Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Musisi Asia Berlomba di Grammy: Jennie dan Lagu Anime

Musisi Asia Berlomba di Grammy: Jennie dan Lagu Anime
Minat|Menyanyi

Grammy 2027 Submisi: Saat Asia Mengubah Peta Penghargaan Musik

Grammy 2027 submisi merujuk pada langkah strategis musisi dari berbagai negara Asia yang mengirimkan karya mereka—mulai dari album pop, kolaborasi lintas genre, hingga lagu tema anime—ke Recording Academy untuk dipertimbangkan dalam beragam kategori, sebagai upaya memperluas representasi Asia di panggung penghargaan musik internasional yang selama ini didominasi arus utama Barat. Submisi bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pernyataan politik budaya: Asia tidak puas hanya menjadi pasar konsumsi, tetapi ingin diakui sebagai pusat kreativitas global. Di tengah dinamika ini, nama Jennie dan Kenshi Yonezu muncul sebagai simbol dua jalur berbeda—idol pop dan kreator soundtrack visual—yang sama-sama menantang batas lama Grammy tentang bahasa, format, dan genre. Putaran pertama pemungutan suara akan berlangsung pada 12–22 Oktober sebelum nominasi resmi diumumkan 16 November, menjadikan periode ini krusial bagi peta kekuatan baru musik Asia.

Jennie Album RUBY: Dari Idol Global ke Penantang Kategori Utama

Keputusan Jennie mengajukan album RUBY (The Complete Collection) bersama lagu Dracula dan remix Like JENNIE ke Grammy 2027 adalah deklarasi ambisi yang jelas, bukan eksperimen iseng. Menurut daftar nominasi yang beredar, Dracula—kolaborasi dengan Tame Impala—dibidik untuk tiga kategori paling bergengsi: Record of the Year, Song of the Year, dan Best Pop Duo/Group Performance. Ini berarti Jennie tidak puas ditempatkan di kotak "Pop Asia" semata, melainkan ingin bersaing langsung di jantung sistem penghargaan Barat. RUBY sendiri menandai langkah signifikan dalam karier solonya, memperlihatkan arah musik yang lebih personal dibanding aktivitasnya bersama Blackpink. Sikap ini kontras dengan keputusan BTS dan Stray Kids yang memilih tidak mengirimkan karya tahun ini, menegaskan bahwa generasi idol berikutnya mulai memaknai Grammy bukan hanya sebagai validasi, tetapi sebagai arena untuk menegosiasikan ulang cara musik Asia dinilai.

IRIS OUT: Lagu Anime Grammy yang Mengguncang Batas Visual Media

Jika Jennie menantang kategori utama, Kenshi Yonezu mengganggu batas format lewat IRIS OUT, lagu tema Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc yang kini masuk pertimbangan Grammy. IRIS OUT diajukan untuk Best Asian Pop Music Performance dan Best Song Written for Visual Media—kategori yang selama hampir empat dekade belum pernah menyentuh lagu dari produksi anime Jepang. Menurut laporan kelayakan lagu untuk Grammy, belum pernah ada lagu anime Jepang yang masuk daftar nominasi Best Song Written for Visual Media sejak penghargaan itu pertama kali diberikan pada 1988. Secara komersial, IRIS OUT adalah fenomena: tercepat mencapai 100 juta streaming di Oricon dan Billboard JAPAN dalam empat pekan, serta melampaui 500 juta streaming kumulatif di Oricon per 3 Juni 2026. "IRIS OUT menempati posisi kelima Billboard Global 200, menjadikannya lagu berbahasa Jepang dengan posisi tertinggi dalam sejarah tangga lagu tersebut pada saat itu." Dengan rekam jejak KICK BACK yang meraih sertifikasi Platinum RIAA, Yonezu jelas sedang membangun jalur resmi bagi musik anime menuju pengakuan global.

Musisi Asia Berlomba di Grammy: Jennie dan Lagu Anime

Kategori Pop Asia dan Politik Representasi di Grammy

Debut kategori Best Asian Pop Music Performance di Grammy 2027 tampak seperti kemenangan simbolik: akhirnya K-pop, J-pop, dan C-pop mendapat ruang khusus. Namun di balik itu, ada politik representasi yang rumit. Rilisan terbaru Blackpink bahkan gagal memenuhi persyaratan bahasa kategori ini karena tidak menghadirkan porsi signifikan bahasa Asia, menunjukkan bagaimana aturan teknis dapat menghambat fleksibilitas artistik. Di satu sisi, kategori Pop Asia memberi jalur formal bagi musisi Asia Grammy; di sisi lain, ia berisiko mengurung mereka dalam "kotak regional" alih-alih mendorong mereka ke kategori umum. Ketika BTS menegaskan keinginan agar musik dinilai berdasarkan nilai artistik, bukan bahasa atau wilayah, mereka menyuarakan kegelisahan yang sama. IRIS OUT yang menembus kategori visual media dan Dracula yang membidik kategori utama memperlihatkan strategi alternatif: gunakan kategori Pop Asia sebagai pintu, tetapi jangan berhenti di sana. Diversifikasi kategori yang disasar adalah cara paling efektif untuk menguji apakah Grammy siap mengakui Asia sebagai bagian integral, bukan lampiran eksotis.

Menuju Nominasi Resmi: Apa yang Dipertaruhkan Musisi Asia

Dengan pemungutan suara putaran pertama berlangsung 12–22 Oktober dan pengumuman nominasi pada 16 November sebelum malam penganugerahan 7 Februari, setiap submisi kini memasuki fase penilaian yang menentukan. Bagi Jennie, masuknya RUBY, Dracula, dan Like JENNIE ke daftar pertimbangan adalah ujian apakah identitas idol bisa diterjemahkan menjadi kredibilitas solo di mata pemilih Grammy. Bagi Kenshi Yonezu, IRIS OUT adalah taruhan bahwa lagu anime Grammy dapat berdiri sejajar dengan soundtrack film besar lain, bukan sekadar kategori khusus penggemar. Terlepas dari hasil akhir, kedua strategi ini sudah menggeser percakapan: Asia tidak lagi hadir di Grammy hanya melalui satu nama besar atau satu gelombang tren, tetapi lewat beragam genre dan format. Kesimpulannya, jika Recording Academy merespons dengan nominasi yang berani, Grammy 2027 bisa menjadi titik balik di mana musisi Asia berhenti "menembus" pasar global dan mulai ikut mendefinisikan standar global itu sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!