Pembinaan yang menjawab kebutuhan usaha
Pembinaan usaha kecil adalah upaya membekali pelaku dan calon wirausaha dengan pengetahuan serta kebiasaan praktis untuk memulai, mengelola, dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan. Dua kegiatan di Palu dan Sleman memperlihatkan mengapa pendekatan semacam ini perlu berangkat dari kebutuhan nyata, bukan sekadar mendorong orang untuk berjualan. Di Palu, pemerintah kota menggelar pelatihan wirausaha pemula bagi 160 peserta selama tiga hari, 28–30 Oktober 2026, di Gedung Media Center Universitas Tadulako. Program ini menekankan bekal untuk menjalankan usaha dan memahami manajemen. Sementara itu, dosen kewirausahaan Universitas Widya Mataram (UWM), Dr. Bhenu Artha, memberikan penyuluhan kewirausahaan kepada anggota PKK Padukuhan Kepitu, Sleman, pada 25 Oktober. Perbedaan sasaran itu penting: calon wirausaha membutuhkan fondasi untuk memulai, sedangkan usaha rumahan yang sudah berjalan perlu membenahi praktik sehari-hari.
Palu menekankan fondasi manajemen
Pelatihan Pemkot Palu diarahkan kepada wirausaha pemula yang perlu mengubah keberanian memulai menjadi kemampuan mengelola bisnis. Tujuannya mencakup bekal pengetahuan dan keterampilan untuk memulai, mengelola, serta mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Penekanan pada manajemen usaha UMKM bukan perkara administratif belaka: tanpa pemahaman tentang cara mengatur kegiatan bisnis, semangat membuka usaha belum tentu cukup untuk menjaga keberlangsungannya. Pemerintah kota juga menempatkan penguatan UMKM dalam konteks pemulihan daerah. Sektor ini menjadi salah satu kekuatan yang membantu Palu bangkit setelah bencana pada 2018. Dengan 160 peserta, program tiga hari tersebut menunjukkan peran pemerintah daerah dalam menjangkau calon pelaku usaha melalui pelatihan terstruktur. Namun, agar pembekalan tentang inovasi usaha kecil berbuah perubahan, materi manajemen perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang bisa diterapkan setelah peserta kembali menjalankan usahanya.
Di Kepitu, pembenahan dimulai dari rumah
Penyuluhan UWM memilih sasaran yang lebih spesifik: ibu-ibu PKK Padukuhan Kepitu yang mengelola atau ingin merapikan usaha rumahan. Bhenu mengangkat data bahwa 64,5% UMKM dikelola perempuan, lalu menunjukkan hambatan yang dekat dengan keseharian: 45% mencampur uang usaha dengan belanja rumah tangga, 25% kehilangan catatan utang pelanggan, 20% salah menghitung harga pokok, dan 10% menghadapi bahan baku rusak yang tidak terjual. Ia menyebut gejala “laris tapi kosong”: dagangan habis, tetapi modal menipis karena pemasukan tak tercatat dan dipakai untuk kebutuhan dapur. Responsnya bersifat praktis: memisahkan keuangan dan menertibkan administrasi, meningkatkan mutu kemasan, serta memasarkan produk lewat ponsel dan memakai QRIS. Peserta menutup kegiatan dengan komitmen memisahkan dompet usaha dan mencatat penjualan setiap malam.
Dua jalur, satu tujuan naik kelas
Kedua kegiatan sebaiknya dilihat sebagai jalur yang saling melengkapi, bukan model pembinaan yang saling menggantikan. Pemerintah kota menjangkau kelompok wirausaha pemula melalui pelatihan bersama yang menekankan kemampuan memulai dan mengelola bisnis. Pengabdian perguruan tinggi UWM hadir lebih dekat dengan komunitas tertentu, membahas masalah usaha rumahan secara konkret dan mendorong perubahan kebiasaan yang bisa dimulai segera. Perbedaan skala dan sasaran itu menentukan bentuk dukungan yang dibutuhkan: peserta pemula memerlukan dasar manajemen, sementara pelaku usaha rumahan membutuhkan langkah sederhana agar arus uang, catatan, produk, dan pemasaran lebih tertata. Ukuran pembinaan yang baik bukan hanya jumlah peserta atau terselenggaranya penyuluhan, melainkan apakah bekal tersebut membantu usaha bertahan dan berkembang. Karena itu, pelatihan wirausaha pemula dan penyuluhan kewirausahaan sama-sama penting ketika isi program sesuai dengan tahap usaha pesertanya.






