GENERASI Trakindo: Dari Program CSR Menjadi Gerakan Sekolah Ramah Anak
Program GENERASI Trakindo adalah inisiatif inovasi pendidikan dasar yang mendorong sekolah negeri tingkat SD dan SMP membangun budaya sekolah ramah anak melalui metode challenge based learning, dengan cara menempatkan siswa sebagai penggagas solusi atas masalah nyata di lingkungan sekolah mereka, bukan sekadar penerima instruksi guru. Program ini lebih layak disebut gerakan, karena mengubah cara sekolah memaknai partisipasi siswa dan pembelajaran. Bukan lagi soal menyelesaikan proyek tugas, melainkan mengidentifikasi tantangan sehari-hari—dari perundungan verbal hingga akses layanan konseling—lalu mengubahnya menjadi aksi kolektif. Hingga 2026, Program GENERASI Trakindo telah menjangkau 205 sekolah, terdiri dari 30 sekolah mitra dan 175 sekolah imbas di 18 provinsi, dengan lebih dari 150 inovasi yang lahir sejak 2021. Angka ini menandakan satu hal: ketika diberi ruang dan dukungan, siswa mampu menjadi motor perubahan sosial di sekolah.
Challenge Based Learning: Ketika Masalah Sehari-hari Menjadi Katalis Perubahan
Inti kekuatan Program GENERASI Trakindo ada pada challenge based learning (CBL): pendekatan yang memulai pembelajaran dari persoalan nyata yang dirasakan langsung oleh siswa. Di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, kebiasaan mengejek nama orang tua dan berkata kasar yang dianggap candaan tetapi memicu konflik, diangkat menjadi tantangan utama. Alih-alih diberi ceramah, siswa merancang "Papan Kompas (Kontrol Mulut Pastikan Sopan)", permainan edukatif dengan sistem penghargaan dan konsekuensi untuk mengendalikan ucapan. Di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, masalahnya berbeda: rasa enggan datang ke ruang BK karena takut dicap bermasalah. Jawaban mereka adalah "Perisai Pintar", aplikasi curhat anonim yang membuat siswa bisa menyampaikan kegelisahan tanpa stigma dan didukung 60% siswa berdasarkan observasi. CBL di sini tidak berhenti pada produk, melainkan membentuk keberanian siswa melihat ketidaknyamanan sebagai sesuatu yang layak diperbaiki bersama.
Sekolah Ramah Anak: Bukan Label, Melainkan Ekosistem Kesejahteraan
Program GENERASI Trakindo tegas menempatkan tema sekolah ramah anak sebagai kerangka utamanya. Konsep ini bukan sekadar poster di dinding, melainkan integrasi antara inovasi pembelajaran, pembangunan karakter, dan kesejahteraan emosional siswa. Dimulai dari hal sederhana: merasa aman berbicara, dihargai teman, dan tahu ke mana mencari bantuan saat menghadapi masalah. Di Pelambuan, dampaknya langsung terasa di kelas: "Suasana kelas menjadi lebih damai dan saling menghargai. Yang paling terasa bukan hanya berkurangnya kata-kata kasar, tetapi juga tumbuhnya sikap saling menghargai antarteman sekelas," ujar Nur Fazrian, perwakilan kelompok siswa. Di Lubuk Pakam, Perisai Pintar menjadi ruang alternatif bagi siswa yang kesulitan curhat secara langsung; Angelika Patresia Gultom menyebut aplikasi ini sebagai tempat untuk "berkeluh kesah" ketika perasaan tidak didengar. Sekolah ramah anak, dalam praktik ini, berarti memberikan legitimasi pada suara anak dan rasa aman mereka.
Kolaborasi Sekolah Mitra dan Imbas: Model Replikasi Praktik Baik
Ekspansi ke 205 sekolah—30 mitra dan 175 imbas—bukan sekadar perluasan jumlah, tetapi pembentukan model kolaborasi antar sekolah. Sekolah mitra berfungsi seperti laboratorium inovasi: mendapatkan pendampingan intensif, fasilitas riset, pendanaan, trainer, dan pelatihan Sekolah Ramah Anak. Inovasi yang lahir kemudian "menyebar" ke sekolah imbas, bukan sebagai paket solusi siap pakai, melainkan inspirasi yang disesuaikan dengan konteks lokal masing-masing. Sejak 2021, lebih dari 150 inovasi tercatat lahir dari ekosistem ini dan disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan sekolah. Di level guru, CBL memberi pengalaman mengajar yang berbeda; guru BK di Lubuk Pakam, Mennusuriani Saragih, melihat siswa lebih mampu bekerja sama dan bergotong royong menjalankan program. Pola ini penting: inovasi pendidikan dasar tidak bergantung pada satu sekolah unggulan, melainkan jaringan sekolah yang saling belajar dan berbagi praktik baik.
Pelajaran Penting: Memberi Ruang Bagi Anak Mengelola Masalahnya Sendiri
Pelajaran paling tajam dari Program GENERASI Trakindo adalah bahwa transformasi sekolah ramah anak berawal dari pengakuan bahwa siswa mampu membaca dan mengelola masalah mereka sendiri. Guru berperan sebagai pendamping, bukan penentu tunggal jawaban; perkembangan siswa dipantau melalui jurnal kelas, sementara proses merancang solusi dianggap sama pentingnya dengan hasil akhir. Program ini memperlihatkan bahwa konsep sekolah ramah anak dapat dibangun dari persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa, dan ketika anak diberi ruang untuk bersuara, mendapatkan kepercayaan, serta dilibatkan dalam proses perubahan, sekolah berubah menjadi ruang tumbuh kepedulian dan kemampuan memecahkan masalah. Ke depan, tantangannya bukan sekadar memperluas angka sekolah peserta, tetapi menjaga agar semangat challenge based learning tetap hidup: membiarkan gagasan anak memimpin, dan membuat kebijakan sekolah mengikuti, bukan sebaliknya.





