Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Inflasi Pangan Melonjak di September: Cabai, Beras, dan El Niño

Mengapa Inflasi Pangan Melonjak di September: Cabai, Beras, dan El Niño
Minat|Asia Tenggara

Lonjakan Inflasi Pangan September: Bukan Angka Kecil bagi Dapur Rumah Tangga

Inflasi pangan September 2026 adalah kenaikan terukur pada Indeks Harga Konsumen yang terutama digerakkan oleh naiknya harga makanan sehari-hari seperti cabai, beras, daging ayam, telur, dan ikan segar, sehingga memperbesar porsi pengeluaran rumah tangga dan menekan daya beli masyarakat, meskipun inflasi nasional tampak masih dalam kisaran sasaran. Inflasi bulanan nasional tercatat 0,30% month-to-month, dengan IHK naik dari 111,97 pada Agustus menjadi 112,31 pada September. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,28% dan inflasi tahun kalender 2,17%. Di atas kertas, angka ini terlihat moderat. Namun ketika sumber utama inflasi adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,88% dan andil 0,26%, jelas lonjakan terjadi tepat di keranjang belanja sehari-hari masyarakat. Di sinilah problem nyata muncul: dapur terasa jauh lebih panas daripada grafik inflasi di layar presentasi.

Cabai Rawit, Beras, dan Ikan: Komoditas Kecil, Dampak Besar bagi Inflasi

Lonjakan inflasi pangan September tidak datang dari barang mewah, melainkan dari bahan pokok paling akrab di piring makan. Cabai rawit menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,08%, diikuti cabai merah 0,06%, daging ayam ras 0,05%, beras 0,03%, telur ayam 0,02%, serta ikan segar dan kangkung masing-masing 0,01%. Ketika harga cabai rawit naik tajam, rumah tangga berpenghasilan rendah merasakan dua lapis pukulan: rasa masakan yang berkurang dan kantong yang makin tipis. Kenaikan harga beras bahkan lebih menyakitkan karena bobotnya besar dalam pengeluaran; satu-dua persen kenaikan di beras berarti mengorbankan menu lain. “Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama cabe rawit dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono. Inflasi komponen harga bergejolak mencapai 1,46% dengan andil 0,24%, menunjukkan betapa kuat pengaruh lonjakan harga cabai dan beras terhadap inflasi pangan September 2026.

Dampak El Niño dan Cuaca terhadap Pangan: Dari Sawah ke Laut

Lonjakan inflasi pangan September tidak dapat dipisahkan dari dampak El Niño terhadap produksi pangan. Harga beras mulai menunjukkan kenaikan yang mengindikasikan dampak awal fenomena ini terhadap harga pangan. El Niño memicu kekeringan di sejumlah wilayah dan mengganggu pola tanam, sehingga produksi hortikultura turun dan pasokan ke pasar mengecil. Kemenko Perekonomian mencatat inflasi harga bergejolak tahunan 5,03% dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Di laut, perubahan suhu dan arus perairan ikut mempengaruhi tangkapan ikan, berkontribusi pada kenaikan harga ikan segar yang masuk daftar penyumbang inflasi. Tekanan dari sisi permintaan juga tidak kecil: program makan bergizi gratis meningkatkan kebutuhan bahan pangan, khususnya beras, daging ayam, dan telur. Ketika shock iklim bertemu lonjakan permintaan, inflasi pangan menjadi hampir tak terhindarkan—dan konsumen yang lemah daya beli akan selalu menjadi korban pertama.

Beras sebagai Penyangga Stabilitas dan Daya Beli di Daerah

Di tingkat daerah, beras adalah komoditas kunci untuk menahan dampak inflasi pangan September 2026 pada daya beli masyarakat. Di Bengkulu, BPS menegaskan bahwa beras perlu dijaga ketat untuk memastikan stabilitas inflasi hingga akhir tahun, karena komoditas dengan bobot besar dalam pengeluaran memiliki efek langsung pada perkembangan inflasi. Inflasi tahunan di provinsi ini mencapai 3,38% dengan inflasi bulanan 0,38% dan inflasi kumulatif 2,71%. Ketika beras sebagai komoditas utama goyah, rumah tangga akan mengalihkan belanja dari sumber protein atau sayuran, menurunkan kualitas gizi meski kalori tercukupi. Pemerintah pusat mengakui tekanan ini dan menyiapkan serangkaian langkah: penyaluran Program Keluarga Harapan tahap III, Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan selama Oktober–Desember, serta percepatan penyaluran beras medium oleh Bulog. Strategi ini bukan hanya soal stabilitas harga beras, tetapi soal melindungi daya beli masyarakat yang sudah terkikis oleh inflasi pangan September 2026.

Ke Depan: Mengendalikan Inflasi Pangan dan Menyelamatkan Daya Beli

Melihat pola September, menganggap inflasi terkendali hanya karena angka nasional masih dalam rentang sasaran adalah sikap berbahaya. Inflasi harga bergejolak sudah naik ke 5,03% yoy, mendekati level tertinggi sejak pertengahan tahun, dengan cabai rawit, beras, dan daging ayam sebagai motor utama. Ekonom memproyeksikan tekanan dari sisi pasokan masih berlanjut hingga akhir tahun, dengan inflasi IHK diperkirakan bisa menyentuh sekitar 3,13% jika harga energi bersubsidi tetap. Pemerintah menyatakan akan memperkuat bauran kebijakan memasuki kuartal IV untuk menjaga inflasi dan menopang daya beli masyarakat, melalui penguatan cadangan beras, Gerakan Pangan Murah, dan koordinasi TPIP-TPID. Namun kebijakan tidak boleh berhenti pada respons jangka pendek terhadap inflasi pangan September 2026. Tanpa investasi serius pada adaptasi iklim, infrastruktur distribusi, dan perlindungan pendapatan rumah tangga rentan, setiap siklus El Niño berikutnya akan kembali mengulang cerita yang sama: grafik inflasi naik, tetapi kualitas hidup turun.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!