Hujan meredakan udara, tetapi belum memulihkan sekolah
Karhutla adalah kebakaran hutan dan lahan yang dapat menyebarkan asap hingga mengganggu kesehatan dan kegiatan sehari-hari, termasuk proses belajar di sekolah. Karena itu, keputusan kembali ke ruang kelas harus mengikuti kualitas udara di sekitar murid, bukan sekadar turunnya hujan.
Di Kalimantan Tengah, hujan mulai memperbaiki kondisi udara, tetapi ratusan sekolah terdampak asap belum kembali menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM) secara normal. Pada 27 Oktober 2026, rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) provinsi itu tercatat 376. Dari 429 SMA, SMK, dan SLB, 188 masih belajar dari rumah secara daring karena asap tebal; 24 lainnya baru menggelar PTM terbatas. Belum ada satuan pendidikan yang tercatat menjalankan PTM normal atau berada dalam kategori aman. Angka ini menunjukkan bahwa perubahan cuaca belum otomatis menghapus risiko bagi siswa.
Menahan pembukaan penuh sekolah mungkin mengganggu rutinitas, tetapi memaksakan kehadiran sebelum udara aman akan menukar waktu belajar dengan risiko kesehatan. Laporan yang sama mencatat 595 siswa mengalami infeksi saluran pernapasan akut. Prioritas yang masuk akal ialah memulihkan kelas secara bertahap berdasarkan kondisi setempat, bukan menetapkan satu jadwal seragam untuk semua sekolah.
Belajar dari rumah harus disesuaikan dengan usia dan akses
Dampak asap tidak berhenti pada penutupan kelas: perpanjangan sekolah online juga memindahkan sebagian tanggung jawab belajar ke rumah. Di Balikpapan, pemerintah kota memperpanjang pembelajaran jarak jauh pada 26–28 Oktober 2026 akibat kiriman asap karhutla. SD Negeri 003 Balikpapan Kota merespons dengan menggabungkan pertemuan Zoom, tugas tertulis, dan video pembelajaran, alih-alih memaksakan satu metode untuk semua murid.
Penyesuaian itu penting karena kebutuhan anak berbeda. Murid kelas 4 hingga 6 lebih banyak mengikuti pelajaran melalui Zoom, sementara kelas 1 hingga 3 mendapat tugas dan video sebagai pilihan belajar yang tidak selalu mensyaratkan koneksi langsung. Dengan cara ini, sekolah online SD dapat tetap berjalan ketika anak belum siap mengikuti sesi panjang di layar.
Namun, variasi metode saja tidak cukup. Pembelajaran jarak jauh memerlukan pendampingan keluarga dan perangkat yang memadai, sedangkan tidak semua murid memiliki ponsel pintar sendiri; perangkat di rumah juga mungkin harus dipakai bersama. Sekolah perlu memberi pilihan yang bisa diakses, menjaga komunikasi dengan keluarga, dan memastikan tugas tidak berubah menjadi beban yang mustahil diselesaikan tanpa bantuan.
Keberlanjutan belajar harus menjadi ukuran respons
Pengalaman Kalteng dan Balikpapan memperlihatkan bahwa pembelajaran daring karhutla bukan sekadar memindahkan pelajaran ke layar. Keputusan untuk menunda PTM harus melindungi kesehatan, sementara desain belajar dari rumah harus mencegah murid kehilangan akses hanya karena perangkat, usia, atau kondisi keluarga. Keduanya adalah bagian dari tanggung jawab sekolah, bukan pilihan yang saling meniadakan.
Di Kalteng, 405 sesi kelas virtual melalui Zoom maupun Google Meet masih aktif menurut laporan posko pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, berharap hujan berlanjut agar kabut asap segera hilang. Harapan itu belum dapat menggantikan pemantauan: sekolah perlu menilai kualitas udara di lingkungannya dan memberi kabar jelas kepada orang tua tentang kapan dan bagaimana pembelajaran berubah.
Kesimpulannya, sekolah terdampak asap membutuhkan rencana yang lentur: PTM dibuka kembali saat kondisi aman, sementara pembelajaran dari rumah dibuat sesuai usia dan kemampuan akses murid. Perlindungan kesehatan dan kesinambungan belajar harus berjalan beriringan. Tanpa pendampingan serta pilihan metode yang realistis, sekolah online hanya memindahkan hambatan dari ruang kelas ke rumah.






