Keterampilan yang punya nilai pasar
Ecoprint adalah teknik membuat motif pada kain atau benda lain dengan memindahkan bentuk dan warna alami daun ke permukaan bahan, sehingga setiap hasilnya memiliki corak khas. Bagi UMKM, keterampilan ini dapat menjadi awal produk kreatif yang punya pembeda sekaligus peluang pasar.
Buktinya terlihat pada fesyen dan keramik ecoprint buatan UMKM Kota Tangerang yang telah menembus pasar luar negeri. Halida Srikandi, pelaku UMKM binaan PLN, mengatakan produknya mendapat pesanan berulang dari pembeli internasional. Pasarnya mencakup Inggris, Australia, Filipina, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Pencapaian ini menunjukkan bahwa produk berbasis teknik tradisional dan bahan alami tidak harus berhenti sebagai kerajinan lokal.
Keunikan motif yang disusun manual memberi fesyen ecoprint karakter yang sulit diseragamkan. Bagi usaha ecoprint UMKM, nilai tersebut dapat menjadi alasan kuat bagi konsumen untuk memilih produk, asalkan mutu, fungsi, dan konsistensi produksi tetap dijaga.

Pelatihan menjawab kebutuhan pelaku usaha
Pada Selasa, 3 November 2026, Hub UMKM PLN UID Banten menggelar Workshop Ecoprint di Kota Tangerang sebagai bagian dari program Workshop Milenial. Sebanyak 15 peserta mempelajari teknik ecoprint dan mempraktikkannya pada media mug. Kegiatan ini bukan sekadar demonstrasi kerajinan: peserta mendapat kesempatan mencoba prosesnya sendiri, langkah penting untuk menilai apakah keterampilan tersebut cocok dikembangkan menjadi produk.
Pelatihan ecoprint itu diselenggarakan setelah pelaku UMKM binaan meminta lebih banyak pembelajaran di bidang ekonomi kreatif dan kerajinan. Kebutuhannya nyata: menurut data internal Hub UMKM PLN UID Banten, baru sekitar satu hingga dua UMKM di Kota Tangerang yang bergerak di bidang ecoprint. Ruang untuk pendatang baru terbuka, tetapi pelatihan perlu diikuti eksplorasi desain dan pemahaman produksi agar produk tidak berhenti sebagai hasil latihan.
Halida menjadi contoh bagaimana keterampilan bisa tumbuh bertahap. Ia mengenal ecoprint saat pandemi, belajar melalui lokakarya daring lalu memperdalam teknik lewat pelatihan langsung. Pesanan dari rekan kerja mengubah hobi itu menjadi usaha dan kemudian berkembang menjadi Mooladara Eco Fashion.
Dari praktik menuju usaha yang siap tumbuh
Pelatihan hanya bernilai jika ada jalan untuk menguji produk di hadapan pembeli. Karena itu, tindak lanjut sama pentingnya dengan keterampilan awal: peserta mendapatkan pemantauan untuk melihat penerapan ilmu, sementara Hub UMKM dapat membantu membuka akses pasar melalui bazar dan Galeri Jawara bagi produk yang dinilai berpotensi.
Dukungan praktis juga tersedia di luar kelas. Hub UMKM membina sekitar 500 UMKM di berbagai kabupaten dan kota di Banten, dengan pendampingan yang dapat mencakup legalitas, desain kemasan, stiker, logo, hingga sertifikasi halal. Ini penting karena motif menarik saja tidak cukup: produk perlu dikemas, dipasarkan, dan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Peserta yang tertarik membuat ecoprint secara mandiri pun memerlukan ruang belajar lanjutan. Seorang peserta ingin mempelajari teknik pada kain di pelatihan berikutnya, sementara peserta lain berharap kegiatan serupa terus diadakan. Pendekatan bertahap seperti ini lebih masuk akal daripada menganggap satu lokakarya langsung melahirkan usaha siap ekspor.
Kreativitas perlu disambungkan dengan pasar
Peluang ecoprint bukan hanya soal memakai daun untuk menghasilkan motif. Pelaku usaha perlu mengembangkan desain yang punya identitas, memilih media yang sesuai, menjaga kualitas, dan mencari saluran penjualan. Pelatihan memberi titik mula; pendampingan dan akses pasar membantu keterampilan itu berubah menjadi kegiatan usaha yang berkelanjutan.
Kisah produk ecoprint ekspor dari Tangerang menunjukkan potensi yang dapat dicapai, tetapi bukan jaminan bahwa setiap peserta akan segera memperoleh pesanan luar negeri. Nilai pelatihan terletak pada perluasan pilihan: UMKM dapat mencoba produk baru, menguji respons pembeli, lalu menyempurnakan proses dan pemasaran. Pengalaman Halida juga memperlihatkan pentingnya berbagi pengetahuan agar lebih banyak orang melihat potensi ekonomi dari bahan alami di sekitarnya.
Kesimpulannya, pelatihan ecoprint paling efektif ketika keterampilan kreatif disertai praktik, pendampingan, dan akses untuk memperkenalkan produk kepada pasar. Dengan bekal itu, lebih banyak UMKM berpeluang mengubah kreativitas menjadi usaha yang khas—dan, seperti yang telah dicapai pelaku di Tangerang, mungkin menjangkau pembeli lintas negara.






