Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Merek Mewah dan Momen Bersejarah di Panggung Fashion Week

Merek Mewah dan Momen Bersejarah di Panggung Fashion Week
Minat|Pertunjukan Busana

Fashion Week sebagai Panggung Luxury Brand Milestone

Luxury brand milestone di panggung fashion week adalah momen ketika rumah mode menggunakan sorotan global untuk merayakan tonggak sejarah, menegaskan kembali heritage koleksi fashion, dan membangun narasi baru melalui kolaborasi seni fashion yang menggabungkan retrospektif masa lalu dengan eksperimen desain masa kini secara terkurasi dan teatrikal.

Dalam beberapa musim terakhir, fashion week tidak lagi sekadar jadwal presentasi koleksi, melainkan ruang dramatis untuk mengarsipkan sejarah merek di depan publik global. Louis Vuitton dan Bosideng membaca momentum ini dengan sangat strategis: keduanya tidak hanya memamerkan produk, tetapi menulis bab baru identitas mereka. Louis Vuitton mengemas tujuh tahun proyek Artycapucines dalam sebuah fashion week retrospektif yang menyatukan seni rupa dan leather goods. Di sisi lain, Bosideng menggunakan debut resminya di kalender Paris Fashion Week sebagai perayaan 50 tahun perjalanan, mengangkat jaket bulu angsa ke level pernyataan mode dan budaya.

Louis Vuitton Artycapucines: Retrospektif Tujuh Tahun Kolaborasi Seni

Sejak diluncurkan pada 2019, Artycapucines menjadi laboratorium kreatif bagi seniman internasional untuk menafsirkan tas Capucines dengan bahasa visual mereka sendiri. Tujuh tahun kemudian, Louis Vuitton merangkum perjalanan tersebut dalam sebuah retrospektif di Balcon d’Honneur, Grand Palais, sebagai bagian dari Art Basel Paris 2026. Di sini, tas-tas Artycapucines dipertemukan langsung dengan karya seni yang melandasi proses penciptaannya—lukisan, instalasi, hingga eksperimen material—menciptakan dialog jujur antara ide seniman dan keahlian artisan rumah mode itu sendiri.

Pilihan kuratorialnya tegas: Alex Israel dengan sirip warna-warni yang bersanding dengan Cut-Out-Fin (Golden Hour), Urs Fischer dengan pisang menggantung di samping Fruits, hingga pendekatan botanis Sam Falls dan tekstil figuratif Tschabalala Self. Permukaan tas menjadi kanvas lanjutan bagi eksperimen Josh Smith dan Henry Taylor, sementara eksplorasi material Kennedy Yanko dan Liza Lou menegaskan bahwa craftsmanship bukan sekadar teknik, melainkan riset bentuk dan tekstur. Sorotan khusus jatuh pada koleksi Keith Haring yang dipajang bersama koper era 1930-an yang pernah ia tandatangani, menjembatani warisan visual sang seniman dengan sejarah awal Louis Vuitton sebagai pembuat koper.

Mengemas Heritage: Arsip, Tata Ruang, dan Narasi Global Louis Vuitton

Retrospektif Artycapucines bukan sekadar deretan tas di atas pedestal; ini adalah pernyataan tentang bagaimana sebuah rumah mode menata ulang arsipnya untuk audiens global. Tata ruang yang terinspirasi dari sistem penyimpanan dan pengangkutan karya seni—peti terbuka, alas pajang, dan struktur menyerupai koper aluminium dan kanvas katun—secara sengaja mengingatkan kembali pada akar Louis Vuitton sebagai pembuat koper dan spesialis pengemasan. Di tengah Grand Palais, pilihan ini mengubah heritage menjadi pengalaman spasial, bukan nostalgia datar.

