Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sekolah Buka Program Jurnalistik Lewat Kunjungan Redaksi dan Ekskul

Sekolah Buka Program Jurnalistik Lewat Kunjungan Redaksi dan Ekskul
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Jurnalistik Masuk Sekolah: Dari Ekstrakurikuler ke Etika Bermedia

Pelatihan jurnalistik siswa di sekolah adalah bentuk pembelajaran terstruktur yang mengajarkan cara mencari, memverifikasi, dan menulis informasi, sekaligus membiasakan siswa membaca, menganalisis, dan memproduksi berbagai teks media sebagai bagian dari literasi media siswa yang kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Masuknya jurnalistik ke ruang kelas dan ekstrakurikuler bukan hiasan kurikulum, tetapi respons langsung terhadap banjir informasi yang dikonsumsi anak setiap hari. Sekolah yang mengembangkan ekstrakurikuler jurnalistik sekolah sedang mengirim pesan tegas: literasi media bukan tambahan, tetapi kebutuhan pokok pendidikan abad ini. Di sinilah siswa belajar bahwa berita tidak lahir dari gosip, melainkan dari proses, kaidah, dan etika.

Tiga contoh terbaru—kunjungan redaksi sekolah dari SDN Kepatihan, kerja sama SMK Negeri 1 Tanjung dengan lembaga penyiaran lokal, dan pelatihan jurnalistik di kantor media untuk siswa SMA Progresif Bumi Shalawat—menunjukkan pola baru: sekolah membuka pintu lebar-lebar bagi dunia media, dan sebaliknya, redaksi menerima siswa sebagai calon jurnalis muda.

Sekolah Buka Program Jurnalistik Lewat Kunjungan Redaksi dan Ekskul

SDN Kepatihan: Safari Literasi Sejak Bangku Sekolah Dasar

SDN Kepatihan memilih jalan yang berani untuk level sekolah dasar: kunjungan redaksi tiga hari berturut-turut ke kantor media cetak besar di daerah pada 24–26 September, melibatkan siswa kelas 4, 5, hingga 6. Pada hari terakhir, sebanyak 70 siswa kelas 6 ikut serta, menjadikan safari literasi ini lebih dari sekadar tur rekreasi.

Dalam kunjungan redaksi sekolah ini, siswa menyaksikan rantai penuh kerja jurnalistik, dari peliputan di lapangan, proses penulisan, hingga percetakan dan distribusi koran. Agenda ini jelas menempatkan koran dan situs berita sebagai sumber informasi yang berdampingan dengan media sosial, bukan lawannya. Guru menegaskan, kunjungan ini bertujuan "meningkatkan literasi dan belajar kerja-kerja jurnalistik" sekaligus relevan dengan kokurikuler digitalisasi di sekolah.

Dampaknya nyata: siswa belajar bahwa berita lahir dari pengalaman lapangan, bukan hanya dari teks buku. Dengan memperkuat literasi media siswa sejak SD, sekolah memberi imun dini terhadap hoaks dan bias informasi. Mereka tidak hanya membaca berita, tetapi mengerti bagaimana dan mengapa berita dibuat.

SMK Negeri 1 Tanjung: Ekskul Jurnalistik sebagai Laboratorium Informasi

Jika SDN Kepatihan membangun ketertarikan awal, SMK Negeri 1 Tanjung bergerak ke level praktik rutin. Sekolah ini bekerja sama dengan lembaga penyiaran lokal dalam pengembangan ekstrakurikuler jurnalistik, menjadikannya agenda tetap setiap hari Rabu. Pelatihan jurnalistik siswa bukan lagi acara sesekali, melainkan laboratorium mingguan di mana teori dan praktik bertemu.

Siswa tidak berhenti pada konsep; mereka belajar mencari informasi, menilai nilai berita, menyusun pertanyaan, melakukan wawancara, mengambil gambar, hingga menulis naskah berita. Guru pendamping menekankan bahwa keterlibatan praktisi media penting agar siswa memahami kaidah dan etika jurnalistik yang berlaku. Di sini, pelatihan jurnalistik siswa menjelma menjadi latihan disiplin: setiap klaim harus berbasis fakta, setiap sudut pandang harus dipikirkan.

Rencana ke depan pun jelas: karya siswa akan mengangkat kegiatan di lingkungan sekolah, lalu dikemas menjadi buletin atau konten informasi di media sosial sekolah. Ini bukan sekadar proyek tugas; ini ekosistem informasi internal yang dikelola siswa. Dari sini, keterampilan menulis, komunikasi, dan analisis kritis tumbuh berdampingan dengan rasa tanggung jawab terhadap publik pembaca mereka sendiri.

SMA Progresif Bumi Shalawat: Mengasah Angle dan Etika di Kantor Redaksi

Siswa SMA Progresif Bumi Shalawat melangkah lebih jauh dengan mengikuti pelatihan jurnalistik di kantor salah satu media kota besar, dipandu langsung oleh manajer online redaksi tersebut. Bagi mereka, ini bukan hanya kunjungan, melainkan kelas intensif tentang bagaimana berita dirancang agar jelas, bernilai, dan mudah dipahami pembaca.

Materi yang diberikan mencakup unsur dasar berita 5W+1H, teknik menentukan sudut pandang, menyusun judul, merangkai lead, hingga mengembangkan informasi menjadi tulisan yang runtut. Dalam sesi ini, siswa belajar bahwa menulis berita berarti memilih informasi penting, melakukan verifikasi, lalu menyusunnya ke dalam struktur yang logis dan ringkas.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif; siswa aktif bertanya, menganalisis contoh kasus, hingga berlatih menyusun judul dan lead sendiri. Narasumber mengingatkan, informasi untuk publik harus berbasis fakta dan tidak boleh dibuat-buat. Pesan ini penting: literasi media siswa bukan hanya kemampuan teknis menulis, tetapi juga komitmen moral untuk setia pada kebenaran.

Sekolah Buka Program Jurnalistik Lewat Kunjungan Redaksi dan Ekskul

Mengapa Jurnalistik Harus Menjadi Arus Utama Ekstrakurikuler Sekolah

Tiga praktik berbeda—kunjungan redaksi sekolah, ekstrakurikuler jurnalistik sekolah yang rutin, dan pelatihan jurnalistik intensif—mengarah pada satu kesimpulan: jurnalistik layak menjadi arus utama pengembangan siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tidak hanya terampil membuat berita, tetapi juga mampu menganalisis informasi secara kritis dan menyampaikannya secara akurat dan bertanggung jawab.

Di SDN Kepatihan, safari literasi dirancang untuk meningkatkan literasi media siswa dan pemahaman kerja jurnalistik sejak dini. Di SMK Negeri 1 Tanjung, praktik jurnalistik diarahkan untuk mengangkat kehidupan sekolah, sekaligus membiasakan siswa mengelola informasi internal secara profesional. Di SMA Progresif Bumi Shalawat, siswa dibekali kemampuan memilih dan memverifikasi informasi sebelum dipublikasikan.

Kesamaan ketiganya jelas: pelatihan jurnalistik siswa bukan tujuan akhir, melainkan sarana menumbuhkan keterampilan menulis, komunikasi, dan pemahaman media massa. Jika tren ini diteruskan dan diperluas, sekolah bukan hanya penghasil lulusan, tetapi juga produsen generasi yang melek media, tahan terhadap misinformasi, dan mampu menyusun cerita yang jujur tentang realitas di sekeliling mereka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!