Penjaminan Mutu Pendidikan ASEAN: Dari Konsep ke Posisi Tawar Kampus Lokal
Penjaminan mutu pendidikan ASEAN adalah upaya kolektif universitas di kawasan untuk menyelaraskan standar akademik, memastikan relevansi lulusan, dan memperkuat kepercayaan lintas negara terhadap kualitas program studi melalui mekanisme asesmen, kolaborasi, serta inovasi yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, keterlibatan aktif institusi pendidikan lokal bukan sekadar pelengkap, tetapi faktor penentu apakah kawasan mampu melahirkan ekosistem pendidikan tinggi yang kredibel dan terhubung secara regional. Kampus-kampus di sini sedang bergeser dari posisi “penerima standar” menjadi “perumus standar”, mengambil peran langsung dalam akreditasi universitas regional dan kolaborasi pendidikan tinggi ASEAN. Karena itu, setiap penugasan asesor, inovasi literasi, dan program pengabdian masyarakat yang diakui di level kawasan sesungguhnya adalah investasi reputasi yang akan menentukan daya saing akademik di masa datang.
UMI dan Peran Asesor AUN-QA: Dari Manila ke Panggung Regional
Ketika Wakil Rektor V Universitas Muslim Indonesia, Ir. Hj. Setyawati Yani, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., dipercaya menjadi Assessor AUN-QA pada 531st AUN-QA Programme Assessment di Manila Central University, Filipina, posisi kampus lokal dalam ekosistem penjaminan mutu pendidikan ASEAN naik satu tingkat. Penugasan pada asesmen program Doctor of Optometry, yang berlangsung 11–13 Agustus 2026 bersama penilaian tiga program lain—Doctor of Medicine, Bachelor of Science in Medical Technology, dan Bachelor of Science in Psychology—bukan hanya kehormatan personal, melainkan pengakuan langsung terhadap kapasitas sumber daya manusia UMI."Menjadi asesor bukan hanya tentang melakukan penilaian, tetapi juga tentang berbagi pengalaman, belajar dari praktik baik universitas lain, dan bersama-sama membangun budaya mutu pendidikan tinggi yang berstandar internasional," tegas Setyawati Yani. Sikap ini menegaskan bahwa akreditasi universitas regional adalah ruang diskusi strategis, bukan sekadar checklist administratif. UMI memanfaatkan momentum ini untuk menguatkan komitmen menuju World Class Islamic University lewat peningkatan kualitas akademik dan jejaring internasional.
Program IMAM Perpustakaan UMS: Literasi Digital sebagai Modal Regional
Di ranah literasi, UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta menunjukkan bahwa inovasi program akademik universitas juga mampu menjadi bahasa bersama di kawasan. Mereka berhasil mempresentasikan inovasi perpustakaan digital melalui Program IMAM di hadapan akademisi University Malaya, Malaysia, dalam agenda studi banding internasional yang difasilitasi FPPTI Jawa Tengah pada 26–29 Juli 2026. Kepala Perpustakaan, Maria Husnun Nisa, memaparkan konsep "Knowledge Sharing melalui Program IMAM" yang berakar pada pengabdian masyarakat: pendidikan pelatihan, pendampingan akreditasi, dan pengembangan UMS Library Corner sebagai simpul literasi yang aplikatif. Filosofi Ilmu Manfaat Amal Memberi (IMAM) dengan nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi menjadikan perpustakaan bukan ruang eksklusif sivitas akademika, melainkan katalis literasi masyarakat luas. Kehadiran Perpustakaan UMS dalam forum ini membuktikan kapasitas mereka memimpin kolaborasi pendidikan tinggi ASEAN sekaligus menunjukkan bahwa inovasi literasi digital dapat menjadi bagian dari penjaminan mutu yang diakui di level regional.

Mengapa Keterlibatan Regional Mengangkat Kredibilitas Kampus Lokal
Keterlibatan pimpinan universitas sebagai asesor internasional dan perpustakaan yang berani mempresentasikan inovasi di panggung regional memiliki konsekuensi strategis: kredibilitas naik, jaringan melebar. AUN-QA sebagai bagian dari ASEAN University Network mendorong pengembangan dan harmonisasi standar mutu pendidikan tinggi di kawasan; ketika akademisi lokal masuk ke dalam mekanisme ini, mereka ikut menentukan arah standar tersebut, bukan sekadar menyesuaikan diri. Di sisi lain, lawatan literasi UMS ke Malaysia bukan kunjungan seremonial, melainkan langkah untuk memperkuat kolaborasi internasional dan kualitas jejaring akademik di kawasan ASEAN. Penjaminan mutu pendidikan ASEAN, jika ditempatkan sebagai proses belajar timbal balik, akan memaksa kampus lokal membenahi pembelajaran, tata kelola akademik, dan keberlanjutan peningkatan mutu, sebagaimana digarisbawahi Setyawati Yani. Hasilnya, reputasi tidak lahir dari slogan internasionalisasi, melainkan dari pengakuan konkret terhadap kompetensi sivitas dan relevansi program yang ikut membentuk standar bersama.
Penutup: Saatnya Kampus Lokal Menjadi Pengarah, Bukan Pengikut
Rangkaian kiprah UMI di Manila dan inovasi IMAM dari Perpustakaan UMS menunjukkan satu pesan tegas: kampus lokal sudah saatnya berhenti puas sebagai penerima standar dan mulai bertindak sebagai pengarah penjaminan mutu pendidikan ASEAN. Keterlibatan sebagai asesor AUN-QA memperluas ruang bernegosiasi dan belajar dari praktik terbaik, sementara program literasi berbasis pengabdian memberi wajah humanis bagi internasionalisasi. Keduanya mengirim sinyal ke kawasan bahwa kualitas akademik dan inovasi sosial bisa berjalan beriringan. Ke depan, institusi pendidikan yang pasif terhadap mekanisme akreditasi universitas regional akan tertinggal, bukan karena kekurangan fasilitas, tetapi karena absen dari percakapan regional tentang mutu. Sebaliknya, kampus yang aktif merajut kolaborasi pendidikan tinggi ASEAN dan mengembangkan inovasi program akademik universitas yang relevan akan memetik manfaat reputasi, jaringan, dan kepercayaan yang menjadi modal utama daya saing di peta pendidikan tinggi global. Itu pilihan strategis yang tidak boleh diabaikan.






