Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

The Fed Menahan Suku Bunga, Wall Street Menguat Terbatas

The Fed Menahan Suku Bunga, Wall Street Menguat Terbatas
Minat|Analisis Data AI

Jeda suku bunga memberi napas, bukan kepastian

Suku bunga The Fed adalah biaya acuan pinjaman yang ditetapkan bank sentral Amerika Serikat dan memengaruhi biaya kredit, kegiatan ekonomi, serta keputusan investor di pasar global. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Federal Reserve mempertahankan suku bunga sesuai harapan pasar; Wall Street menguat setelah keputusan itu, tetapi kenaikannya tidak cukup kuat untuk menghapus kekhawatiran inflasi. Respons awal terlihat pada Dow Jones yang naik 97,53 poin atau 0,19 persen menjadi 52.475,1, S&P 500 yang bertambah 0,28 persen, dan Nasdaq yang naik 0,27 persen. Namun, perdagangan Kamis menunjukkan gambaran lebih beragam: S&P 500 naik 0,1 persen, Dow bertambah 107 poin atau 0,2 persen, sementara Nasdaq turun 0,1 persen. Artinya, keputusan yang sudah diperkirakan pasar mengurangi kejutan, tetapi belum memberi alasan kuat untuk bertaruh pada reli panjang.

Dampaknya melampaui bursa. Suku bunga yang lebih tinggi membuat pinjaman lebih mahal, sehingga rumah tangga dapat menahan belanja dan perusahaan menunda ekspansi; langkah itu bisa meredakan tekanan permintaan, tetapi juga menghambat pertumbuhan bisnis dan mengurangi daya tarik saham. Karena itu, mempertahankan suku bunga memberi jeda, bukan jaminan bahwa kondisi keuangan akan segera lebih longgar. Sikap The Fed yang mengakui inflasi masih tinggi membuat investor tetap menimbang kemungkinan pengetatan lanjutan. Peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember kini diperkirakan 85 persen, naik dari 78,3 persen sebelumnya.

Saham AI menopang sentimen, tetapi biaya modal membayangi

Pergerakan saham AI menjadi salah satu penopang penting bagi Wall Street. Optimisme terhadap permintaan cip memori mengangkat Micron, setelah SK Hynix melaporkan lonjakan laba kuartalan dan menyebut industri memasuki siklus positif berkat penggunaan AI. Micron naik 5,9 persen pada perdagangan Rabu, sementara saham SK Hynix yang tercatat di New York melonjak 13,3 persen; indeks semikonduktor Philadelphia juga naik 1,8 persen. Pada sesi berikutnya, saham Micron kembali terdorong setelah saham SK Hynix naik 10,9 persen di Seoul. SK Hynix memperkirakan permintaan industri akan melampaui pasokan hingga 2030. Angka dan prospek itu mendukung keyakinan bahwa belanja komputasi AI masih menjadi mesin pertumbuhan bagi pemasok cip.

Namun, euforia AI punya batas yang jelas: pembangunan pusat data memerlukan investasi besar, dan pembiayaan mahal dapat mengubah proyek yang menjanjikan menjadi beban. Saham terkait AI sebelumnya berfluktuasi karena kekhawatiran biaya pinjaman menekan pembangunan infrastruktur yang banyak dibiayai utang. Jadi, permintaan teknologi yang kuat tidak otomatis menjamin semua perusahaan dalam rantai pasok memperoleh keuntungan setara. Laporan perusahaan juga menghasilkan respons yang tidak seragam. Microsoft melonjak 4 persen setelah melaporkan laba kuartalan, sedangkan Alphabet merosot 7 persen setelah hasilnya dirilis. Pasar kini menuntut bukti bahwa belanja AI menghasilkan pendapatan, bukan sekadar janji pertumbuhan.

Minyak dan risiko inflasi menahan reli

Harga minyak menjadi rem utama bagi optimisme. Minyak mentah Brent naik 2 persen menjadi USD111,59 per barel, menambah tekanan inflasi dan mendorong imbal hasil Treasury karena energi mahal meningkatkan biaya produksi serta transportasi. Kenaikan energi juga membuat emas berjangka turun 0,6 persen, menurut data perdagangan yang dilaporkan pada Rabu. Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun naik menjadi 5,03 persen dari 4,99 persen, dan imbal hasil dua tahun bertambah menjadi 4,77 persen dari 4,70 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa keputusan suku bunga yang tidak berubah belum menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi maupun risiko geopolitik.

Sinyal dari dalam bank sentral pun tidak sepenuhnya menenangkan: dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, menginginkan kenaikan suku bunga seperempat poin persentase, sementara mayoritas memilih mempertahankan tingkat saat ini. Perbedaan pandangan itu memperjelas mengapa kenaikan indeks tidak serta-merta berarti investor yakin kebijakan akan segera melonggar. Selama biaya pinjaman dan risiko geopolitik belum mereda, saham kemungkinan tetap peka terhadap data ekonomi dan laporan keuangan. Kesimpulannya, Wall Street menguat karena The Fed tidak memberi kejutan, dan saham AI memberi dukungan nyata. Namun, harga minyak serta ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember membatasi ruang reli. Pasar membutuhkan inflasi yang lebih jinak, bukan hanya jeda kebijakan, untuk mengubah kenaikan sesaat menjadi momentum yang lebih meyakinkan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!