Pembangunan keluarga dimulai dari setiap tahap kehidupan
Pembangunan keluarga adalah upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup keluarga melalui pendampingan pada berbagai tahap kehidupan, dari persiapan pernikahan hingga usia lanjut. Karena itu, pencegahan stunting tidak bisa dibebankan hanya kepada layanan kesehatan atau keluarga yang memiliki balita: ia membutuhkan dukungan berkelanjutan di rumah dan di masyarakat. Kemendukbangga/BKKBN memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui program prioritas yang mencakup pencegahan stunting, pengasuhan anak, peningkatan peran ayah, serta pemberdayaan lansia. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji menyebut penguatan keluarga sebagai fondasi pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045. Pandangan ini tepat karena kebiasaan yang membentuk kesehatan anak—mulai dari pemenuhan gizi hingga rasa aman—berlangsung setiap hari dalam keluarga. Program akan berarti jika pendampingan sampai ke rumah tangga dan bertahan setelah kegiatan sosialisasi selesai.
Sosialisasi membawa program lebih dekat ke warga
Sosialisasi Program Bangga Kencana di Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh, Kota Bukittinggi, pada Kamis, 22 Oktober 2026, menunjukkan bagaimana agenda nasional dapat diterjemahkan menjadi pembicaraan yang dekat dengan kebutuhan warga. Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama mengajak masyarakat memperkuat peran keluarga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mencegah stunting. Materi yang dibahas mencakup pembentukan keluarga berkualitas, pemeriksaan kesehatan calon pengantin, pendampingan keluarga berisiko stunting, serta partisipasi dalam program kependudukan dan keluarga berencana. Ade mendorong pasangan yang akan menikah memanfaatkan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan maupun psikologi di puskesmas, serta pembekalan kehidupan berumah tangga melalui KUA. Langkah sebelum kehamilan ini penting: pencegahan lebih masuk akal daripada menunggu masalah tumbuh kembang muncul. Namun, sosialisasi perlu diikuti akses layanan yang jelas agar ajakan tersebut menjadi tindakan, bukan sekadar informasi.
Program cegah stunting harus menyentuh kebutuhan nyata
Angka yang disampaikan di Bukittinggi memberi alasan untuk mempertahankan pendampingan: prevalensi stunting di kota itu tercatat 16,8 persen, lebih rendah daripada angka nasional 22,2 persen. Di Semarang, Sekretaris BKKBN Provinsi Jawa Tengah menyebut stunting di Indonesia masih sekitar 19 persen, sementara target yang ingin dicapai 14 persen, sehingga upaya lebih kuat dan berkelanjutan dibutuhkan. Angka-angka tersebut berasal dari keterangan yang disampaikan dalam kegiatan setempat dan menegaskan bahwa capaian daerah tidak menghapus pekerjaan yang tersisa. Program cegah stunting seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) mengandalkan gotong royong untuk membantu keluarga melalui edukasi, dukungan nutrisi, akses air bersih, jamban sehat, rumah layak huni, dan pemberdayaan ekonomi. Hingga 1 Oktober 2026, GENTING menjangkau 1.197.285 keluarga dengan total 2.377.967 bantuan. Besarnya jangkauan patut dicatat, tetapi ukuran keberhasilan akhirnya harus terlihat pada dukungan yang diterima keluarga dan kesehatan anak.
Pengasuhan dan keterlibatan ayah melengkapi intervensi
Pencegahan stunting tidak berhenti pada bantuan gizi. Anak juga membutuhkan pengasuhan yang aman, waktu bermain, perhatian orang tua, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang. Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) mendorong mutu pengasuhan di tempat penitipan anak, sementara Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) mengajak ayah terlibat dalam pendampingan dan hubungan emosional, bukan hanya memenuhi kebutuhan ekonomi. Kemendukbangga/BKKBN juga menjalankan Lansia Berdaya (SIDAYA) dan mengembangkan AI-SuperApps Tentang Keluarga untuk informasi, konsultasi, serta pendampingan digital. Di Semarang, sosialisasi Bangga Kencana pada 24 Oktober 2026 turut membahas pengasuhan anak, peran ayah, pencegahan stunting, dan pemberdayaan lansia. Cakupan ini menunjukkan bahwa pembangunan keluarga bukan program yang hanya relevan bagi orang tua balita; dukungan perlu mengikuti kebutuhan anggota keluarga sepanjang hidup.
Ukuran keberhasilan ada pada kesinambungan
Ade Rezki menyatakan dukungan terhadap Program Bangga Kencana akan diperkuat pada 2027 melalui rencana alokasi anggaran bagi dinas dan organisasi perangkat daerah terkait, kegiatan peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan pendampingan masyarakat. Rencana itu perlu diterjemahkan menjadi layanan yang mudah dijangkau dan koordinasi yang konsisten antara pemerintah pusat, daerah, tenaga pendamping, serta warga. Keluarga harus tahu ke mana mencari pemeriksaan kesehatan, konsultasi, dukungan pengasuhan, dan bantuan saat menghadapi risiko stunting. Sosialisasi di Bukittinggi dan Semarang menjadi pintu masuk yang berguna, tetapi bukan hasil akhir. Kesimpulannya, program pembangunan keluarga layak dinilai dari kesinambungan dukungan dan manfaatnya bagi rumah tangga, bukan sekadar jumlah kegiatan. Jika pendampingan tersedia sejak persiapan pernikahan sampai anak tumbuh, program prioritas Kemendukbangga/BKKBN dapat memberi dasar yang lebih kuat bagi pencegahan stunting.






