak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pukul 10.00 WIB sebagai pengingat bersama atas identitas, sejarah, dan rasa cinta tanah air yang menyatu dengan aktivitas transportasi publik sehari-hari.
Di Stasiun KA Serang, yang berada di Kampung Cimuncang, Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Provinsi Banten, lonceng jam 10.00 WIB bukan hanya tanda perjalanan kereta, tetapi juga tanda dimulainya ritual nasional pemersatu. Seluruh calon penumpang dan pekerja stasiun diminta berdiri, mengambil sikap sempurna, dan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya yang berkumandang dari pengeras suara. Dalam hitungan menit, ruang tunggu yang tadinya dipenuhi obrolan, dering ponsel, dan bunyi koper, berubah menjadi ruang hening yang dipenuhi suara satu lagu yang sama.
Ritual ini bukan sekadar menjalankan aturan formal. Arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo, yang mewajibkan seluruh stasiun kereta api memutar lagu Indonesia Raya setiap pukul 10.00 pagi, menemukan bentuk hidupnya di sini. Perintah yang di atas kertas bisa terasa kaku itu, di Stasiun KA Serang, menjelma menjadi kebiasaan yang perlahan mengakar dan mengubah cara orang memaknai pergerakan mereka setiap pagi.
Semua Ikut Berdiri: Komunitas Stasiun sebagai Miniatur Bangsa
Yang membuat tradisi ini menarik adalah cara ia merangkul semua orang tanpa kecuali. Komandan Regu Satpam Stasiun KA Serang, Dicky Febri, menegaskan bahwa setiap pagi mereka rutin mengajak semua calon penumpang dan seluruh pekerja stasiun untuk berdiri tegap saat lagu Indonesia Raya berkumandang. Tidak ada kursi istimewa, tidak ada garis pemisah antara seragam dan pakaian biasa; semua berdiri dalam sikap yang sama, menghadap arah yang sama.
Selama beberapa menit itu, stasiun kereta api Serang menjadi ruang setara. Penjual, pegawai loket, satpam, hingga penumpang dari berbagai tujuan mengambil bagian dalam ritual nasional pemersatu yang menyelinap di sela-sela rutinitas transportasi. Setelah lagu selesai, para penumpang kembali dipersilakan duduk dan semua pekerja melanjutkan aktivitas mereka seolah tak ada jeda. Namun, jeda singkat itu meninggalkan pesan: bahwa di tengah lalu-lalang, ada momen di mana semua orang diingatkan tentang rumah yang sama.
Dalam konteks tradisi kebangsaan harian, apa yang terjadi di stasiun ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan tidak harus menunggu upacara besar. Satu lagu yang dinyanyikan bersama, pada waktu yang sama, di tempat yang sibuk, cukup untuk menanamkan rasa bahwa komunitas stasiun adalah miniatur sebuah bangsa yang terus bergerak.
Antara Kaget dan Merinding: Reaksi Penumpang atas Tradisi Baru
Tidak semua orang datang ke stasiun dengan ekspektasi akan terlibat dalam tradisi kebangsaan harian. Hasan, calon penumpang berusia 57 tahun dengan tujuan Rangkasbitung, mengaku sempat heran ketika tiba-tiba mendengar lagu Indonesia Raya diputar di fasilitas umum seperti stasiun kereta api Serang. Ia mengaku kaget saat diminta berdiri oleh satpam dan menanyakan kepada petugas, dalam rangka apa kegiatan itu dilakukan.
Kebingungan Hasan bukan hal ganjil; banyak penumpang lain juga bertanya hal serupa. Namun begitu tahu bahwa pemutaran lagu kebangsaan ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo untuk seluruh stasiun kereta api setiap pukul 10.00 pagi, rasa kagetnya segera bercampur haru. Ia menyampaikan bahwa ini adalah pertama kalinya ia mendengar lagu kebangsaan diputar di stasiun, dan mengaku "merinding" saat menyanyikan lagu Indonesia Raya di tengah suasana keberangkatan.
Di sisi lain, pihak stasiun menyadari potensi gangguan ini. Dicky Febri mengatakan, mereka berharap para penumpang tidak terganggu dan bisa mendukung program semangat nasionalisme tersebut. Di sinilah tantangan tradisi baru: ia memaksa orang keluar sejenak dari kenyamanan rutinitas, bahkan mungkin dari jadwal yang ketat, untuk sebuah momen refleksi yang belum tentu semua orang siap menerimanya.
Patriotisme di Rel: Mengapa Lagu Kebangsaan Pantas Hadir di Ruang Publik
Terlepas dari rasa kaget atau canggung yang muncul, tradisi di stasiun kereta api Serang mengajukan pertanyaan penting: tempat apa yang lebih layak menjadi ruang penanaman patriotisme selain ruang publik yang menyentuh kehidupan sehari-hari? Dicky Febri menyebut momen menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai kesempatan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan menanamkan rasa cinta tanah air di dalam setiap aktivitas. Dengan kata lain, patriotisme tidak ditempatkan di podium, melainkan di peron.
Kegiatan ini juga dinyatakan sebagai bentuk komitmen KAI untuk menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik bagi negeri ini. Itu pernyataan yang patut diurai: transportasi tidak hanya mengangkut tubuh dan barang, tetapi juga nilai. Ketika ritual nasional pemersatu seperti ini disisipkan dalam sistem transportasi publik, perjalanan kereta api tidak lagi sekadar soal berangkat dan tiba, melainkan juga tentang diingatkan siapa kita bersama.
Tradisi kebangsaan harian seperti ini bisa diperdebatkan soal teknis dan kenyamanannya, tetapi sulit membantah dampak simboliknya. Lagu Indonesia Raya yang selama ini identik dengan upacara seremonial, di stasiun Serang turun ke rel kehidupan sehari-hari. Di tengah jadwal keberangkatan dan kedatangan, patriotisme menemukan bentuk yang sederhana namun kuat: berdiri beberapa menit, menyanyi bersama, lalu melanjutkan hidup dengan kesadaran sedikit lebih penuh.






