Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tajemtra Jember Ramai Peserta, Sepi Pembeli: Siapa Diuntungkan?

Tajemtra Jember Ramai Peserta, Sepi Pembeli: Siapa Diuntungkan?
Minat|Asia Tenggara

Tajemtra sebagai acara ekonomi lokal: keramaian yang tidak otomatis jadi omzet

Tajemtra adalah gerak jalan tradisional Tanggul–Jember yang digelar sebagai acara ekonomi lokal, menghadirkan puluhan ribu peserta dan penonton, namun ternyata tidak otomatis mengubah keramaian menjadi omzet nyata bagi pedagang kecil yang mengandalkan jualan di sekitar rute acara. Gelaran Gerak Jalan Tradisional Tanggul-Jember (Tajemtra) 2026 resmi digelar pada Sabtu 5 September, dimulai sekitar pukul 13.20 di Alun-alun Tanggul dengan pelepasan barisan kehormatan oleh Bupati Jember Muhammad Fawait bersama Forkopimda. Sebanyak 25.613 peserta tercatat mengikuti kegiatan tahunan ini, menjadikannya salah satu hajatan massal terbesar di daerah tersebut. Namun di balik angka besar itu, banyak pedagang kecil mengeluh sepi pembeli, memunculkan pertanyaan: untuk siapa sebenarnya keuntungan Tajemtra 2026 Jember?

Tajemtra Jember Ramai Peserta, Sepi Pembeli: Siapa Diuntungkan?

25.613 peserta vs lapak sepi: kegagalan mengonversi pengunjung jadi pembeli

Angka resmi panitia mencatat total 25.613 peserta dalam Tajemtra 2026 Jember, terdiri dari ribuan peserta perorangan putra, putri, serta ratusan regu pelajar dan umum. Sebelumnya, bahkan disebut lebih dari 25 ribu peserta akan berangkat dari garis start di jalan nasional sisi selatan Alun-alun Tanggul. Secara logika acara ekonomi lokal, puluhan ribu orang ini seharusnya menjadi pasar potensial bagi PKL di sepanjang rute, terutama di sekitar alun-alun. Namun realitasnya berbalik. Pantauan lapangan menunjukkan kepadatan besar hanya terjadi di awal pelepasan; sekitar pukul 16.15 kawasan Alun-alun Tanggul sudah mulai sepi peserta.

Budi, pedagang es kelapa muda, mengaku hanya mampu menjual sekitar 30 buah kelapa dan menyimpulkan hari itu “sepi” meski acara digadang-gadang membawa berkah. Siti, pedagang minuman dan makanan ringan yang lapaknya dekat titik stempel peserta, hanya menjual sekitar 20 botol air mineral dan pendapatannya turun menjadi sekitar Rp90 ribu, lebih rendah dari hari biasa sekitar Rp100 ribu. Besarnya jumlah peserta yang tidak berbanding lurus dengan penjualan menunjukkan kegagalan mengonversi keramaian menjadi transaksi. Kesenjangan ini menguatkan kritik bahwa desain acara lebih mengejar angka partisipasi daripada memastikan manfaat ekonomi nyata bagi UMKM.

Dampak penutupan jalan dan perpindahan terminal: biaya sosial yang tak diperhitungkan

Untuk menyelenggarakan Tajemtra, pemerintah menutup jalan nasional Surabaya–Jember yang menjadi rute peserta, dari Tanggul menuju Alun-alun Jember sepanjang sekitar 30 kilometer. Penutupan mulai sekitar pukul 10.00 dan wajib diperhatikan pengendara, terutama yang bepergian antarkota. Jalan nasional Tanggul-Jember yang ditutup memaksa kendaraan dari arah Surabaya dan Lumajang dialihkan melalui Pondokdalem, Jombang, Kencong, Kasiyan, Balung, Wuluhan hingga Ambulu.

Akibat lain yang sering luput dibahas adalah perpindahan sementara Terminal Tawangalun ke Terminal Ambulu mulai pukul 10.00 hingga 24.00, seluruh operasional bus dialihkan karena rute Tajemtra melewati depan terminal. Artinya, selain pedagang kecil mengeluh sepi, pengguna transportasi umum dan sopir bus juga menanggung konsekuensi logistik. Penyelenggara memang menyiapkan jalur alternatif dan petugas lapangan, tetapi pertanyaannya: apakah dampak penutupan jalan dan perpindahan terminal sudah diseimbangkan dengan manfaat ekonomi yang nyata? Ketika omzet PKL tak naik, biaya sosial ini terasa semakin berat dan menimbulkan kesan bahwa warga kecil hanya menjadi penonton atas kebijakan yang mengorbankan kenyamanan mereka.

Manajemen waktu peserta dan pola keramaian: masalah desain acara, bukan salah PKL

Penyebab utama lemahnya konversi pengunjung menjadi pembeli bukan pada PKL, melainkan pada desain dan disiplin pelaksanaan acara. Panitia mencatat peserta berdesakan dan banyak yang berjalan tidak sesuai jadwal keberangkatan yang telah ditentukan; sejumlah kelompok bergerak serentak sehingga kerumunan memanjang dari titik start hingga ke arah timur rute Tajemtra. Ketidakteraturan ini menciptakan lonjakan keramaian sesaat di awal, lalu menguap cepat. Siti bahkan membandingkan, sekitar delapan tahun lalu peserta masih ramai hingga waktu Isyak, sementara tiga tahun terakhir sekitar pukul 16.00 rute sudah sepi.

Dari sudut pandang ekonomi lokal, pola keramaian yang menukik tajam seperti ini menghancurkan peluang PKL. Mereka bersiap jualan hingga malam, tetapi harus menerima kenyataan alun-alun sudah kosong sebelum sore berakhir. Besarnya jumlah peserta seharusnya menjadi kesempatan, namun karena jadwal keberangkatan tidak dikendalikan dengan ketat, konsentrasi keramaian tidak bertahan lama di kawasan Alun-alun Tanggul. Tajemtra 2026 Jember akhirnya memunculkan paradoks: acara tampak sukses di atas kertas, tetapi dari sisi penghidupan pelaku usaha kecil, desainnya justru meninggalkan rasa pahit.

Saatnya mengukur sukses Tajemtra dari keberpihakan pada UMKM

Tajemtra selama ini dijual sebagai ikon kebanggaan daerah, tetapi pengalaman pedagang kecil mengeluh sepi menunjukkan label “acara ekonomi lokal” masih sebatas slogan. Besarnya jumlah peserta, penutupan jalan nasional, hingga perpindahan Terminal Tawangalun ke Ambulu adalah keputusan besar yang mengorbankan kenyamanan publik. Jika pada akhirnya PKL seperti Budi dan Siti tidak merasakan peningkatan, bahkan cenderung merugi, maka ada yang keliru dalam tolok ukur sukses acara.

Penyelenggara perlu mengubah cara menilai keberhasilan Tajemtra 2026 Jember: tidak lagi puas dengan angka 25.613 peserta, tetapi menuntut indikator konkret seperti durasi keramaian yang terjaga, omzet PKL yang naik, dan dampak penutupan jalan yang diminimalkan. Sukses Tajemtra seharusnya berarti warga kecil ikut tertawa, bukan sekadar menyaksikan rombongan besar lewat dan pergi. Selama desain acara tidak sengaja diatur untuk menguntungkan UMKM, Tajemtra akan terus menjadi festival angka—bukan mesin penggerak ekonomi lokal.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!