El Niño, kekeringan, dan ancaman harga pangan hingga 2027
El Niño adalah fenomena pemanasan anomali suhu muka laut di Pasifik yang mengubah pola curah hujan global, memperpanjang musim kemarau, memicu kekeringan, mengganggu produksi pangan, dan pada akhirnya mengerek harga bahan makanan pokok di banyak negara sekaligus menjadi ujian bagi kebijakan pangan dan daya tahan rumah tangga miskin terhadap lonjakan harga pangan berkepanjangan.
Intinya, El Niño dampak pangan bukan lagi soal kemungkinan, tetapi soal seberapa besar kerusakan yang akan terjadi jika kebijakan dan perilaku konsumsi kita lambat beradaptasi. BMKG mencatat indeks ENSO rata-rata Juli–September berada di +2,63, menunjukkan El Niño sangat kuat, sementara anomali Nino3.4 tembus +2,97. Kombinasi ini, bersama Indian Ocean Dipole yang positif, mengurangi pasokan kelembapan dan memperpanjang periode kering. Musim ini belum selesai: lembaga cuaca Amerika memberi peluang lebih dari 90% bahwa El Niño tetap sangat kuat di kuartal akhir 2026 dan otoritas pertanian di kawasan memprediksi dampak iklim kering bertahan hingga awal 2027. Jika mitigasi krisis pangan setengah hati, harga pangan 2027 berisiko melonjak.
Kekeringan sawah dan rapuhnya lumbung padi regional
Kekeringan sawah Indonesia kini bukan fenomena lokal, melainkan bagian dari krisis pertanian Asia yang terjadi bersamaan. Musim kemarau yang memanjang membuat 87,53% wilayah menerima curah hujan kategori rendah pada pertengahan September, dengan 86,62% wilayah mencatat hujan di bawah normal. Hari tanpa hujan ekstrem lebih dari 60 hari mendominasi sebagian Jawa tengah-timur, Bali, NTB, NTT, Sumatra selatan, Kalimantan selatan, hingga Sulawesi selatan-tenggara. Di banyak tempat, ini berarti jadwal tanam mundur, debit irigasi turun, dan risiko gagal panen meningkat tajam.
Peta peringatan dini menunjukkan status Awas kekeringan meteorologis di DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Bangka Belitung, dan Maluku. Ironinya, wilayah-wilayah ini adalah sentra padi: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur adalah lumbung utama, sementara NTB dan Gorontalo penting bagi padi dan jagung. Dengan kata lain, El Niño dampak pangan memukul tepat di jantung produksi. Di tingkat regional, tekanan serupa dialami India, Vietnam, dan Thailand—tiga eksportir beras terbesar dunia yang disebut paling rentan terpukul El Niño tahun ini. Bagi sebagian negara di kawasan, babak terberat masih di depan.
Kesiapan kebijakan: pompa, pupuk, dan mitigasi krisis pangan
Perbedaan terbesar antara krisis dan ketahanan bukan pada cuaca, melainkan pada kesiapan kebijakan. Pemerintah memperkuat mitigasi melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, pompanisasi, pemanfaatan sumber air alternatif, serta penyesuaian jadwal tanam. Hingga pertengahan September, tercatat 137.573 unit pompa disiagakan di sawah yang masih memiliki sumber air. Ini langkah penting, meski tidak cukup jika tidak diiringi pengelolaan air yang hemat dan berkelanjutan.
Seorang peneliti senior menyebut ketahanan pangan yang relatif terjaga saat banyak sawah Asia goyah bukan hasil "keberuntungan cuaca", melainkan buah kebijakan tegas Presiden Prabowo Subianto dan eksekusi cepat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Kutipan lain yang penting dicatat adalah: "Urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram... anggaran subsidi sekitar Rp46 triliun menjamin volume nasional kira-kira 8,9 juta ton." Penurunan harga pupuk bersubsidi hingga 20% dilakukan melalui efisiensi industri dan pembenahan distribusi, disertai pencabutan 2.231 izin pengecer dan distributor nakal. Namun pompa hanya efektif bila sumber airnya berkelanjutan, sehingga diperlukan teknik pengairan hemat air seperti pengairan basah kering berselang. Inilah inti mitigasi krisis pangan: bukan sekadar menggelontorkan bantuan, tetapi mengubah cara produksi.
Harga pangan 2027: ancaman inflasi dan peran konsumen
El Nino diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026, dengan dampak berpotensi berlanjut ke tahun berikutnya sebelum beralih ke La Nina. Artinya, risiko harga pangan 2027 naik bukan isapan jempol. Seorang Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional menegaskan, pemerintah perlu memperkuat perencanaan mitigasi risiko El Niño untuk mencegah gangguan produksi dan distribusi yang bisa memicu tekanan kenaikan harga pada 2027. Bukan hanya kekeringan yang berbahaya; peralihan ke La Nina dengan curah hujan meningkat juga dapat menghadirkan banjir yang kembali mengganggu produksi dan distribusi.
Di lapangan, ketika air menyusut dan pupuk tersendat, gejolak sosial muncul. Pada 18 September 2026 di Gabtala Bazar, Kurigram, Bangladesh utara, petani memblokade jalan Madarganj-Kachakata, menuntut pupuk dan menahan petugas penyuluh hampir empat jam. Di negara lain, petani mengeluh listrik irigasi yang hanya menyala beberapa jam sehingga terpaksa menggunakan pompa diesel yang lebih mahal. Pelajarannya jelas: ketika sistem pangan rapuh, ketegangan cepat menjalar ke jalanan. Mitigasi krisis pangan karena itu tidak hanya soal produksi, tetapi juga menjaga kelancaran distribusi, menyiapkan cadangan, dan memastikan inflasi pangan tidak menghantam kelompok rentan. Konsumen pun perlu mengubah pola belanja: mengurangi pemborosan, memvariasikan sumber karbohidrat, dan tidak melakukan panic buying yang memicu lonjakan harga.
Apa yang perlu diperkuat dan apa yang harus diketahui rumah tangga
Ke depan, pemerintah tidak boleh puas dengan kesiapan yang ada. Awal musim hujan 2026/2027 diperkirakan mundur di 529 Zona Musim, atau 61,08% daratan, dengan durasi musim hujan lebih pendek di 482 ZOM. Dengan latar El Niño sangat kuat yang dikawinkan dengan gangguan pasokan pupuk akibat konflik di Timur Tengah, ruang salah urus menjadi amat sempit. Mitigasi harus menyeluruh: menjaga produksi, menjamin distribusi, dan meningkatkan kesiapan menghadapi bencana, seperti diserukan dalam forum ekonomi nasional.
Untuk rumah tangga, pesan kuncinya dua. Pertama, El Niño dampak pangan akan terasa bukan hanya di sawah, tetapi di dompet: lonjakan harga bisa datang terlambat, ketika stok lama habis dan panen baru terganggu. Kedua, ketahanan pangan keluarga bukan sekadar soal menimbun beras, melainkan membiasakan pola makan lebih beragam, menekan pemborosan, dan, bila mampu, mulai menanam pangan sederhana di pekarangan. Harga pangan 2027 masih bisa terkendali bila kebijakan dan perilaku konsumen berjalan searah. Namun bila salah satu lengah, kita berisiko mengulang skenario krisis yang bukan hanya menguras kantong, tetapi menggerus kepercayaan pada institusi publik.






