Saat Runway Menjadi Panggung Maternitas
Desain kontroversial di London Fashion Week kontrovers merujuk pada momen ketika busana haute couture memanfaatkan simbol tubuh dan pengalaman keibuan, seperti laktasi, untuk menciptakan pernyataan visual yang kuat di runway, sehingga memicu perdebatan apakah fashion show seni tubuh masih berbicara tentang ekspresi artistik atau telah bergeser menjadi sekadar sensasi yang bertumpu pada kejut dan polemik publik. Pada hari terakhir ajang tersebut, peragaan label Di Petsa menempatkan Leigh-Anne Pinnock penampilan sebagai pusat eksperimen visual itu. Penyanyi yang sedang hamil anak ketiga ini melangkah di catwalk dengan desain gaun inovatif: setelan putih two-piece yang mengekspos perutnya yang membesar, lengkap dengan cape dramatis yang menguatkan kesan teatral. Di sini, tubuh maternitas bukan disembunyikan, melainkan dijadikan layar utama.

Gaun Putih dengan Efek Laktasi: Antara Puisi dan Pertunjukan
Pertunjukan mencapai titik klimaks ketika Leigh-Anne berhenti di tengah panggung dan dikelilingi sekelompok perempuan berbusana pink dengan rambut basah, menciptakan komposisi seperti ritual keibuan modern. Tiba-tiba, cup bra di atasan two-piece itu mengeluarkan cairan yang menyerupai air susu ibu, menjadikan sang bintang tampak seperti patung air mancur hidup. Menurut label, fitur efek laktasi ini adalah “respons terhadap naluri keibuan, sebuah tubuh dan aksi merawat sebagai sebuah pentas, yang memperlihatkan gestur intim di sebuah dunia yang sangat terkonstruksi dalam bentuk peragaan busana.” Pernyataan itu jelas bernada puitis: Di Petsa ingin fashion show seni tubuh yang merayakan maternitas sebagai performa, bukan sekadar fungsi biologis. Namun dengan menjadikan laktasi sebagai spektakel di depan kamera, desain gaun inovatif ini sekaligus mengundang pertanyaan: kapan puisi berakhir dan pertunjukan dimulai?
Reaksi Publik: Apresiasi Seni vs Tuduhan Seksualisasi
Tidak mengherankan, Leigh-Anne Pinnock penampilan ini berujung viral dengan reaksi yang terbelah. Di satu sisi, ada yang memuji keberanian mengangkat tubuh hamil dan tema menyusui ke ruang yang biasanya dilapisi glamor abstrak. Di sisi lain, kritik berdatangan, terutama dari mereka yang menilai laktasi terlalu sakral untuk dijadikan efek panggung. Seorang pengguna Instagram mengecam, “Menyusui adalah bagian terpenting dalam kehidupan seorang anak. Bukan untuk diseksualisasikan atau menjadi sesuatu yang menjijikan. Ini sungguh tak dapat diterima dan perlu dihapus.” Komentar lain menyebut penampilan itu “merendahkan nilai kemanusiaan” dan “sangat menyedihkan”. Di balik kalimat pedas tersebut, tampak ketegangan klasik: ketika fashion mencoba mendorong batas representasi tubuh, sebagian publik menyamakan keberanian visual dengan eksploitasi emosional.
Fashion, Tubuh, dan Maternitas: Batas Halus antara Representasi dan Eksploitasi
Kontroversi ini menunjukkan betapa rapuhnya garis antara penghormatan dan komodifikasi ketika tubuh ibu dihadirkan di runway. Di Petsa bukan asing dengan tema menyusui; label ini sebelumnya merilis atasan berbentuk korset yang ramah ibu menyusui, dengan desain asimetris yang hanya menutupi satu payudara. Upaya itu bisa dibaca sebagai usaha praktis dan simbolik: mengakui kebutuhan fungsional sekaligus menormalkan bentuk tubuh yang berubah. Namun efek laktasi di London Fashion Week kontrovers terasa melangkah lebih jauh: bukannya memfasilitasi ibu, ia menjadikan pengalaman menyusui sebagai citra dramatis untuk dinikmati penonton. Fashion show seni tubuh memang berhak mengeksplorasi maternitas, tetapi ketika air susu ibu diubah menjadi efek panggung, wajar jika sebagian orang merasa pengalaman intim itu diciutkan menjadi gimmick runway.
Kesimpulan: Perlu Etika Baru dalam Eksperimen Fashion
Penampilan Leigh-Anne Pinnock dengan gaun putih dan efek laktasi di London Fashion Week adalah penanda bahwa industri mode kian berani menjadikan tubuh dan keibuan sebagai tema utama, bukan latar belakang dekoratif. Di satu sisi, ini membuka ruang bagi narasi yang lebih jujur tentang kehamilan dan menyusui; di sisi lain, risiko sensasionalisasi mengintai setiap kali pengalaman intim diubah menjadi tontonan. Kontroversi ini berarti fashion tidak cukup berlindung di balik label “seni” saat bermain dengan simbol seperti ASI: ia membutuhkan etika representasi yang mengakui sensitivitas, sejarah, dan makna emosional di baliknya. Jika haute couture ingin terus bereksperimen dengan tubuh, termasuk tubuh ibu, maka dialog dengan publik—termasuk kritik keras di media sosial—bukan penghalang, melainkan kompas yang membantu menentukan apakah sebuah desain gaun inovatif masih berbicara tentang ekspresi, atau sudah terperosok dalam sensasi.






