Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Afgan, Winky, dan Maxime: Aura sebagai Manifesto Jadi Diri Sendiri

Afgan, Winky, dan Maxime: Aura sebagai Manifesto Jadi Diri Sendiri
Minat|Menyanyi

‘Aura’: Ketika Funk-Dance Jadi Pernyataan Autentisitas

‘Aura’ adalah single funk-dance hasil kolaborasi tiga sosok lintas genre—Afgan, Winky Wiryawan, dan Maxime Bouttier—yang memadukan gitar bernuansa rock, beat drum enerjik, serta vokal R&B halus untuk menyampaikan pesan tentang berani memancarkan keunikan diri di tengah situasi dunia yang terasa chaos. Alih-alih sekadar proyek senang-senang, kolaborasi musik Indonesia ini terasa seperti manifesto kecil: tidak perlu mengubah diri agar cocok dengan tren, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menguatkan aura personal masing-masing. Dalam konferensi pers di Kuningan, mereka menegaskan bahwa ‘Aura’ dirancang sebagai moodbooster, lagu yang menyalakan energi saat berangkat kerja, menghadapi bad day, atau sekadar butuh alasan untuk berdansa di kamar sendiri. Di era playlist serba aman, hadirnya single Aura funk-dance ini adalah ajakan terang-terangan untuk lebih blak-blakan menjadi diri sendiri.

Afgan, Winky, dan Maxime: Aura sebagai Manifesto Jadi Diri Sendiri

Dari Toilet ke Studio: Inspirasi Mendadak yang Mengubah Rencana

Hal paling menarik dari ‘Aura’ bukan hanya sound-nya, tapi cara ide besarnya muncul: Afgan mengaku gagasan lagu ini datang tiba-tiba saat ia berada di toilet. Di ruang paling santai, ketika pikiran kosong dan tidak sedang memaksa mencari ide, kata “aura” menempel di kepalanya dan langsung ia jadikan judul. Maxime menimpali bahwa mungkin toilet adalah momen paling rileks, dan Afgan menegaskan, “Kadang-kadang ketika lu enggak mencari malah dateng.” Dari situ, ia bergerak cepat: judul dipatenkan lebih dulu, lalu dibawa ke sesi rekaman berikutnya bersama Winky dan Maxime di studio. Bagi siapa pun yang menganggap proses rekaman musik harus selalu formal dan terencana, cerita ini menyodorkan argumen tandingan: kreativitas sering muncul saat kita berhenti berusaha terlihat kreatif. Ide yang lahir dari tempat se-intim toilet ini kemudian tumbuh menjadi proyek kolaborasi musik Indonesia yang cukup ambisius.

Backstage, Jamming, dan Perpaduan Funk, Rock, Metal, R&B

Kolaborasi Afgan Winky Maxime sendiri berawal dari momen santai di backstage Konser Retrospektif Afgan pada Juli 2026, ketika Winky dan Maxime spontan mengusulkan untuk bikin karya bareng. Pertemuan mereka memang sudah kerap terjadi, sehingga ide proyek musik muncul organik dari obrolan, bukan dari meja rapat. Awalnya, Winky dan Maxime mengirim beberapa demo aransemen ke Afgan, tetapi belum ada yang membuat tiga kepala ini sepakat. Baru dalam jamming session, mereka menemukan “eureka moment” dan melahirkan ‘Aura’. Di balik sound funk-dance yang mengajak pendengar berjoget, ada irisan selera heavy rock dan musik keras yang mengikat Winky dan Maxime, sementara Winky menyebut dirinya juga penggemar funk dan R&B ketika bekerja dengan Afgan. Gitar Winky membawa energi rock, drum Maxime memberi dorongan ritmis, dan vokal R&B Afgan merapikan semuanya. Proses rekaman musik yang tampak spontan ini sebenarnya adalah negosiasi serius antara tiga dunia: rock, metal, dan R&B yang disaring ke bentuk funk-dance yang tidak kehilangan edge.

Perfeksionisme Afgan dan Debut Drum Maxime: Detail yang Menaikkan Taraf Lagu

Di balik groove ringan ‘Aura’, ada ketegangan kreatif yang sehat. Setelah rekaman awal, Afgan mendadak menghubungi Winky tengah malam untuk meminta retake vokal karena merasa masih bisa memberi hasil yang lebih baik di beberapa bagian. Winky mengakui perfeksionisme Afgan: ia yakin bisa “lebih bagus lagi di part ini-ini” dan minta kesempatan memberi opsi baru. Ketika take vokal ulang dikirim, Winky mengatakan rekaman terbaru terdengar “jauh lebih bagus” dan menghadirkan sesuatu yang beda yang mengangkat keseluruhan lagu. Di sisi lain, Maxime justru menjalani pengalaman baru: selama ini ia identik dengan gitar, tetapi di ‘Aura’ ia memegang kendali tempo lewat gebukan drum, bahkan mengaku ini pertama kalinya ia bermain drum untuk rekaman. Lagu dibuka dengan beat drum yang ia mainkan, dan ia berharap langkah “refresh” ini bisa menginspirasi orang untuk menunjukkan siapa mereka tanpa takut dihakimi. Detail-detail kecil ini menunjukkan bahwa proses rekaman musik yang baik bukan sekadar menyatukan track, melainkan memberi ruang bagi kegelisahan dan eksperimen.

Pesan ‘Maximum Aura Points’ dan Dampaknya bagi Pendengar

Secara tematik, ‘Aura’ adalah ajakan terang-terangan untuk memancarkan keunikan diri. Liriknya terinspirasi dari orang-orang dengan aura yang begitu kuat hingga membuat sekeliling merasa senang. Winky, Afgan, dan Maxime membawa aura masing-masing: energetic eclectic, elegance perfection, dan easy going charisma, yang ketika digabung mereka sebut sebagai “maximum aura points”. Single AURA diproduseri Winky bersama Kamga dan dirancang sebagai moodbooster di tengah dunia yang terasa kacau. Lagu ini diharap memantik pendengar untuk dengan percaya diri menampilkan keunikan aura mereka masing-masing, seperti halnya ketiga kolaboratornya. Mereka tengah merencanakan perjalanan berikutnya dan tidak menutup kemungkinan membawakan ‘Aura’ di atas panggung secara live, sambil menikmati dulu respons publik terhadap energi musik mereka. Bagi pendengar biasa, dampaknya sederhana tapi penting: ada soundtrack baru untuk berangkat kerja, bangkit dari bad day, dan mengingatkan bahwa menjadi diri sendiri adalah sikap yang bisa terdengar se-funk hook bass dan se-fierce gebukan drum.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!