Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Strategi Pertumbuhan Laba Emiten, hingga Lonjakan 183%

Tiga Strategi Pertumbuhan Laba Emiten, hingga Lonjakan 183%
Minat|Asia Tenggara

Restrukturisasi menjadi pijakan pemulihan Waskita

Pertumbuhan laba emiten adalah peningkatan keuntungan perusahaan terbuka dalam periode tertentu, yang dapat ditopang oleh pemulihan operasional, pengendalian biaya, atau perubahan komposisi bisnis. Tiga perusahaan dalam ulasan ini menunjukkan bahwa tak ada satu resep pertumbuhan yang berlaku untuk semua. Waskita Karya, misalnya, mencatat pendapatan Rp8,13 triliun pada kuartal III-2026, naik 53,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika pendapatan tercatat Rp5,29 triliun. Kenaikan tersebut terutama didorong pendapatan jasa konstruksi yang tumbuh 71,5% menjadi Rp6,45 triliun, termasuk dukungan realisasi proyek pemerintah senilai Rp3,9 triliun. Namun, angka pendapatan yang membaik belum dengan sendirinya membuktikan pemulihan tuntas. Nilai strategisnya terletak pada upaya menyehatkan neraca sekaligus mengembalikan fokus pada bisnis inti.

Restrukturisasi keuangan perusahaan yang dimulai sejak 2023 menjadi bagian penting dari upaya itu. Pada 2024, Waskita menandatangani perjanjian restrukturisasi induk dengan 21 bank dan terus menjalankannya. Sejak akhir 2023, utang perusahaan turun 20,8% menjadi Rp66,5 triliun dari sekitar Rp84 triliun. Manajemen juga menyebut beban keuangan turun menjadi Rp2,79 triliun, sementara perusahaan berupaya memenuhi kewajiban dan menekan beban lebih lanjut. Arah berikutnya adalah memulihkan kegiatan operasional inti dan kembali berperan sebagai kontraktor murni. Bagi Waskita, pertumbuhan pendapatan baru akan bernilai kuat jika disiplin pembayaran dan fokus usaha dapat berjalan beriringan.

Tiga Strategi Pertumbuhan Laba Emiten, hingga Lonjakan 183%

Efisiensi energi menopang strategi BLES

BLES menawarkan jalur pertumbuhan yang berbeda: menjaga efisiensi operasional di tengah ekspansi produksi. Produsen bata ringan ini membukukan laba bersih Rp147,1 miliar pada semester I-2026, melonjak dari Rp8,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan juga meningkat 33,3% menjadi Rp848 miliar dari Rp636,2 miliar. Skala kenaikan laba jauh melampaui pertumbuhan penjualan, tetapi data yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa efisiensi energi menjadi penyebab langsung lonjakan tersebut. Yang jelas, perusahaan telah memasang PLTS berkapasitas 4.362 kilowatt-peak serta mengoperasikan 48 forklift listrik dan satu loader listrik di fasilitas produksi. Investasi ini menunjukkan bahwa efisiensi energi terbarukan diperlakukan sebagai bagian dari strategi operasi, bukan sekadar pelengkap citra.

Langkah itu masuk akal bagi produsen dengan kebutuhan energi besar: pengendalian pemakaian energi dan sumber daya dapat membantu menjaga produktivitas serta daya saing saat kegiatan manufaktur berkembang. Namun, manfaat ekonominya belum bisa dinilai hanya dari daftar peralatan. Belum tersedia angka kuantitatif tentang penghematan biaya maupun penurunan emisi, sehingga investor tetap perlu mencermati margin keuntungan, biaya energi, volume penjualan, dan tingkat pemanfaatan kapasitas. BLES menyatakan akan terus mengkaji teknologi yang sesuai dengan kebutuhan produksi dan strategi pertumbuhan. Itu pendekatan yang lebih meyakinkan daripada menganggap elektrifikasi sebagai jawaban otomatis: keberhasilannya harus terlihat pada efisiensi terukur dan profitabilitas yang bertahan.

Logistik mengubah peta bisnis RISE

RISE memperlihatkan bagaimana diversifikasi dapat mengubah sumber pertumbuhan sebuah emiten properti. Hingga September 2026, pendapatan perusahaan mencapai Rp364,5 miliar, naik 24% secara tahunan, sedangkan laba bersih melonjak 183% menjadi Rp147 miliar. Pendorong utamanya bukan hanya pengembangan properti konvensional: segmen industrial dan logistik mencatat pertumbuhan pendapatan 621% menjadi Rp168,6 miliar, atau 46% dari total pendapatan. Karena menjadi kontributor terbesar, bisnis logistik properti kini berperan penting dalam kinerja RISE. Hasil ini mendukung tesis bahwa diversifikasi dapat membuka mesin pertumbuhan baru, meski konsentrasi pendapatan yang besar pada segmen tertentu juga membuat perkembangan segmen itu penting untuk dipantau.

Portofolio RISE juga mendapat dukungan dari hotel, MICE, dan rekreasi yang tumbuh 12% menjadi Rp139 miliar, serta segmen bisnis distrik yang meningkat 127% menjadi Rp23,4 miliar. Perusahaan menyebut kenaikan pada bisnis perhotelan didukung peningkatan okupansi dan mulai beroperasinya sejumlah hotel pada 2026. Ke depan, RISE melanjutkan pengembangan Tanrise Bandung, Tanrise Industrial Park Palembang, VASA Ubud, dan proyek lainnya. Ketiga kasus ini menegaskan bahwa pertumbuhan laba emiten regional bisa bersumber dari pemulihan neraca, efisiensi produksi, atau perluasan ke logistik. Tidak satu pun strategi menjamin hasil berulang dengan sendirinya. Kesimpulannya, kualitas pertumbuhan perlu dinilai dari kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja sambil membuktikan bahwa pilihan strateginya menghasilkan manfaat operasional yang terukur.

Tiga Strategi Pertumbuhan Laba Emiten, hingga Lonjakan 183%

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!