Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dua Strategi Menata Sungai untuk Mengurangi Risiko Banjir

Dua Strategi Menata Sungai untuk Mengurangi Risiko Banjir
Minat|Asia Tenggara

Menata sungai sebelum dan sesudah ancaman datang

Pengerukan sedimen sungai adalah pengangkatan endapan yang menghambat aliran, sedangkan penataan alur darurat membuka kembali jalur air yang tertutup material bencana; keduanya bertujuan menekan risiko banjir, tetapi merespons kondisi berbeda. Perbandingan di Trenggalek dan Batang menunjukkan mengapa pencegahan banjir daerah perlu disesuaikan dengan keadaan sungai, bukan memakai satu pola untuk semua. Pemkab Trenggalek menyiapkan normalisasi sedimentasi di sejumlah titik Sungai Ngasinan menjelang musim hujan, dengan pengerjaan yang direncanakan dalam waktu dekat. Di Batang, pemerintah provinsi, kabupaten, dan Balai PSDA Pemali Comal menangani kondisi lebih mendesak: aliran Sungai Tinap di Desa Wonobodro tertutup material banjir bandang dan perlu dibuka kembali. Perbedaan ini penting bagi warga. Endapan yang tumbuh kembali menuntut pemeliharaan terpilih; alur yang tertutup dan mengarahkan air ke permukiman memerlukan tindakan cepat.

Trenggalek: normalisasi terencana dan berulang

Rencana normalisasi Sungai Ngasinan berangkat dari peninjauan lokasi penumpukan sedimen oleh pemerintah daerah bersama bupati. Alat berat akan menyasar titik tertentu, bukan seluruh sungai, dengan cakupan pekerjaan menyesuaikan kondisi lapangan serta ketersediaan anggaran. Pendekatan bertahap ini masuk akal untuk sedimentasi yang muncul kembali setelah normalisasi tahun sebelumnya, tetapi keberhasilannya tidak boleh dinilai hanya dari pengerukan selesai. Pengelolaan sungai berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai, sehingga koordinasi dan perizinan harus dibereskan sebelum pekerjaan dimulai. Setelah pengerukan, pemerintah daerah merencanakan penanaman rumput vetiver di tebing untuk membantu memperkuat tanah dan mengurangi erosi. Rencana ini mengakui bahwa sedimen bukan satu-satunya persoalan. Pemerintah juga meminta perangkat daerah mengidentifikasi dan membantu membersihkan saluran drainase tersumbat, sehingga penanganan sungai terhubung dengan upaya mengurangi genangan di jalan dan lingkungan warga.

Batang: membuka alur yang tertutup material banjir

Di Sungai Tinap Batang, pemicunya bukan sekadar endapan rutin. Banjir bandang pada Januari 2025 membawa batu besar dan kayu dari hulu, menutup salah satu aliran dan membuat air berpotensi berbelok ke jalur yang lebih dekat dengan permukiman. Karena itu, ekskavator berukuran besar dikerahkan untuk menata serta membuka alur. Pekerjaan membentang sekitar 800 meter hingga pertemuan dua aliran sungai, berlangsung sekitar 17 hari, dan hampir selesai ketika dilaporkan. Batu yang menutup aliran disebut mencapai sekitar dua meter. Warga khawatir banjir bandang susulan akan mengarahkan air ke kampung, terlebih masih ada potensi longsor di hulu. Penataan darurat ini menjawab ancaman konkret, bukan sekadar menjaga kapasitas aliran. Harapan warga agar air kembali terbagi ke dua jalur menunjukkan ukuran keberhasilan yang praktis: mengurangi kemungkinan luapan menuju rumah.

Dua Strategi Menata Sungai untuk Mengurangi Risiko Banjir

Dua kebutuhan, satu tuntutan: tindak lanjut

Perbedaan kedua langkah terletak pada pemicu, proses, dan urgensinya. Trenggalek merencanakan pengerukan terarah untuk sedimentasi yang kembali terbentuk, dengan penyesuaian terhadap kondisi lapangan, anggaran, kewenangan, dan izin. Batang menangani jalur yang sudah tertutup material bencana melalui kolaborasi lintas pemerintahan, karena perubahan aliran dapat membahayakan permukiman. Keduanya tetap memerlukan pekerjaan lanjutan: pengerukan tidak menghentikan sedimentasi selamanya, sementara pembukaan alur perlu dibarengi perhatian pada risiko di kawasan hulu. Di Trenggalek, pembersihan drainase dan penguatan tebing melengkapi penanganan sungai; di Batang, penyelesaian sebelum puncak musim hujan menjadi harapan warga. Kesimpulannya, pengerukan terencana dan tindakan darurat bukan pilihan yang saling menggantikan. Pencegahan banjir daerah akan lebih berarti bila pemerintah memelihara sungai secara berkala sekaligus siap membuka jalur air ketika bencana mengubah alirannya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!