Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pertumbuhan Penerimaan APBN Regional Melambat dan Tidak Merata

Pertumbuhan Penerimaan APBN Regional Melambat dan Tidak Merata
Minat|Asia Tenggara

Penerimaan APBN Regional: Tumbuh, Tapi Menyingkap Keterbatasan Fiskal

Penerimaan APBN regional adalah seluruh pendapatan negara yang dikumpulkan dan dicatat pada tingkat provinsi, terutama dari pajak, bea, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang menjadi indikator langsung kapasitas fiskal provinsi dan kemampuan daerah membiayai layanan publik, infrastruktur, serta program kesejahteraan tanpa selalu bergantung pada transfer pusat. Di atas kertas, kinerja penerimaan APBN regional tampak menggembirakan: Sumatera Selatan mencatat pertumbuhan penerimaan pajak dan PNBP yang solid, sementara Sulawesi Barat menikmati lonjakan pendapatan negara yang signifikan. Namun bila dibandingkan dengan target pendapatan daerah dan kebutuhan belanja, pola ini mengungkap fakta kurang nyaman: kapasitas fiskal provinsi masih rapuh dan pertumbuhan yang tinggi belum otomatis menjamin ruang fiskal yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, keberagaman capaian target bukan sekadar variasi angka, melainkan tanda bahwa strategi pengelolaan dan optimalisasi sumber penerimaan belum selaras antar wilayah.

Sumatera Selatan: PNBP Menguat, Ketergantungan pada Komoditas Terbaca Jelas

Di Sumatera Selatan, penerimaan pajak hingga akhir Juli tercatat Rp7,15 triliun atau 48,62 persen dari target, tumbuh 15,36 persen secara tahunan. PNBP bahkan mencapai Rp1,91 triliun atau 77,46 persen dari target dengan pertumbuhan 23,30 persen year-on-year, mengisyaratkan peningkatan aktivitas ekonomi lokal yang mulai memberi kontribusi di luar pajak murni. Pernyataan Kepala Kanwil DJP Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung Retno Sri Sulistyani bahwa penerimaan ditopang sektor perpajakan dan PNBP mempertegas praktik fiskal yang masih berkutat pada sumber konvensional. Ironisnya, di saat PNBP dan pajak menguat, bea dan cukai justru terkontraksi 12,30 persen karena berkurangnya aktivitas ekspor CPO. Ketergantungan pada komoditas mentah terlihat telanjang: ketika ekspor melemah, salah satu pilar penerimaan ikut merosot. Ini memperkecil ruang manuver fiskal, sekalipun di sisi lain pertumbuhan ekonomi dan indikator kesejahteraan Sumsel menunjukkan tren positif.

Pertumbuhan Penerimaan APBN Regional Melambat dan Tidak Merata

Sulawesi Barat: Penerimaan Menggeliat, Transfer ke Daerah Menghambat Ruang Fiskal

Sulawesi Barat tampil sebagai contoh provinsi dengan penerimaan APBN regional yang melonjak, tetapi tetap dibayang-bayangi keterbatasan kapasitas fiskal. Pendapatan APBN sampai 31 Juli terealisasi Rp991,34 miliar atau 70,64 persen dari target, tumbuh 44,59 persen secara tahunan. Lonjakan ini ditopang penerimaan perpajakan Rp887,19 miliar dan PNBP Rp104,15 miliar yang bahkan sudah 106,99 persen dari target. "Pendapatan APBN di Provinsi Sulawesi Barat sampai dengan 31 Juli terealisasi sebesar Rp991,34 miliar atau 70,64 persen dari target" menjadi kutipan yang menggambarkan energi fiskal baru di daerah tersebut. Sayangnya, sisi belanja dan transfer ke daerah menahan potensi penuh: TKD Rp3.229,93 miliar mengalami kontraksi 11,90 persen, dipengaruhi turunnya Dana Alokasi Umum dan DAK Fisik karena proses administratif penyaluran yang terhambat, khususnya bidang kesehatan. Artinya, sekalipun penerimaan menguat, kemampuan daerah memanfaatkan dana untuk layanan publik dan pembangunan fisik tidak bertambah secepat angka pendapatan.

APBD Sumsel dan Proyeksi Bangka Tengah: Disparitas Kapasitas Fiskal Antar Daerah

Pada tingkat konsolidasi APBD, pendapatan daerah Sumsel telah mencapai Rp16,81 triliun atau 45 persen, dengan belanja daerah Rp15,84 triliun atau 40,34 persen. Rasio ini menunjukkan bahwa sekalipun penerimaan APBN regional menguat, target pendapatan daerah belum mendekati garis aman untuk menanggung kebutuhan belanja yang terus naik. Kontras ini menjadi lebih kentara jika dikaitkan dengan proyeksi pendapatan Bangka Tengah sebesar Rp825,6 miliar, yang menandai disparitas kapasitas fiskal provinsi dan kabupaten: skala fiskal berbeda jauh, tetapi tekanan kebutuhan belanja sosial dan infrastruktur sama keras. Ketika transfer ke daerah di Sumsel dan Sulbar justru terkontraksi, beban untuk mengoptimalkan sumber pendapatan daerah—baik pajak daerah, retribusi, maupun PNBP lokal—kian berat. Target pendapatan daerah pada akhirnya bukan sekadar angka rencana, melainkan cermin kemampuan nyata wilayah mengamankan pembiayaan pembangunan tanpa terjebak defisit yang menggerus kualitas layanan publik.

Implikasi Kebijakan: Saatnya Menggeser Fokus dari Besaran ke Kualitas Penerimaan

Capaian penerimaan APBN regional di Sumsel dan Sulbar memperlihatkan paradoks fiskal yang berulang: pertumbuhan angka pendapatan tidak otomatis berbanding lurus dengan kelonggaran ruang fiskal dan kualitas belanja. Ketika bea dan cukai tertekan oleh penurunan ekspor CPO, sementara di wilayah lain penerimaan Bea Keluar justru tumbuh karena kenaikan harga referensi komoditas, terlihat jelas bahwa mengandalkan komoditas primer membuat kapasitas fiskal provinsi sangat rentan terhadap siklus harga dan volume perdagangan. Di sisi lain, kontraksi TKD di dua wilayah tersebut menunjukkan bahwa transfer dari pusat tidak bisa terus menjadi penyangga utama ketika proses administratif dan kebijakan penyaluran belum beres. Jalan keluarnya bukan menambah target semata, tetapi mengubah struktur penerimaan: memperkuat PNBP daerah yang berbasis layanan, pendidikan, dan pengelolaan aset; memperbaiki kualitas administrasi supaya penyaluran DAK tidak tertahan; dan memastikan setiap rupiah belanja menimbulkan dampak ekonomi lokal nyata. Tanpa pergeseran fokus dari besaran ke kualitas penerimaan dan belanja, kapasitas fiskal provinsi akan terus dibatasi oleh faktor di luar kendali pemerintah daerah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!