Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lima Desainer Mengangkat Wastra Tradisional di Panggung Modest Fashion

Lima Desainer Mengangkat Wastra Tradisional di Panggung Modest Fashion
Minat|Pertunjukan Busana

Modest Fashion Sebagai Panggung Baru Wastra Tradisional

Modest fashion adalah pendekatan berpakaian yang menekankan kesantunan siluet, kenyamanan, dan identitas personal, sekaligus membuka ruang kreatif bagi wastra tradisional Indonesia untuk tampil relevan dalam gaya sehari-hari, busana profesional, hingga panggung internasional, tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat pada kain, motif, dan teknik pengerjaannya. Di panggung IN2MOTIONFEST x JMFW 2026, lima koleksi desainer Indonesia menunjukkan bahwa modest fashion 2026 bukan sekadar tren, melainkan strategi budaya: wastra tradisional Indonesia dijadikan poros desain, bukan tempelan eksotis. Festival yang berlangsung 14–18 Oktober di JICC Senayan menghadirkan lebih dari 300 desainer dan jenama terkurasi, trade show, dialog industri, dan business matching wastra, menjadikannya ekosistem yang serius, bukan sekadar peragaan sesaat.

Puspa Nusantara Ayu Dyah Andari: Flora Endemik dan Empat Wastra

Koleksi Puspa Nusantara dari Ayu Dyah Andari adalah argumen kuat bahwa modest fashion bisa puitis tanpa kehilangan fungsi. Menampilkan delapan look yang memanjakan mata, Ayu merajut romansa tiga bunga ikonis—Rafflesia arnoldi, anggrek, dan melati—sebagai motif flora endemik yang hadir di setiap busana. Pilihan ini bukan dekorasi manis; ia mengangkat narasi ekologi dan kebanggaan lokal ke tubuh pemakainya. Kepekaan budaya Ayu terlihat ketika ia memadukan empat wastra daerah: Batik Kalimantan Tengah, Songket Palembang, Kain Sasirangan, dan Batik Jawa Tengah, yang ia anggap merepresentasikan keragaman tekstil Nusantara meski belum mencakup semua wilayah. Detail kristal dan batu kecubung khas Kalimantan Selatan yang dibentuk khusus untuk koleksi ini menegaskan bahwa wastra tradisional Indonesia layak diperlakukan sebagai perhiasan utama, bukan sekadar aksen pelengkap.

Lima Desainer Mengangkat Wastra Tradisional di Panggung Modest Fashion

TANA DOANG Nina Nugroho: Tenun Makassar untuk Profesional Muslimah

Di sisi lain panggung, Nina Nugroho lewat TANA DOANG – Heritage in Motion mengajukan tesis berbeda: wastra tradisional harus masuk ke lemari kerja perempuan Muslimah, bukan berhenti di acara seremonial. Melalui delapan tampilan busana, ia mengolah tenun Makassar menjadi koleksi fashion Muslimah profesional yang memadukan karakter tegas, potongan modern, dan nilai tradisi. Tenun Lagosi yang merepresentasikan harmoni dan identitas budaya, serta Tenun Sarung Sengkang dengan filosofi Siri’ na Pacce tentang harga diri dan kepedulian, dijadikan elemen utama, bukan motif tempelan. Siluet long outer, jaket, coat, cape, hingga padu padan atasan dan celana kulot menunjukkan bahwa tenun Makassar fashion bisa hadir dalam ruang rapat dan agenda bisnis tanpa kehilangan kesan santun. Kutipan paling kuat dari Nina adalah peringatannya: “Jangan sampai tradisi tenun yang sudah berlangsung selama ratusan tahun… hilang begitu saja tanpa diimplementasikan ke dalam desain-desain yang lebih kekinian”.

Lima Desainer Mengangkat Wastra Tradisional di Panggung Modest Fashion

Moiré Series Paula Verhoeven: Batik Yogyakarta dalam Siluet Modern

Moiré Series dari Amapola by Paula Verhoeven mengambil jalur konseptual: batik Yogyakarta modern dijadikan metafora pertemuan pola dan perspektif. Terinspirasi dari istilah Prancis “Moiré” yang menggambarkan efek visual bergelombang, koleksi ini memadukan batik motif Kawung dan Parang sebagai dua filosofi yang saling melengkapi—Kawung melambangkan keseimbangan dan kebijaksanaan, sementara Parang merepresentasikan kekuatan dan keteguhan untuk terus berkembang. Di tangan Paula, batik Yogyakarta tidak dibekukan sebagai heritage yang kaku; ia diinterpretasikan melalui siluet modern, permainan layering, dan detail refined yang menghadirkan perspektif baru atas keindahan batik Indonesia. Moiré Series menunjukkan bahwa batik Yogyakarta modern mampu berdiri sejajar dengan estetika kontemporer global, sekaligus tetap menjadi bahasa visual yang akrab bagi pemakainya.

Lima Desainer Mengangkat Wastra Tradisional di Panggung Modest Fashion

Regal Bloom Purana: Dialog Timur–Barat dan Posisi Global Modest Fashion

Regal Bloom dari Purana menutup argumen kolektif ini dengan pernyataan lantang: modest fashion adalah ruang dialog lintas budaya. Dipresentasikan sebagai koleksi modest Spring/Summer 2027 di runway JCC Senayan pada 18 Oktober, Regal Bloom merayakan pertemuan keanggunan abadi Eropa dengan kekayaan warisan budaya lokal. Kemewahan kain jacquard, motif floral rumit, paisley, dan tartan dipadukan dengan simbol-simbol lokal seperti motif Parang dan bunga tropis Kecombrang, menciptakan dialog elegan antara Timur dan Barat. Purana menegaskan komitmennya dengan menjadikan 20% koleksi ini berbasis wastra, setiap pola membawa kisah pengrajin dan kebanggaan budaya. Di trade show, brand ini mengundang buyer global, peritel, dan pencinta mode ke booth di Signature Zone untuk business matching dan eksplorasi koleksi siap ekspor. Dalam konteks IN2MOTIONFEST x JMFW yang didukung pemerintah sebagai ajang memperkuat destinasi wisata belanja dan peluang bisnis fashion di pasar internasional, keempat koleksi di atas bersama puluhan lainnya jelas memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam ekosistem modest fashion global.

Lima Desainer Mengangkat Wastra Tradisional di Panggung Modest Fashion

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!