Diplomasi Budaya Internasional: Ketika Wastra dan Naskah Kuno Menjadi Soft Power
Diplomasi budaya internasional adalah penggunaan warisan budaya Nusantara—mulai dari manuskrip kuno Indonesia hingga tekstil tradisional Lombok—sebagai alat soft power untuk membangun citra, pengaruh, dan jejaring global melalui pameran, seminar, dan kerja sama lintas negara yang berkelanjutan. Di titik ini, delegasi daerah tidak sekadar mengirim artefak, tetapi membawa narasi, memori kolektif, dan identitas ke panggung dunia. Langkah NTB ke Adelaide dan kajian tarekat Rifa’iyyah di Istanbul menunjukkan bahwa dunia siap mendengar, asalkan kita datang dengan kepercayaan diri dan strategi yang matang.
Delegasi resmi yang dipimpin Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri meninjau koleksi kain tenun dan manuskrip sejarah daerah di Art Gallery of South Australia, Adelaide, pada Jumat 11 September 2026. Kehadiran Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia dan Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda menjadikan kunjungan ini bukan seremonial, melainkan pernyataan politik budaya: NTB menempatkan wastra Lombok dan naskah Hikayat Nabi Yusuf berbahan lontar sebagai aset strategis, bukan sekadar kerajinan lokal.
Wastra Lombok dan Ekonomi Kreatif: Dari Galeri Adelaide ke Peta Tekstil Dunia
Kain ritual kekombong dari Lombok Utara, songket Lombok Tengah, dan tenun Sumbawa yang terdokumentasi dalam buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles bukan hanya benda seni; mereka adalah argumen visual tentang posisi NTB sebagai pusat keragaman tekstil Asia. Dokumentasi rinci ratusan tenun langka milik kolektor Michael Abbott mengukuhkan penenun tradisional ke dalam peta seni tekstil dunia, sekaligus menggeser cara pandang: penenun bukan pelengkap pariwisata, melainkan produsen pengetahuan estetika dan sejarah.
Ketika kajian galeri menunjukkan motif rangrang mampu beradaptasi mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas, pesan yang tersirat jelas: tekstil tradisional Lombok adalah bukti bahwa tradisi bisa modern tanpa harus tunduk pada selera pasar sesaat. Di forum peluncuran buku, di mana hadir kurator, peneliti independen, dan pejabat seperti Minister for Trade and Tourism Senator Don Farrell, wastra tampil sebagai bahasa diplomasi budaya internasional yang efektif. Pernyataan sang wakil gubernur, “pariwisata membawa orang datang, sedangkan kebudayaan membuat mereka memahami siapa kita sesungguhnya,” menjadi kalimat kunci yang menempatkan promosi pariwisata budaya sebagai agenda strategis, bukan sekadar kampanye musiman.
Manuskrip Kuno Indonesia dan Jejak Tarekat Rifa’iyyah: Jembatan Keislaman Nusantara–Turki
Jika wastra NTB memikat mata, manuskrip kuno Indonesia memikat pikiran. Dalam International Joint Seminar di Istanbul, kekayaan manuskrip tarekat Rifa’iyyah dari Nusantara menjadi perhatian akademisi dunia dan disebut dapat menjadi jembatan peradaban Islam antara Muslim Nusantara dan Muslim di Turki. Tradisi Rifa’iyyah selama ini dikenal lewat debus di Banten atau rapai di Aceh, tetapi jejak terdalamnya justru tersimpan dalam manuskrip berbahasa Arab, Melayu, dan Jawa-Pegon yang memuat silsilah, ajaran, zikir, dan ratib.
Prof Oman Fathurahman mengingatkan bahwa salinan manuskrip Rifa’iyyah tersebar di perpustakaan besar di Eropa, lembaga nasional, dan koleksi keluarga di Nusantara. Fakta ini menantang rasa minder: umat Muslim di kawasan ini memiliki tradisi tulisan tangan yang menunjukkan penerjemahan ajaran Sufi Rifa’iyyah ke dalam bahasa dan konteks lokal. Seminar bertema “Bridging Mystical Philosophy and Arts in Sufism: Poetry, Music, and Rituals” mempertemukan filolog, antropolog, musikolog dari Turki, Mesir, Jepang, Prancis, Nusantara, Jerman, dan Korea Selatan. Di sini, manuskrip kuno Indonesia berfungsi ganda: sebagai sumber kajian akademik dan sebagai kartu identitas di meja diplomasi budaya internasional.
Soft Power, Pariwisata Budaya, dan Tanggung Jawab Digitalisasi Warisan
Pameran budaya internasional dan seminar lintas disiplin tidak boleh berhenti sebagai agenda foto bersama. NTB sudah membaca tantangan itu: kerja sama strategis lintas negara difokuskan pada digitalisasi naskah kuno, pelestarian peninggalan leluhur, dan penyelenggaraan pameran seni berkelanjutan di level global. Ini sikap penting—tanpa digitalisasi, manuskrip dan wastra akan tetap elitis, sulit diakses generasi muda, dan rentan hilang. Digitalisasi adalah bentuk diplomasi budaya yang paling sunyi sekaligus paling kuat: ia membuka akses sejarah dan pengetahuan, sebagaimana ditegaskan dalam kunjungan ke museum di Adelaide.
Di sisi lain, forum di Istanbul dipandang sebagai peluang dan tantangan untuk memperkuat kolaborasi akademik antara perguruan tinggi di Nusantara dan Turki. Jika ini konsisten dijalankan, manuskrip tarekat, keris Bima abad ke-17, hingga kain rangrang akan berada dalam jaringan peneliti dan kurator global, bukan sekadar dalam katalog. Ekosistem ekonomi kreatif daerah diyakini akan menerima dampak positif besar dari gema publikasi internasional dan meluasnya pasar produk kerajinan hingga ke benua Australia. Pada akhirnya, diplomasi budaya internasional baru sah disebut berhasil bila warisan budaya Nusantara terlindungi, para perajin memperoleh manfaat nyata, dan generasi muda merasa bangga sekaligus bertanggung jawab mengurusnya.






