Menjadikan FTA Indonesia EAEU Sebagai Gerbang Strategis ASEAN
FTA Indonesia EAEU adalah perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia yang menghapus atau menurunkan tarif atas lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan, sekaligus memosisikan Indonesia sebagai pintu masuk alami bagi pelaku usaha Eurasia menuju pasar ASEAN berpenduduk sekitar 680 juta jiwa. Langkah ini bukan sekadar penyesuaian tarif, tetapi strategi politik ekonomi yang terang: menjadikan Indonesia sebagai gateway pasar ASEAN dan hub perdagangan bilateral Eurasia. Prabowo menegaskan bahwa dunia usaha Eurasia harus melihat Indonesia sebagai "pintu masuk alami" karena besarnya pasar domestik dan peran Indonesia sebagai pusat RCEP serta mitra perdagangan bebas. Dengan kata lain, ini adalah upaya sadar untuk menggeser titik gravitasi konektivitas perdagangan Selatan–Selatan ke Jakarta, bukan membiarkan momentum itu ditentukan oleh pusat-pusat lain.

Arsitektur Perdagangan Selatan–Selatan: 290 Juta Konsumen dan Lima Pasar Eurasia
Langkah Prabowo menyebut FTA Indonesia EAEU sebagai “arsitektur perdagangan Selatan-Selatan” menunjukkan ambisi lebih besar daripada sekadar peningkatan ekspor. Perjanjian ini membuka akses produsen Eurasia ke lebih dari 290 juta konsumen Indonesia, sekaligus memberi produsen Indonesia pintu ke lima pasar anggota EAEU: Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia. Di atas kertas, penghapusan atau pengurangan bea atas 11.882 pos tarif—lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan—adalah insentif kuat untuk mengalihkan arus perdagangan ke koridor baru ini. Namun yang menentukan keberhasilan bukan sekadar angka tarif, melainkan seberapa cepat dunia usaha memanfaatkan momentum sebelum koridor lain memonopoli perdagangan bilateral Eurasia. Target menggandakan perdagangan Indonesia–Rusia pada periode peninjauan pertama FTA adalah sinyal bahwa pemerintah menginginkan hasil terukur, bukan slogan kosong.
Sektor Unggulan Indonesia: Fondasi Gateway Pasar ASEAN
Narasi Indonesia sebagai gateway pasar ASEAN akan runtuh bila tidak disokong sektor riil yang siap memasok rantai nilai regional. Prabowo menyebut deretan sektor unggulan Indonesia—kelapa sawit, kopi, perikanan, karet, tekstil, furnitur, barang konsumsi—ditambah angkatan kerja yang masih tergolong muda, sebagai penopang utama pemenuhan kebutuhan negara-negara Eurasia. Artinya, FTA Indonesia EAEU tidak hanya membuka akses tarif, tetapi juga menguji kemampuan sektor-sektor ini menjadi basis produksi bagi penetrasi barang Eurasia ke ASEAN. Jika pengolahan kelapa sawit digunakan sebagai bahan baku industri makanan dan energi, tekstil dan furnitur sebagai barang jadi, dan sektor perikanan sebagai penopang kebutuhan pangan, Indonesia berpotensi berperan sebagai hub produksi dan distribusi yang kredibel. Namun tanpa peningkatan produktivitas, standardisasi, dan konektivitas logistik yang sejalan, label “pintu masuk alami” berisiko tinggal jargon diplomatik yang tidak menjelma ke dalam kontrak dagang nyata.
Dari Diplomasi ke Implementasi: Mengunci Peran Hub Perdagangan Regional
Kekuatan utama strategi ini adalah kombinasi status pasar terbesar di kawasan, posisi sebagai pusat RCEP, dan kini peran sebagai mitra perdagangan bebas bagi EAEU. Dengan FTA yang ditandatangani di St Petersburg pada 21 Desember 2025 dan ditargetkan mulai berlaku awal 2027, bola kini berada di tangan negara-negara EAEU yang masih harus menyelesaikan ratifikasi internal. Prabowo mendorong proses tersebut dipercepat agar jadwal penurunan tarif diiringi kesiapan barang, rute, dan kontrak yang sudah tersedia. Delegasi bisnis Indonesia sudah mulai mempersiapkan pengiriman perdana, mencari pembeli, mengatur logistik dan pembayaran untuk memanfaatkan FTA ini. Bila fase implementasi ini konsisten, Indonesia bukan hanya menjadi gerbang, tetapi simpul tetap dalam jaringan perdagangan bilateral Eurasia–ASEAN. Jika gagal, perjanjian ini akan tercatat sebagai kesempatan emas yang disia-siakan di persimpangan baru Selatan–Selatan.






