Mahasiswa Psikologi Turun Tangan dalam Trauma Healing Bencana

Mahasiswa Psikologi Turun Tangan dalam Trauma Healing Bencana
Minat|Kesehatan Mental

Trauma Healing Bukan Layanan Tambahan, Melainkan Inti Respons Bencana

Trauma healing bencana adalah serangkaian intervensi psikologis dan dukungan psikososial yang dirancang untuk membantu korban, terutama anak-anak, memproses ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian setelah bencana alam, agar pemulihan mental korban berjalan seiring dengan pemulihan fisik dan sosial mereka. Di tengah gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 dan meruntuhkan rumah, tempat berkumpul, bahkan merenggut anggota keluarga, pertanyaan utama seharusnya bukan sekadar seberapa cepat tenda berdiri, tetapi seberapa cepat jiwa yang retak dibantu dirapikan. Ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming menggandeng enam mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia untuk memimpin trauma healing anak-anak pengungsi gempa di Kabupaten Sikka pada 20 Agustus 2026, negara mengirim pesan jelas: psikologi korban gempa adalah urusan publik, bukan sekadar masalah pribadi yang diserahkan pada waktu.

Mahasiswa Psikologi Turun Tangan dalam Trauma Healing Bencana

Mahasiswa Psikologi di Baris Depan: Dari Teori ke Tenda Pengungsian

Keterlibatan enam mahasiswa Fakultas Psikologi UI dalam kegiatan trauma healing di Stadion Gelora Samador, Maumere, bukan detail kecil yang bisa dilewatkan. Mereka mengajak anak-anak pengungsi bermain, menjawab pertanyaan, dan mengikuti berbagai aktivitas dengan hadiah mainan dan alat tulis sebagai penguat rasa aman. Di sini, dukungan psikososial hadir bukan dalam bentuk ceramah, melainkan relasi: tatapan yang menyimak, permainan yang mengembalikan tawa, struktur kegiatan yang menandai bahwa hidup masih punya ritme. Penanganan pascabencana di Sikka yang eksplisit tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat, khususnya anak-anak, menunjukkan pergeseran penting dalam respons bencana alam: generasi muda, dengan pengetahuan psikologi dan empati segar, bukan lagi penonton, melainkan pelaksana langsung pemulihan mental korban.

Ketika Negara Mengajak Kampus: Kolaborasi yang Mengubah Paradigma

Kolaborasi antara pemerintah dan institusi pendidikan dalam trauma healing bencana di Sikka adalah contoh konkret bagaimana kebijakan bisa memanggil ilmu pengetahuan turun ke lapangan. Pemerintah menegaskan bahwa dalam penanganan darurat, keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan mendesak harus menjadi prioritas, tanpa meninggalkan wilayah sulit diakses seperti permukiman pegunungan. Namun di kunjungan yang sama, mahasiswa psikologi hadir mendampingi, sementara relawan dapur umum memastikan asupan gizi pengungsi terpenuhi. Ini bukan lagi model negara bekerja sendiri, tetapi ekosistem respons bencana alam yang memadukan logistik, kesehatan fisik, dan pemulihan mental korban. “Pemerintah mendorong generasi muda untuk hadir dan memberikan kontribusi sesuai kapasitas serta keahlian yang dimiliki” adalah kalimat penting: ia membuka pintu bagi kampus-kampus lain untuk mengintegrasikan respons krisis kemanusiaan ke dalam kurikulum dan praktik lapangan.

Anak-Anak, Pertanyaan Sederhana, dan Luka yang Tak Terlihat

Momen ketika Wapres bertanya kepada anak-anak di tenda pengungsian apakah mereka sudah makan, dan saat ia menggendong bayi perempuan yang baru lahir di rumah sakit lapangan, mungkin tampak sepele di tengah laporan tentang rumah rusak, rumah sakit terganggu, gereja dan pelabuhan yang terdampak, serta ancaman gempa susulan. Namun di sanalah psikologi korban gempa menemukan bentuk paling konkret: memberi kepastian bahwa hidup masih dijaga, bahwa negara tidak hanya menghitung kerusakan tetapi menghitung manusia. Buku, mainan, susu, dan perlengkapan bayi yang dibagikan menjadi bagian dari dukungan psikososial, bukan sekadar bantuan material. Di luar tenda, dunia membicarakan infrastruktur; di dalam tenda, seorang bayi lahir, dan mahasiswa psikologi belajar bahwa respons bencana alam adalah tentang mengawal kelahiran harapan di tengah puing-puing.

Mengapa Generasi Muda Harus Terus Turun Tangan

Keterlibatan mahasiswa psikologi dalam pemulihan mental korban gempa di Sikka adalah titik awal, bukan puncak. Gempa berkekuatan 7,7 dengan korban meninggal yang bertambah hingga 75 orang dan ancaman putusnya Jalan Trans Flores mengingatkan bahwa skala bencana alam semakin besar, sehingga kapasitas respons harus ikut berkembang. Generasi muda menawarkan tiga hal yang krusial: pengetahuan mutakhir tentang trauma, energi untuk bekerja langsung di lapangan, dan keberanian mempertanyakan paradigma lama yang hanya mengutamakan bangunan, bukan manusia. Ketika pemerintah mengakui pentingnya keterlibatan mereka dan mendorong kontribusi sesuai keahlian, itu seharusnya dibaca sebagai mandat. Mahasiswa psikologi, dan mahasiswa dari disiplin lain, perlu melihat tenda pengungsian sebagai ruang belajar dan ruang pengabdian. Konklusinya tegas: tanpa generasi muda di garis depan dukungan psikososial, trauma healing bencana akan tetap menjadi slogan, bukan gerakan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!