Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Desainer Lokal Ekspansi: Dari Songket ke Batik Anak

Desainer Lokal Ekspansi: Dari Songket ke Batik Anak
Minat|Rilis Tren

Dari Warisan Keluarga ke Strategi Ekspansi Brand

Tren desainer lokal ekspansi adalah gerakan ketika perancang yang bertumpu pada warisan fashion etnik Indonesia mulai memperluas lini produknya ke segmen baru—milenial, anak-anak, hingga kolaborasi keluarga—dengan pendekatan bisnis yang terencana, berorientasi pasar, dan tidak lagi sekadar mengandalkan pola bisnis keluarga tradisional.

Gelombang baru ini tampak jelas pada desainer yang menjadikan tenun, songket, dan batik sebagai basis identitas, namun menolak terjebak di ceruk seremonial dan pasar dewasa saja. Mereka membaca celah pasar, membentuk sub-brand, menggandeng generasi penerus, dan memikirkan keberlanjutan usaha, bukan hanya koleksi musiman. Di satu sisi, ini adalah upaya mempertahankan fashion etnik Indonesia agar tetap relevan dan dipakai lintas usia. Di sisi lain, ini menunjukkan kedewasaan industri: brand keluarga fashion mulai berpikir seperti perusahaan dengan ekspansi yang terstruktur, bukan sekadar usaha rumahan yang bergantung pada satu figur kreatif.

Anna Mariana: Milenial Menjadi Penjaga Baru Tenun dan Songket

Kasus Anna Mariana memperlihatkan bagaimana warisan tenun dan songket dibawa masuk ke dunia milenial tanpa kehilangan akar. Perancang ini mengajak seluruh anaknya terjun ke bisnis, mulai dari Raden Mas Dicka dengan label RMD Collection untuk busana pria berbahan tenun dan songket, lalu putri kembar berusia 16 tahun, Sasya dan Quita, yang meluncurkan karya busana di bawah label House of Marsha by Sasha dan House of Marsha by Quita.

Karya mereka dipresentasikan dalam fashion show di Atrium Lippo Mall Kemang pada 21 September 2019, lengkap dengan model pemenang ajang kecantikan sebagai penanda keseriusan langkah ini. Sasya memilih jalur ready to wear untuk office look anak muda pekerja, sementara Quita fokus pada casual look untuk keseharian milenial. Anna secara terbuka menyebut dirinya perlu melebarkan sayap untuk menjangkau segmentasi milenial agar sejarah tenun dan songket tidak punah. Kalimat kuncinya tegas: melalui desain Sasya dan Quita, pelestarian tenun dan songket bisa berkelanjutan dan menjangkau beragam target pasar.

Leny Rafael dan Wou Kids: Menutup Kekosongan Batik Koleksi Anak

Jika Anna fokus pada milenial, Leny Rafael memilih celah yang selama ini diabaikan: batik koleksi anak. Menurutnya, batik selama ini lebih banyak hadir dalam koleksi busana dewasa, sementara kebutuhan pakaian batik yang sesuai usia anak masih terbuka lebar. Dari pembacaan pasar itu lahir Wou Kids, lini baru yang pada tahap awal menyasar anak perempuan dan resmi diluncurkan dalam acara “SABAGYA” di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, pada 11 September 2026.

Leny menegaskan bahwa orang tua dan anak kerap kesulitan mencari batik yang cocok dengan umur mereka. Wou Kids menjawab masalah praktis itu sekaligus memperluas jangkauan brand-nya setelah lama berkecimpung di industri fashion. Menariknya, ide lini anak ini juga disentuh putrinya, Syana Kania Salsabilla Suprayogi, yang sebelumnya mendesain busana untuk anak-anak figur publik. Di saat bersamaan, Leny meluncurkan DW untuk perempuan dengan gaya simple elegance dan merayakan 10 tahun Wou Batik serta 25 tahun kariernya. Ia menekankan, “Tidak hanya membuat karya tapi bagaimana membangun bisnis fashion yang terus ada dan berkelanjutan.”

Dampak ke Konsumen: Dari Acara Formal sampai Sehari-hari

Ekspansi para desainer lokal ini terasa langsung di level pengguna. Orang tua yang sebelumnya kebingungan mencari batik yang sesuai usia anak kini punya opsi batik koleksi anak yang lebih relevan secara desain dan potongan. Anak-anak pun tidak lagi dipaksa mengenakan miniatur busana dewasa, tetapi pakaian yang nyaman, bermain warna, dan tetap memegang motif tradisional. Sementara itu, milenial yang ingin tampil modern tanpa melepas identitas budaya mulai melihat tenun dan songket sebagai bagian natural dari lemari kerja dan pakaian kasual mereka, bukan sekadar kostum acara adat.

Leny menilai batik kini bisa digunakan untuk berbagai occasion, dari ready to wear sehari-hari hingga busana glamor bernilai tinggi. Anna pun menegaskan bahwa pameran dan fashion show adalah cara memperlihatkan bahwa tenun dan songket bisa dipakai semua kalangan, termasuk milenial. Hasilnya, fashion etnik Indonesia bergerak dari ruang seremoni ke kehidupan harian, memperkuat kedekatan emosional generasi baru dengan motif tradisi tanpa terasa menggurui.

Dari Usaha Keluarga ke Ekspansi Terstruktur: Apa Berikutnya?

Benang merah dari Anna Mariana dan Leny Rafael adalah transformasi dari bisnis keluarga tradisional menjadi brand keluarga fashion dengan ekspansi yang terstruktur. Anna menjadikan anak-anaknya bukan sekadar penerus, tetapi co-creator yang memahami selera generasinya, lalu merencanakan pameran dan fashion show berkesinambungan sebagai strategi jangka panjang. Bahkan Quita menyebut rencana road show ke berbagai daerah dan kemungkinan ke luar negeri, sebuah langkah yang jelas berorientasi pada perluasan pasar, bukan sekadar pengulangan rutinitas.

Leny di sisi lain menekankan pentingnya memahami perubahan dunia marketing dan cepatnya arus fast fashion sebagai alasan untuk terus berkarya dan menjaga eksistensi. Ia menyoroti bahwa desainer kini harus memikirkan keberlangsungan usaha agar merek mampu bertahan dalam perubahan pasar, bukan hanya mengejar koleksi terbaru. Ke depan, pola seperti ini kemungkinan akan semakin umum: desainer lokal ekspansi ke segmen baru, anak dan milenial menjadi fokus, dan fashion etnik Indonesia tetap menjadi pusat identitas tetapi dibalut strategi bisnis modern yang sadar data, riset pasar, dan kolaborasi lintas generasi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!