Hubungan rumah mode ini dengan seni sudah dimulai sejak kolaborasi awal dengan Pierre Legrain pada 1920-an dan berbagai komisi kreatif yang digagas Gaston-Louis Vuitton. Melalui Artycapucines, tradisi itu dilanjutkan dalam bentuk kolaborasi kontemporer yang menggabungkan pendekatan artistik mutakhir dengan keahlian kriya internal. Retrospektif ini juga dirancang berkelanjutan: Artycapucines dibuka untuk publik di Grand Palais pada 23–25 Oktober 2026 sebagai bagian dari Art Basel Paris, sementara pilihan buku dari Louis Vuitton Editions hadir untuk pertama kalinya di Art Basel Store, memperluas narasi merek ke ranah literatur dan koleksi seni cetak.

Bosideng: Lima Dekade Down Jacket di Panggung Paris Fashion Week

Jika Louis Vuitton merayakan dialog dengan seni rupa, Bosideng memilih merayakan umur panjang dan spesialisasi. Merek jaket bulu angsa asal Tiongkok ini merayakan ulang tahun ke-50 melalui peragaan busana bertajuk “The Bloom” pada 5 Oktober 2026 di Hôtel Pozzo di Borgo, kediaman mendiang Karl Lagerfeld di Paris. Presentasi tersebut menjadi kemunculan perdana Bosideng dalam kalender resmi Paris Fashion Week, setelah sebelumnya tampil di New York, Milan, dan London.

Di bawah arahan Direktur Kreatif Pietro Ferragina, koleksi ini mengubah down jacket dari sekadar kebutuhan musim dingin menjadi pernyataan mode yang sadar sejarah. Geometri Art Deco dipadukan dengan keahlian kriya Tiongkok: penjahitan terinspirasi qipao gaya Haipai dan kain Song brokat tradisional, menghasilkan siluet yang menggabungkan kehangatan, struktur, dan dinamika gerak. Empat lini—Extreme Cold, Outdoor, Business, dan Puff—menjelajahi spektrum gaya musim dingin, dari gaun malam skulptural hingga outerwear teknis dan busana urban yang anggun. Puncaknya, busana malam bulu angsa berwarna merah muda menantang persepsi bahwa down hanya milik utilitarian, sekaligus menegaskan ambisi Bosideng di panggung mode internasional.

Merek Mewah dan Momen Bersejarah di Panggung Fashion Week

Dari Arsip ke Masa Depan: Strategi Heritage, Seni, dan Craftsmanship

Baik Louis Vuitton maupun Bosideng memperlakukan fashion week sebagai momen negosiasi antara masa lalu dan masa depan. Pameran peringatan yang menyertai peragaan Bosideng menelusuri evolusi desain merek tersebut, menyoroti kolaborasi dengan Jean Paul Gaultier, Kenzo Takada, dan MSGM, di samping inovasi khas mereka di ranah busana bulu angsa. Menurut pernyataan resmi, “Bosideng telah menjadi merek jaket bulu angsa terlaris di Tiongkok selama 31 tahun berturut-turut dan kini dijual di 72 negara, dikenakan oleh lebih dari 200 juta orang”. Angka ini menjadikan perayaan 50 tahun bukan sekadar nostalgia, tetapi deklarasi posisi global.

Bagi Gao Dekang, presentasi di Paris mencerminkan lima dekade keahlian dan komitmen terhadap pertukaran budaya antara Tiongkok dan Prancis. Perayaan berlanjut di Menara Eiffel melalui gala “The Next Great Chapter”, menandai bab baru ambisi internasional Bosideng. Di sisi lain, Louis Vuitton memperluas kehadirannya di Art Basel melalui Artycapucines dan Louis Vuitton Editions, mengikat fashion, seni, dan penerbitan dalam satu ekosistem. Polanya jelas: luxury brand milestone yang paling kuat hari ini adalah yang berani menggabungkan heritage koleksi fashion, kolaborasi seni fashion, dan craftsmanship menjadi narasi lintas disiplin yang terasa relevan bagi audiens global—bukan hanya bagi kolektor lama, tetapi juga generasi baru yang mencari makna di balik logo.

Merek Mewah dan Momen Bersejarah di Panggung Fashion Week

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!