Dua pintu masuk untuk mencegah stunting
Pencegahan stunting keluarga adalah upaya memperkuat kesehatan dan pengasuhan anak dengan mendukung kebutuhan rumah tangga sejak masa persiapan perkawinan hingga kehidupan keluarga sehari-hari. Dua langkah daerah memperlihatkan bagaimana tujuan itu dapat ditempuh dari pintu masuk yang berbeda. Di Metro, Dinas P3AP2KB memadukan edukasi keluarga dengan bantuan nyata bagi keluarga berisiko stunting. Di Kotamobagu, DPPKB dan Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng calon pengantin melalui aplikasi Elsimil dan agenda ketahanan keluarga. Perbedaan ini penting: pesan kesehatan akan lebih berarti ketika dekat dengan kebutuhan warga, tetapi kebutuhan itu tidak selalu sama. Satu pendekatan menyentuh keluarga yang memerlukan dukungan dasar; pendekatan lain berupaya menanamkan kesiapan sebelum rumah tangga dibentuk. Keduanya patut dibaca sebagai strategi yang saling melengkapi, bukan sebagai bukti bahwa satu daerah telah mencapai hasil lebih baik.
Pada 1 November 2026, program Gerakan Bersama Pencegahan Stunting (GEBER HUNTING) disosialisasikan melalui Sekolah Keluarga SAI BANGGA di Taman Merdeka, Kota Metro. Pada 3 November 2026, DPPKB dan Kemenag Kotamobagu menandatangani nota kesepahaman di kantor Kemenag setempat. Kedua agenda menunjukkan dorongan untuk memperluas kerja lintas sektor, tetapi bentuk intervensinya berbeda: Metro bergerak pada dukungan keluarga yang dibutuhkan sekarang, sedangkan Kotamobagu menempatkan persiapan calon pengantin sebagai titik awal.
Metro: edukasi yang disertai dukungan dasar
Kekuatan pendekatan Metro terletak pada upaya menghubungkan pengetahuan dengan kondisi hidup keluarga. Melalui SAI BANGGA, Dinas P3AP2KB memberi edukasi keluarga stunting tentang pengasuhan positif, pendampingan anak, serta pentingnya lingkungan keluarga yang sehat. Pembinaan tidak hanya disampaikan lewat kegiatan formal: arisan, pertemuan warga, dan aktivitas sosial juga menjadi ruang edukasi. Cara ini berpotensi membuat pesan lebih dekat dengan keseharian, tanpa mengandaikan bahwa penyuluhan saja cukup untuk mengatasi kekurangan pangan, sanitasi, atau air bersih.
Karena itu, GEBER HUNTING juga mengajak berbagai pihak membantu memenuhi kebutuhan dasar. Dalam sosialisasi, bantuan mencakup paket sembako untuk 11 balita, dua jamban, satu penampungan air, dan satu sumur air bersih. Kepala Dinas P3AP2KB Metro, Silfia Naharani, menyebut gerakan itu sebagai langkah konkret untuk memperkuat percepatan pencegahan dan penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Kombinasi edukasi dan fasilitas membuat pendekatan Metro terasa lebih langsung menyentuh kebutuhan keluarga berisiko. Namun, sumber yang tersedia tidak menyebutkan dampak program terhadap angka stunting, sehingga bantuan tersebut perlu dipahami sebagai dukungan yang disalurkan, bukan bukti hasil kesehatan tertentu.

Kotamobagu: kesiapan keluarga dimulai sebelum menikah
Kotamobagu mengambil jalur yang lebih berorientasi pada persiapan. Kerja sama DPPKB dan Kemenag menghubungkan agenda keluarga berkualitas dengan aplikasi Elsimil, yang digunakan pemerintah untuk mempersiapkan calon pengantin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga dan mencegah stunting sejak awal. Dengan melibatkan lembaga keagamaan, inisiatif ini membawa pesan pencegahan ke tahap sebelum pasangan membangun keluarga. Ini merupakan pembeda utama dari Metro, yang dalam program yang diberitakan menyalurkan bantuan kepada keluarga berisiko sekaligus memberi edukasi pengasuhan.
Kerja sama tersebut juga mengangkat Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Kepala DPPKB Kotamobagu, Hensi Mokoginta, mengatakan kerja sama itu diarahkan untuk membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan berketahanan. Fokus pada calon pengantin dan peran ayah memperluas gagasan ketahanan keluarga: tanggung jawab tidak berhenti pada ibu atau setelah anak lahir. Meski demikian, penandatanganan nota kesepahaman dan penggunaan aplikasi belum dengan sendirinya membuktikan perubahan perilaku atau penurunan stunting. Nilai pendekatan ini akan bergantung pada pelaksanaan program yang benar-benar menjangkau masyarakat.
Pelaksanaan akan menentukan arti kolaborasi
Kedua strategi menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak cukup dibebankan pada satu lembaga atau satu bentuk intervensi. Metro menggabungkan pembelajaran pengasuhan dengan bantuan pangan, sanitasi, dan akses air bersih; Kotamobagu menghubungkan DPPKB dan Kemenag untuk menyiapkan calon pengantin melalui Elsimil serta mendorong peran ayah. Perbedaan sasaran ini membuat perbandingan langsung soal keberhasilan tidak tepat. Yang dapat dinilai dari informasi yang tersedia adalah desain pendekatannya: satu merespons kebutuhan dasar keluarga berisiko, satu lagi berupaya membangun kesiapan keluarga lebih awal.
Tahap berikutnya harus beranjak dari acara dan kesepakatan menuju tindak lanjut yang konsisten. Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso berharap GEBER HUNTING menjadi gerakan berkelanjutan yang mengoordinasikan dukungan dan memastikan bantuan sesuai kebutuhan keluarga. Di Kotamobagu, Hensi Mokoginta berharap kerja sama tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan diwujudkan dalam program yang menyentuh masyarakat. Kesimpulannya, edukasi, bantuan nyata, dan kesiapan sebelum menikah bukan pilihan yang saling meniadakan. Namun, keberhasilan pencegahan stunting keluarga belum dapat disimpulkan dari pengumuman program; ukuran pentingnya adalah kesinambungan pelaksanaan dan jangkauan dukungan yang benar-benar diterima keluarga.






