Keterampilan yang dapat dibawa pulang
Pelatihan tata rias adalah pembelajaran teori dan praktik untuk menguasai teknik merias wajah, mengenali kosmetik, serta mengembangkan kemampuan yang dapat digunakan dalam pekerjaan atau usaha. Bagi warga binaan, keterampilan praktis seperti ini memberi nilai lebih pada masa pembinaan: ada bekal yang bisa dibawa saat kembali ke masyarakat, bukan sekadar pengalaman mengikuti kegiatan. Dua program di Lapas Tanjung Raja dan Lapas Perempuan Palangka Raya menunjukkan arah pembinaan yang patut diperkuat, yakni menghubungkan pembelajaran di dalam lapas dengan peluang mandiri setelah bebas. Namun, manfaatnya akan paling terasa jika pelatihan tidak berhenti pada sesi singkat dan peserta mendapat kesempatan terus berlatih.
Pelatihan berbasis kompetensi di Tanjung Raja
Pada Senin, 2 November 2026, Lapas Kelas IIA Tanjung Raja membuka pelatihan tata rias berbasis kompetensi bagi warga binaan wanita. Program yang bekerja sama dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Ogan Ilir dijadwalkan berlangsung selama satu pekan, dengan instruktur dari dinas tersebut memberikan materi dan pendampingan. Format berbasis kompetensi layak diapresiasi karena menempatkan kemampuan yang dapat dipraktikkan sebagai sasaran, bukan hanya kehadiran peserta. Selama pelatihan, peserta memperoleh pembekalan pengetahuan dan keterampilan melalui materi serta praktik. Kepala lapas menyebut kegiatan itu sebagai bekal untuk mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah bebas. Agar bekal ini bertahan, latihan perlu berujung pada hasil kerja yang dapat ditunjukkan dan dikembangkan.

Peserta magang berbagi keterampilan di Palangka Raya
Sehari setelah pembukaan di Tanjung Raja, pada Selasa, 3 November 2026, peserta magang di Lapas Perempuan Kelas IIA Palangka Raya mengadakan pelatihan makeup bagi warga binaan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian. Materinya mencakup teori dasar kecantikan, pengenalan berbagai jenis kosmetik, dan teknik aplikasi riasan wajah. Peserta juga mempraktikkan langsung materi yang diajarkan untuk mengasah kreativitas dan rasa percaya diri. Inisiatif ini memperlihatkan bahwa makeup warga binaan dapat menjadi ruang belajar yang melibatkan berbagi pengetahuan sekaligus praktik. Kepala lapas, Hani Anggraeni, menyatakan pihaknya mendukung kegiatan pembinaan positif dan produktif yang memberi keterampilan bermanfaat. Pelatihan makeup lapas seperti ini bernilai ketika pengetahuan dasar diterjemahkan menjadi kemampuan yang dapat digunakan di luar lingkungan pembinaan.
Dari ruang pelatihan ke peluang setelah bebas
Tata rias berpotensi membuka beberapa jalur setelah masa pembinaan selesai: bekerja di bidang kecantikan, menerima jasa rias secara mandiri, atau mengembangkan usaha sesuai kemampuan dan kesempatan masing-masing. Pihak Lapas Tanjung Raja berharap keterampilan tersebut meningkatkan kreativitas serta membuka peluang pekerjaan atau usaha mandiri. Hani Anggraeni juga berharap materi dan praktik di Palangka Raya menjadi keahlian nyata yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha mandiri ketika warga binaan kembali dan berintegrasi dengan masyarakat. Harapan itu masuk akal, tetapi keterampilan saja tidak otomatis menghasilkan penghasilan. Peluangnya akan lebih kuat bila pembinaan lanjutan menjaga kemampuan tetap terasah dan menghubungkan peserta dengan kebutuhan pasar kerja maupun dunia usaha. Pihak Lapas Perempuan Palangka Raya menyatakan akan terus membuka ruang kemitraan dan inovasi untuk menghadirkan pelatihan yang relevan.
Kesimpulannya, pelatihan tata rias di kedua lapas merupakan langkah pembinaan yang konkret karena membekali warga binaan dengan kemampuan yang bisa dipraktikkan setelah bebas. Agar dampaknya tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, pelatihan perlu disertai kesempatan mengasah keterampilan dan dukungan untuk mengubahnya menjadi pekerjaan atau usaha. Itulah ukuran penting keberhasilan pembinaan kemandirian.






