Temuan pada bayi menuntut perubahan fokus
Stunting adalah gangguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi kronis yang perlu dicegah sejak sebelum kehamilan dan selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan, bukan hanya ditangani setelah dampaknya terlihat. Di Blora, temuan stunting bayi usia 0–5 bulan menjadi perhatian pemerintah daerah karena kelompok ini mendominasi kasus baru hingga September 2026. Wakil Bupati sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Blora, Sri Setyorini, mengangkat persoalan tersebut dalam rapat koordinasi pada Kamis, 22 Oktober 2026. Pesannya tepat: intervensi yang baru bergerak setelah masalah gizi muncul berarti kehilangan kesempatan penting untuk mencegahnya. Namun, peringatan saja tidak cukup. Tantangannya adalah memastikan layanan dan dukungan keluarga tersedia lebih awal, terutama bagi ibu dan bayi yang menghadapi risiko.
Data harus menentukan sasaran, bukan berhenti di rapat
Data memberi pemerintah petunjuk tentang tempat yang perlu didahulukan. Untuk Semester I 2026, Kunduran, Jepon, Tunjungan, dan Cepu disebut memerlukan perhatian lebih; sementara itu, Kunduran mencatat kasus baru tertinggi hingga September. Sri Setyorini meminta perangkat daerah memakai temuan tersebut untuk merancang intervensi sesuai kebutuhan lapangan, dengan sasaran jelas dan hasil terukur. Ia juga meminta OPD yang memiliki anggaran terkait stunting memaparkan capaian, penerima manfaat, kegiatan, dan dokumentasi, lalu menyatakan akan mengevaluasi tindak lanjutnya di lapangan. Pengawasan semacam ini penting: program tidak semestinya dinilai dari daftar kegiatan, melainkan dari apakah keluarga yang membutuhkan benar-benar menerima layanan. Pemerintah menyebut progres Aksi Konvergensi telah mencapai nilai 80 per 14 Oktober 2026; angka itu perlu dibaca bersama dampak nyata pada warga.
Pencegahan perlu hadir dari kehamilan hingga lingkungan
Rangkaian pencegahan yang disiapkan mencakup pemeriksaan kehamilan enam kali, makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita dengan masalah gizi, imunisasi lengkap, tablet tambah darah bagi remaja putri, serta pendampingan Tim Pendamping Keluarga. Pemkab juga mengalokasikan anggaran pada 2026, termasuk untuk Program GENTING dan bantuan makanan tambahan bagi kelompok sasaran tersebut. Dinas Kesehatan dan puskesmas diminta memperkuat deteksi dini ibu hamil berisiko dan bayi berat lahir rendah, serta mendampingi bayi usia 0–24 bulan. Dalduk KB bersama tim pendamping diminta lebih sering mengunjungi keluarga berisiko, sedangkan dinas terkait dan pemerintah desa diminta mempercepat perbaikan sanitasi serta akses air minum aman. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting bukan urusan makanan saja: layanan kesehatan, pemantauan, kunjungan keluarga, dan lingkungan sehat harus berjalan beriringan.
Ukuran keberhasilan adalah tindak lanjut
Perhatian pada stunting usia dini akan berarti jika koordinasi berubah menjadi layanan yang benar-benar menjangkau keluarga. Temuan tentang BBLR, alat ukur Posyandu yang rusak, diare dan pneumonia pada balita, serta akses sanitasi dan air aman yang belum optimal memperlihatkan adanya hambatan di luar pemenuhan gizi. Karena itu, evaluasi tidak boleh berhenti pada kelengkapan laporan atau capaian administratif. Sri Setyorini berharap perangkat daerah memperkuat koordinasi, menjadikan data dasar kebijakan, dan melaporkan tindak lanjut secara berkala; ia menargetkan seluruh kewajiban Aksi Konvergensi diselesaikan dengan baik pada akhir 2026. Kesimpulannya, Blora telah mengidentifikasi urgensi dan menyebut langkah yang relevan. Kini ukuran keberhasilan pencegahan stunting adalah apakah dukungan itu datang cukup dini, tepat sasaran, dan terasa dalam kehidupan keluarga.






