Pertumbuhan Kereta Api Sumatra: Lonjakan Angka, Lonjakan Kepercayaan
Pertumbuhan kereta api Sumatra adalah peningkatan tajam jumlah penumpang di berbagai layanan rel di Sumatra, yang mencerminkan pergeseran perilaku perjalanan masyarakat menuju moda transportasi publik berbasis rel karena dinilai lebih pasti, terjangkau, dan mendukung konektivitas transportasi regional serta aktivitas ekonomi sehari-hari. Di balik angka-angka dua digit, ada pesan yang jauh lebih penting: kereta api bukan lagi moda cadangan, melainkan tulang punggung mobilitas di banyak kota dan daerah. Wilayah Divisi Regional II Sumatra Barat, misalnya, melayani 1.359.748 pelanggan dengan pertumbuhan tinggi 19,2 persen. Angka ini menopang kenaikan total penumpang kereta api Indonesia dan menunjukkan bahwa rel di luar koridor utama sudah mulai menjadi pilihan utama perjalanan antarkota, pendidikan, pekerjaan, hingga wisata. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan bahwa ketika permintaan meningkat, kapasitas dan kualitas layanan harus ikut naik—dan Sumatra sedang membuktikan hal itu di lapangan.

Srilelawangsa Medan–Binjai: Studi Kasus Kepercayaan Publik yang Konsisten
Jika ingin melihat bagaimana kepercayaan publik dibangun secara perlahan namun pasti, layanan KA Srilelawangsa adalah contoh paling jelas. Relasi Medan–Binjai tidak sekadar menambah opsi perjalanan; ia mengubah cara warga bergerak dan memaknai transportasi publik. Jumlah penumpang KA Srilelawangsa Medan–Binjai terus naik: 1.298.745 penumpang pada 2024, menjadi 1.533.390 pada 2025, dan kembali meningkat menjadi 1.576.958 penumpang pada 2026. Peningkatan sekitar 21,4 persen dibanding 2024, atau tambahan 278.213 penumpang, bukan sekadar tren angka, melainkan indikator bahwa layanan ini menjawab kebutuhan nyata mobilitas sehari-hari. Direktur Utama PT Railink Porwanto Handry Nugroho menilai kenaikan selama tiga tahun berturut-turut sebagai bukti menguatnya peran Srilelawangsa dalam konektivitas masyarakat. Dengan skema Public Service Obligation (PSO), tarif yang terjangkau membuat kereta api tidak hanya menjadi alternatif, tetapi bagian permanen dari ekosistem perjalanan warga Sumatera Utara.
KAI Bandara dan Konektivitas Transportasi Regional di Sumatera Utara
Pertumbuhan penumpang kereta api Indonesia di Sumatera Utara menunjukkan bahwa konektivitas transportasi regional sudah memasuki fase yang lebih matang. Sepanjang Januari–Juli, KAI Bandara melayani sekitar 2,5 juta penumpang di wilayah ini. Dari total tersebut, layanan KA Srilelawangsa relasi Medan–Binjai–Kuala Bingai menjadi kontributor terbesar dengan sekitar 1,5 juta pengguna, disusul relasi Medan–Bandara Kualanamu sekitar 915 ribu penumpang. Relasi baru Medan–Lubuk Pakam yang baru beroperasi bahkan sudah melayani sekitar 11 ribu penumpang. Angka-angka ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar membutuhkan akses bandara, tetapi jaringan rel yang menghubungkan kota, kawasan penyangga, dan simpul ekonomi. Menurut Porwanto, pengembangan jalur baru dan penguatan konektivitas antarmoda adalah strategi KAI Bandara untuk menghadirkan perjalanan yang lebih mudah, aman, dan terjangkau bagi warga Sumatera Utara. Pertumbuhan ini menguatkan posisi kereta api sebagai tulang punggung mobilitas regional, bukan hanya moda tambahan.
Dampak Regional: Sumatra Barat, Rajabasa, dan Jaringan Nasional
Lompatan penumpang di Sumatra tidak terjadi di satu titik saja, melainkan menyebar di banyak lintas dan mempertebal pentingnya membaca kebutuhan lokal. Di Sumatra Barat, kenaikan dari 1.140.348 menjadi 1.359.748 penumpang menunjukkan betapa rel dekat dengan rutinitas warga dan aktivitas ekonomi daerah. Divisi Regional IV Tanjungkarang mencatat 782.548 pelanggan, naik 14,9 persen dari 681.150 sebelumnya, sementara layanan Kereta Api Rajabasa di Sumatra Selatan melayani 439.984 pelanggan sepanjang semester pertama dengan pertumbuhan mencolok 36,44 persen dibanding 322.485 penumpang periode sebelumnya. Pengelola bahkan mulai mengoperasikan kereta ekonomi premium modifikasi sejak Juli untuk memperkuat kapasitas layanan. Di sisi lain, secara nasional, KAI Group melayani 307.860.743 pelanggan sepanjang Januari–Juli, naik 8,32 persen dari 284.202.884 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Anne Purba menilai konektivitas antarkota, transportasi perkotaan, bandara, layanan regional, dan kereta cepat sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Sumatra jelas mengambil bagian penting dalam puzzle besar tersebut.
Kesimpulan: Saatnya Mengakui Rel sebagai Infrastruktur Utama Wilayah Berkembang
Melihat data pertumbuhan dua digit di berbagai lintas, layanan KA Srilelawangsa yang terus naik, dan kinerja kuat KAI Bandara, sulit menganggap kereta api di Sumatra sebagai pemain pinggiran. Pertumbuhan kereta api Sumatra adalah refleksi nyata bahwa masyarakat mulai mengutamakan moda yang pasti, terjadwal, dan terjangkau untuk menunjang mobilitas harian. Dari perjalanan antarkota, akses bandara, hingga layanan PSO, rel menjahit ruang-ruang regional yang sebelumnya terpisah. Pertanyaannya bukan lagi apakah kereta api penting bagi wilayah berkembang, melainkan apakah kebijakan dan investasi infrastruktur sudah menempatkannya di posisi yang pantas. Dengan basis penumpang yang terus tumbuh, tuntutan terhadap kapasitas, kualitas, dan integrasi antarmoda akan makin besar. Jika tren ini dijaga dengan kebijakan yang berpihak pada pengguna, Sumatra berpeluang menjadikan jaringan rel sebagai motor pemerataan akses mobilitas dan penguatan ekonomi regional, bukan sekadar moda nostalgia.






