Energi di Kawasan Timur: Fondasi Konektivitas, Bukan Sekadar Pasokan
Infrastruktur energi timur adalah jaringan fasilitas penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran BBM serta bahan bakar penerbangan avtur yang menghubungkan pelabuhan, bandara, dan titik distribusi di wilayah kepulauan, sehingga mobilitas orang dan barang dapat berjalan stabil, biaya logistik terkendali, dan pertumbuhan ekonomi kawasan tidak terhambat oleh keterbatasan pasokan energi. Ketersediaan energi di kawasan kepulauan jelas bukan isu teknis semata, melainkan penentu siapa yang bisa ikut dalam arus pertumbuhan. Pertamina membaca realitas ini dengan pendekatan yang cukup agresif: bukan menunggu permintaan melonjak lalu kewalahan, tetapi lebih dulu memperkuat dan mengevaluasi distribusi BBM Pertamina serta avtur di titik-titik strategis seperti Ambon, Ternate, dan Fuel Terminal Bau-Bau. Langkah ini menegaskan bahwa konektivitas ekonomi kawasan timur hanya masuk akal jika fondasi energinya ditangani sebagai prioritas jangka panjang, bukan proyek tambal sulam.
Ambon dan Maluku: Avtur dan LPG sebagai Syaraf Mobilitas Udara dan Rumah Tangga
Di Ambon, rantai pasok energi menunjukkan bagaimana infrastruktur yang tepat bisa mengubah keterisolasian menjadi peluang. Integrated Terminal Wayame menyuplai LPG ke SPBE dan kemudian ke rumah tangga, memastikan dapur warga tetap menyala tanpa harus bergantung pada pengiriman sporadis. Di sisi lain, Aviation Fuel Terminal Pattimura memasok kebutuhan bahan bakar penerbangan avtur bagi sekitar 15 penerbangan per hari di Bandara Pattimura, menjadikan mobilitas udara Maluku jauh lebih terjamin. Ketika Direktur Manajemen Risiko Pertamina melakukan Management Walkthrough di Ambon pada 3 September 2026, fokusnya bukan sekadar audit SOP, tetapi membaca apakah kedua jalur pasok ini siap menghadapi lonjakan kebutuhan tiga, lima hingga sepuluh tahun ke depan. Sikap ini patut diapresiasi: tanpa keandalan avtur dan LPG, wacana penguatan konektivitas ekonomi kawasan akan berhenti sebagai tagline, bukan kenyataan.
Ternate: Terminal BBM dan Avtur sebagai Penghubung Pulau dan Pasar
Ternate menjadi contoh paling jelas bahwa infrastruktur energi timur adalah urusan politik ekonomi, bukan hanya operasi teknis. Pada 1 September, kunjungan Ahmad Siddik Badruddin ke AFT Baabullah dan Fuel Terminal Ternate memotret dilema klasik kawasan kepulauan: pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan trafik penerbangan dan konsumsi BBM, tetapi kapasitas fasilitas bisa tertinggal jika tidak dievaluasi sejak dini. AFT Baabullah saat ini melayani sekitar 15 penerbangan per hari, angka yang akan terasa kecil begitu aktivitas perdagangan dan pariwisata naik. Di sisi lain, Fuel Terminal Ternate menjadi simpul penting distribusi BBM Pertamina ke Ternate dan pulau-pulau sekitarnya melalui jalur laut dari Wayame, termasuk rencana penguatan jetty untuk menerima pasokan lebih andal. Tanpa investasi dan perencanaan kapasitas yang serius, jaringan ini rentan menjadi hambatan utama bagi konektivitas ekonomi kawasan, alih-alih menjadi pengungkit.

Fuel Terminal Bau-Bau: Backbone Distribusi yang Menentukan Nasib Wilayah Terpencil
Fuel Terminal Bau-Bau di Sulawesi Tenggara adalah ilustrasi terbaik bahwa terminal BBM bukan sekadar tangki dan pipa, melainkan tulang punggung distribusi energi dan barang ke wilayah terpencil. Melalui Management Walk Through pada 5 September 2026, pemerintah dan manajemen Pertamina melihat langsung bagaimana FT Bau-Bau mengatur penyaluran BBM dan produk energi lain ke wilayah kepulauan sekitarnya, sehingga kesinambungan pasokan tetap terjaga meski tantangan geografis tinggi. Keberadaan terminal ini praktis menghubungkan pelabuhan dengan rantai distribusi barang: tanpa BBM yang stabil, kapal pengangkut logistik dan angkutan darat akan kehilangan nyawa operasional. Apresiasi regulator terhadap kesiapan sarana Bau-Bau penting, tetapi yang lebih menentukan adalah tindak lanjut atas masukan untuk terus meningkatkan keandalan operasional. Jika FT Bau-Bau diperlakukan sebagai backbone yang harus selalu satu langkah di depan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti, maka biaya logistik dan risiko kekosongan pasokan di wilayah terpencil bisa ditekan secara nyata.
Dari Evaluasi ke Agenda Pembangunan: Energi sebagai Strategi Ekonomi Timur
Rangkaian kunjungan dan Management Walkthrough di Ambon, Ternate, dan Bau-Bau menunjukkan satu hal: Pertamina mulai menempatkan infrastruktur energi timur sebagai agenda strategis jangka panjang, bukan proyek pemadam kebakaran. Evaluasi kapasitas AFT Baabullah untuk pertumbuhan penjualan avtur, pengembangan jetty di Ternate, dan penguatan peran FT Bau-Bau sebagai backbone distribusi tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga memetakan skenario tiga sampai sepuluh tahun ke depan. Menurut saya, langkah berikutnya harus lebih berani: memasukkan peta distribusi BBM Pertamina dan avtur ke dalam perencanaan ekonomi regional sebagai variabel utama, sejajar dengan pembangunan pelabuhan dan bandara. Tanpa itu, konektivitas ekonomi kawasan timur akan terus bergantung pada keputusan teknis korporasi. Dengan itu, energi akan menjadi instrumen kebijakan pembangunan yang sengaja dirancang untuk menghubungkan pulau, menurunkan biaya logistik, dan membuka pasar baru bagi warga di wilayah-wilayah yang selama ini berada di pinggiran.






