TPQ Bukan Sekadar Mengaji: Pondasi Karakter Sejak Usia Dini
Program TPQ modern adalah penyelenggaraan Taman Pendidikan Quran di masjid yang tidak hanya mengajarkan baca tulis Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan disiplin, akhlak, dan kebiasaan islami pada anak usia 5–12 tahun melalui kurikulum terstruktur, lingkungan masjid ramah anak, serta keterlibatan aktif orang tua dan masyarakat.
Kecenderungan lama memandang TPQ sebagai tempat anak ‘nitip’ setelah magrib mulai bergeser. Di banyak daerah, pengelola masjid menjadikan TPQ sebagai laboratorium pembinaan karakter anak dan pusat pendidikan Islam anak yang terintegrasi dengan kehidupan keluarga dan lingkungan. Di Masjid Baiturrahman, Desa Loa Lepu, misalnya, laporan pengurus menyebut kegiatan keagamaan seperti TK/TPA berjalan baik dan mendapat perhatian langsung dari pemerintah daerah. Ini menegaskan satu hal: TPQ adalah pondasi, bukan pelengkap; siapa mengabaikan pondasi ini sedang mempertaruhkan masa depan generasi Qurani.

Masjid Ramah Anak: Dari Slogan Menjadi Standar Pendidikan
Label masjid ramah anak tidak boleh berhenti pada spanduk dan cat warna-warni. Masjid Baiturrahman dijadikan salah satu percontohan masjid ramah anak oleh pengurus dewan masjid setempat, sebuah penanda bahwa standar baru sedang dibangun. Bupati Kutai Kartanegara menghadiri Safari Subuh ke-328 di masjid ini dan menyerahkan Akte Yayasan, 10 Al-Qur’an, serta 5 roll ambal sebagai bagian dari penguatan fungsi masjid sebagai pusat Taman Pendidikan Quran.
Lebih penting lagi, bupati meminta Sekda yang juga Ketua Umum LPTQ untuk meningkatkan pembinaan TPQ di masjid tersebut. Kutipan ini penting: “Untuk itu, saya minta kepada Sekda sekaligus Ketua Umum LPTQ Kabupaten Kukar untuk meningkatkan pembinaan TPQ di masjid ini”. Ini bukan sekadar dukungan simbolik; ini mandat politik dan administratif. Masjid ramah anak berarti kurikulum yang jelas, jadwal yang disiplin, guru yang terlatih, dan sistem pengawasan yang memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, dan tertantang untuk berkembang.

FASI: Festival yang Menguji Sekaligus Mengikat Ekosistem TPQ
Jika TPQ adalah ruang latihan, maka festival komunitas seperti FASI adalah arena ujian sekaligus perayaan. FASI tingkat kota yang digelar di Masjid Jamik Lueng Bata memperlihatkan skala baru pembinaan generasi Qurani: 1.050 peserta dari 53 TPQ ikut serta, bertanding dalam 44 cabang lomba selama tiga hari. Kegiatan itu diawali dengan pawai kafilah, memadukan suasana keagamaan dan keceriaan anak dalam satu panggung publik.
Tema FASI secara eksplisit menolak pola lomba sekadar seremonial. Disebutkan bahwa FASI diarahkan agar anak-anak tidak hanya berprestasi, tetapi juga tumbuh dengan akhlak mulia dan kecintaan terhadap Al-Qur’an sebagai bekal menuju generasi emas. Kepala dinas menegaskan: “FASI yang diikuti oleh 1.050 peserta dari 53 TPQ se-Kota Banda Aceh ini merupakan salah satu upaya strategis dalam membentuk generasi emas, generasi berkarakter, generasi yang cinta dengan Al-Qur’an”. Jika festival ini berhenti pada pengumuman juara, ia gagal; tetapi jika menjadi momentum evaluasi mutu TPQ dan motivasi berkelanjutan, ia adalah katalis perubahan.

Kolaborasi: Departemen Agama, Orang Tua, dan Pendidik di Garis Depan
Program TPQ modern tidak mungkin bertahan di atas semangat tunggal guru ngaji. Di Banda Aceh, dinas syariat bekerja bersama organisasi pemuda masjid untuk menyelenggarakan FASI tingkat kota. Ini contoh bahwa pendidikan Islam anak membutuhkan ekosistem: pemerintah sebagai penjamin kebijakan dan fasilitator, pengurus masjid sebagai pengelola ruang, pendidik sebagai motor kelas, dan orang tua sebagai penguat praktik di rumah. Tanpa salah satu, kualitas TPQ akan timpang.
Kepala dinas menegaskan mereka memerlukan dukungan semua pihak agar pembinaan generasi Qurani berkelanjutan dan tidak berhenti pada lomba semata. Di sisi lain, bupati meminta jamaah untuk terus mendoakan dan mendukung jalannya pemerintahan saat mereka memperkuat program TK/TPA dan TPQ di masjid. Ini menunjukkan hubungan timbal balik: pemerintah memfasilitasi, masyarakat mengawal. Program TPQ modern hanya akan sekuat komunikasi antara guru, orang tua, dan pemangku kebijakan; mengabaikan satu suara saja berarti membuka celah bagi putusnya rantai pembinaan karakter anak.
TPQ Sebagai Laboratorium Disiplin, Literasi Quran, dan Nilai Hidup
Di tengah gempuran konten digital, TPQ adalah salah satu ruang langka di mana disiplin, literasi Quran, dan nilai hidup diajarkan serentak. FASI dirancang agar peserta tidak hanya mengejar prestasi, tetapi tumbuh dengan akhlak mulia dan kecintaan pada Al-Qur’an. Itu berarti setiap halaqah, setiap setoran hafalan, dan setiap kegiatan keagamaan di TPQ adalah latihan konsisten untuk menanamkan prinsip: taat waktu, hormat pada guru, dan tanggung jawab pada tugas.
Penguatan TK/TPA di masjid-masjid—seperti yang dilaporkan berjalan baik di Masjid Baiturrahman—menandakan kesadaran bahwa pembinaan karakter anak harus dimulai sebelum remaja. Anak yang sejak dini akrab dengan Taman Pendidikan Quran lebih siap menghadapi jenjang pendidikan formal karena telah terbiasa dengan aturan, target hafalan, dan budaya belajar bersama. TPQ bukan pesaing sekolah; ia adalah pondasi spiritual dan moral yang membuat ilmu umum punya arah. Tanpa pondasi ini, kita mungkin melahirkan generasi cerdas, tetapi rapuh dalam memegang nilai.






