Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Jababeka–Pertamina Perkuat Transisi Energi Hijau Kawasan Industri

Jababeka–Pertamina Perkuat Transisi Energi Hijau Kawasan Industri
Minat|Asia Tenggara

Energi hijau sebagai strategi utama kawasan industri Jababeka

Transisi energi Jababeka adalah langkah terencana kawasan industri Jababeka di Cikarang untuk mengintegrasikan energi hijau kawasan industri berbasis sumber terbarukan bersama Pertamina energi terbarukan, dengan tujuan menekan emisi, memperkuat ketahanan energi, dan mempertahankan posisi sebagai pusat manufaktur berkelanjutan yang kompetitif secara global. Di balik jargon transisi energi, kemitraan ini sesungguhnya adalah pernyataan politik industri: Jababeka memilih berinvestasi pada masa depan, bukan bertahan di model kawasan industri berbasis fosil yang kian usang. Kawasan Industri Jababeka menyumbang sekitar 22–45 persen dari total ekspor industri manufaktur nasional, dihuni sekitar 2.000 perusahaan multinasional dari 36 negara, dan menyerap 1,1 juta tenaga kerja. Dengan skala sebesar itu, setiap keputusan energi membawa konsekuensi sistemik. Ketika pusat ekspor manufaktur menggeser pasokan ke energi hijau, standar baru bagi kawasan industri lain otomatis terbentuk.

Kemitraan strategis Jababeka–Pertamina: dari PLTS atap ke ekosistem energi bersih

Kemitraan Jababeka–Pertamina bukan sekadar proyek PLTS atap, melainkan pembentukan ekosistem energi bersih yang terstruktur. Kerja sama ini ditegaskan lewat sharing session bertema ketahanan energi dan transisi menuju Net Zero Industrial Estate yang digelar Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community bersama Pertamina di Cikarang pada 18 September. Secara politis, forum ini mengirim pesan jelas: transisi energi kawasan industri tidak lagi bersifat sukarela, tetapi berubah menjadi agenda kolektif pengelola kawasan, penyedia energi, dan tenant. Contoh paling nyata adalah PLTS Atap berkapasitas 230 kWp di Water Treatment Plant Jababeka yang dikembangkan bersama Pertamina New & Renewable Energy sejak 2023. Fasilitas ini telah menghasilkan 858,21 MWh listrik dan menekan emisi sekitar 734 ton CO2e, angka yang menunjukkan bahwa dekarbonisasi di kawasan industri bukan konsep abstrak, melainkan sudah berdampak terukur pada jejak karbon perusahaan.

Manufaktur berkelanjutan: tenant sebagai motor transisi energi

Yang menjadikan transisi energi Jababeka menarik adalah fakta bahwa tenant besar mulai memimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti kebijakan pengelola. Hingga September, 23 perusahaan di kawasan ini telah mengoperasikan PLTS atap dengan total kapasitas 14,5 MWp. Ketika perusahaan global mengalihkan sebagian konsumsi energi ke sumber terbarukan, mereka sekaligus mengirim sinyal ke rantai pasok bahwa manufaktur berkelanjutan sudah menjadi standar, bukan bonus. Contoh konkret datang dari PT Unilever Indonesia Tbk yang mengembangkan biometana bersama PGN, serta PT Hitachi Astemo Bekasi Manufacturing yang menambah kapasitas PLTS atap dari 1,2 MW menjadi lebih dari 2 MW. Keputusan seperti ini biasanya didorong oleh kebutuhan memenuhi target dekarbonisasi internal dan tuntutan pasar ekspor. Jababeka, dengan dukungan Pertamina energi terbarukan, menyediakan infrastruktur sehingga komitmen tersebut dapat diwujudkan di level operasional pabrik, bukan berhenti pada laporan keberlanjutan.

Energi hijau kawasan industri sebagai model kebijakan energi nasional

Ke depan, kerja sama Jababeka dan Pertamina bergerak dari proyek satu-per-satu menuju portofolio energi hijau yang lengkap: gas pipa, biometana bersertifikat ISCC dari limbah organik, Battery Energy Storage System, hingga perdagangan kredit karbon. Pertamina juga menyatakan fokus pengembangan hidrogen, biometana, dan panas bumi memasuki 2027, serta menjajaki hidrogen hijau untuk transportasi rendah karbon dan skema TOD City di Jababeka. Ini bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi eksperimen tata kelola energi industri yang berpotensi mempengaruhi regulasi nasional. Pertamina menilai sinergi pengelola kawasan, tenant, dan penyedia energi dapat mendorong pemerintah mempercepat perumusan regulasi pendukung transisi energi menuju Net Zero Emission. Artinya, apa yang terjadi di Jababeka dapat berubah menjadi referensi kebijakan: bagaimana energi hijau kawasan industri mampu menjaga aktivitas ekonomi skala besar tetap ramah lingkungan dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah tekanan iklim dan geopolitik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!