Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Swasta Jadi Kunci Transformasi Malang Raya Menjadi Megapolitan

Swasta Jadi Kunci Transformasi Malang Raya Menjadi Megapolitan
Minat|Asia Tenggara

Mengapa Malang Raya Megapolitan Harus Dipimpin Sektor Swasta

Malang Raya Megapolitan adalah gagasan menjadikan Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu sebagai satu kawasan ekonomi terintegrasi yang tumbuh melalui kolaborasi erat antara pemerintah daerah, pengusaha, perguruan tinggi, dan komunitas, sehingga potensi lokal tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terkait dalam rantai nilai yang efisien dan berkelanjutan. Dalam forum Bincang Bisnis yang mempertemukan kepala daerah dan pelaku usaha, Kepala Bakorwil III Malang Asep Kusdinar menegaskan bahwa megapolitan bukan proyek eksklusif pemerintah, melainkan sarana bersama untuk mencapai kesejahteraan kawasan. Sikap ini penting: jika visi Malang Raya Megapolitan terus diperlakukan sebagai urusan birokrasi, proyek ini akan tersandera oleh anggaran, kewenangan, dan ritme politik. Asep terang‑terangan mengingatkan, setelah pemerintah membuka ruang lewat regulasi dan fasilitasi, pengusaha harus bergerak, bukan menunggu. Di titik ini, sektor swasta bukan pelengkap, tetapi motor utama yang menentukan apakah transformasi kawasan akan benar‑benar terjadi atau kembali menjadi jargon seremonial.

Swasta Jadi Kunci Transformasi Malang Raya Menjadi Megapolitan

Fondasi Kuat: Data, Talenta, dan Konektivitas yang Menunggu Eksekusi

Argumen bahwa pengusaha harus menjadi penggerak utama bukan pujian kosong; Malang Raya memiliki modal nyata yang bisa ditransformasikan menjadi pertumbuhan ekonomi kawasan. Asep memaparkan bahwa kawasan ini didukung oleh 67 perguruan tinggi dengan sekitar 70 persen penduduk berada pada usia produktif, ditambah ekosistem digital kreatif dan pusat pengembangan startup yang tersebar di tiga wilayah. Dari sisi fisik, konektivitas sudah mulai terbangun: jaringan jalan nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, Tol Pandaan–Malang, rencana Tol Malang–Kepanjen, Jalur Lintas Selatan, Bandara Abdul Rachman Saleh, hingga layanan kereta dan transportasi umum. Dengan kombinasi talenta muda, kampus, dan infrastruktur, Malang Raya seharusnya bisa melompat cepat. Tetapi tanpa investasi swasta daerah yang agresif, semua keunggulan itu hanya menjadi katalog potensi. Konsep Malang Raya Megapolitan menuntut pengusaha mengikat titik‑titik kekuatan ini menjadi ekosistem bisnis lokal dan regional yang saling menghidupi, bukan sekadar proyek sporadis.

Kolaborasi Pemerintah–Bisnis: Dari Regulasi ke Strategi Ekosistem

Baik Asep Kusdinar maupun Mahendra dari PPM Manajemen sepakat: peran pemerintah dalam Malang Raya Megapolitan harus bergeser dari pelaksana menjadi regulator, fasilitator, koordinator, dan katalis. Pemerintah diminta fokus menciptakan regulasi yang adaptif, mempermudah perizinan, memperkuat konektivitas antarkawasan, serta menjaga keselarasan lintas wilayah. Mahendra bahkan menyatakan, tugas utama swasta adalah berani berinvestasi dan menciptakan populasi serta infrastruktur baru, sementara pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator. Ini bukan pembagian kerja administratif; ini strategi. Tanpa kolaborasi pemerintah bisnis yang jelas, pengusaha akan ragu mengambil risiko, dan pemerintah kembali tergoda mengerjakan hal‑hal yang sebetulnya bisa dilakukan lebih cepat dan efisien oleh swasta. Jika Malang Raya ingin melampaui status metropolitan yang ruwet dan terfragmentasi, pemerintah harus berani melepaskan sebagian peran operasional dan menggantinya dengan tata kelola ekosistem, sementara pengusaha mengambil posisi sebagai pengusaha motor pertumbuhan yang mengisi ruang dengan investasi, inovasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Pelajaran dari DIY dan Pentingnya Sinergi Lintas Wilayah

Mahendra mengingatkan bahwa kolaborasi lintas wilayah bukan pilihan tambahan, melainkan syarat agar Malang Raya Megapolitan tidak kehilangan momentum. Ia mencontohkan DIY Yogyakarta, yang meski lebih kecil secara wilayah, membangun kekuatan melalui edu town dan industri kreatif; kampus besar memicu usaha kos, apartemen, dan layanan pendukung, sementara desa‑desa kreatif seperti sentra gerabah dan lukisan tumbuh tanpa dikomando pemerintah. Malang Raya, dengan luas 3.800 km² dan penduduk 3,9 juta jiwa, memiliki peluang serupa tetapi membutuhkan percepatan kolaborasi lintas daerah dan sektor. Di sini, kepala daerah dan pengusaha harus duduk satu meja bukan sekadar untuk diskusi tahunan, tetapi untuk mengidentifikasi rantai nilai lintas batas administratif: pariwisata yang terhubung dari kabupaten ke kota, pertanian yang tersambung ke industri pengolahan dan pasar modern. Jika sinergi ini dibiarkan lambat, Malang Raya berisiko menjadi metropolitan yang kompleks tapi tidak terintegrasi—besar secara angka, kecil secara dampak ekonomi kawasan.

Dari Forum ke Aksi: Mengunci Komitmen Megapolitan

Pertemuan pengusaha dan kepala daerah dalam forum Bincang Bisnis bersama Dahlan Iskan seharusnya dibaca sebagai titik awal, bukan garis finish. Asep berharap forum ini tidak berhenti menjadi forum diskusi, tetapi menjadi momentum membangun kesepahaman dan pembagian peran yang konkret dalam mewujudkan Malang Raya Megapolitan. Artinya, setelah mikrofon dimatikan, pekerjaan sebenarnya baru mulai: menyusun peta peluang investasi swasta daerah, menetapkan proyek lintas wilayah yang jadi prioritas, dan menyiapkan skema regulasi yang memberi kepastian bagi pengusaha motor pertumbuhan. Dengan pendekatan ini, Malang Raya dapat berkembang menjadi kawasan ekonomi yang terintegrasi, inovatif, efisien, inklusif, dan berkelanjutan, dengan pemerintah dan non‑pemerintah bergerak sesuai peran masing‑masing. Konklusinya tegas: bila pengusaha tetap menunggu dan pemerintah kembali merasa harus mengerjakan segalanya, Malang Raya Megapolitan akan berhenti sebagai slogan. Bila keduanya berani berbagi peran, kawasan ini punya peluang nyata melompat menjadi simpul ekonomi baru di tingkat regional.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!