Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kenaikan Kelas Harus Mengukur Kompetensi dan Karakter

Kenaikan Kelas Harus Mengukur Kompetensi dan Karakter
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Kenaikan kelas bukan sekadar rutinitas

Kenaikan kelas siswa adalah keputusan sekolah untuk menentukan apakah seorang peserta didik telah menguasai bekal belajar dan menunjukkan perkembangan yang cukup untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya. Karena itu, kenaikan kelas tidak semestinya menjadi formalitas tahunan yang otomatis mengikuti pertambahan usia.

Wacana mengakhiri kenaikan otomatis kembali menjadi perhatian sejak pertengahan Oktober 2026. Kemendikdasmen berencana menerapkannya mulai tahun ajaran 2027/2028, tetapi kebijakan tersebut belum berlaku. Pada 17 Oktober, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan kajian masih berjalan dan pemerintah tengah menyiapkan peraturan menteri beserta petunjuk teknis.

Perdebatan ini menyentuh kebiasaan yang sudah lama dianggap lumrah: banyak keluarga memandang kenaikan kelas sebagai akibat alami dari bertambahnya usia, bukan verifikasi atas capaian belajar. Mengubah kebiasaan itu masuk akal, tetapi keberhasilan kebijakan tidak akan ditentukan oleh ketegasan aturan semata. Ukurannya adalah apakah sekolah mampu menilai anak dengan cermat, menjelaskan keputusan secara terbuka, dan memberi dukungan sebelum menentukan hasil.

Kompetensi dan karakter harus dinilai bersama

Akademisi Unismuh Palu, Dr. Moh Rizal Masdul, menilai kenaikan kelas perlu mencerminkan penguasaan materi sekaligus perkembangan karakter. Pendidikan, menurut pandangan ini, bukan sekadar memindahkan siswa dari satu tingkat ke tingkat lain, melainkan memastikan mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan untuk menghadapi pembelajaran berikutnya.

Penekanan pada kompetensi siswa juga dapat mengoreksi anggapan bahwa usaha belajar tidak berpengaruh pada hasil. Masdul menyoroti fenomena “Rajin Malas Sama Saja”, ketika siswa yang bersungguh-sungguh dan yang kurang berupaya dinilai memperoleh hasil serupa. Jika kesan itu dibiarkan, motivasi siswa yang tekun bisa terkikis. Pemerintah berharap standar yang lebih bermakna mendorong siswa belajar lebih sungguh-sungguh dan menguasai materi, bukan sekadar mengejar kenaikan.

Namun, karakter siswa tak boleh berubah menjadi ukuran yang kabur atau alat untuk menghukum. Kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, keaktifan, dan perkembangan sikap perlu dipertimbangkan secara jelas bersama capaian akademik. Penilaian yang hanya bertumpu pada angka akan mengabaikan perkembangan anak; penilaian karakter tanpa kriteria yang transparan pun berisiko tidak adil.

Keputusan sulit harus disertai pendampingan

Kekhawatiran bahwa kebijakan ini akan membuat anak takut gagal patut dijawab dengan sistem dukungan, bukan dengan mempertahankan kenaikan otomatis. Kemampuan dan kecepatan belajar setiap anak berbeda. Ketika seorang siswa belum mencapai kompetensi yang disyaratkan, sekolah perlu mencari penyebabnya terlebih dahulu, lalu menyediakan pendampingan, pembelajaran tambahan, dan kesempatan memperbaiki hasil sebelum keputusan dibuat.

Dengan pendekatan itu, siswa tidak naik kelas tidak semestinya dipandang sebagai anak gagal, hukuman, atau aib. Keputusan tersebut hanya dapat dibenarkan bila bertujuan memastikan kemampuan dasar siswa cukup untuk mengikuti jenjang berikutnya, serta didasarkan pada penilaian objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Guru berperan penting bukan hanya dalam memberi nilai, tetapi juga memahami kesulitan belajar dan membimbing siswa.

Tantangannya ada pada pelaksanaan: aturan teknis harus memberi sekolah pedoman yang konsisten, sementara keluarga perlu memperoleh penjelasan yang mudah dipahami. Tanpa itu, kebijakan berisiko memperlebar ketimpangan antara siswa yang mendapat bantuan dan mereka yang tertinggal tanpa dukungan. Standar yang lebih tegas seharusnya berjalan seiring dengan kesempatan belajar yang lebih baik.

Standar baru harus berarti kemajuan belajar

Rencana kenaikan kelas tidak otomatis layak didukung jika benar-benar mengembalikan makna keputusan sekolah pada penguasaan kompetensi dan perkembangan karakter. Tetapi menahan siswa di kelas yang sama bukan tujuan pendidikan. Tujuannya ialah memastikan mereka siap melanjutkan, dan membantu mereka mencapai kesiapan itu melalui pembelajaran yang sesuai.

Pemerintah masih mengkaji kebijakan dan menyiapkan peraturan serta petunjuk teknis untuk target penerapan 2027/2028. Tahap persiapan ini seharusnya digunakan untuk menetapkan kriteria yang adil, memperkuat pendampingan, dan memastikan keputusan sekolah dapat dijelaskan kepada siswa maupun keluarga. Tanpa unsur tersebut, kenaikan kelas yang lebih selektif hanya akan menambah kecemasan.

Kesimpulannya, kenaikan kelas harus menjadi cermin kemajuan, bukan hadiah otomatis ataupun ancaman. Kebijakan ini akan meningkatkan motivasi dan penguasaan materi hanya bila standar kompetensi disertai penilaian karakter yang terukur serta dukungan nyata bagi siswa yang kesulitan. Ketegasan penting; keadilan dan pembinaan menentukan apakah ketegasan itu mendidik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!