Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kolaborasi Lapas dan UMKM: Jalan Pintas Menuju Kemandirian Warga Binaan

Kolaborasi Lapas dan UMKM: Jalan Pintas Menuju Kemandirian Warga Binaan
Minat|Pelatihan Komprehensif

Pelatihan Kerja Warga Binaan: Dari Sel ke Ruang Produksi

Pelatihan kerja warga binaan adalah rangkaian kegiatan vokasi terstruktur di dalam lembaga pemasyarakatan yang dirancang untuk membekali narapidana dengan keterampilan praktis, relevan dengan kebutuhan pasar, sehingga mereka memiliki peluang nyata untuk bekerja, berwirausaha, dan mencapai kemandirian ekonomi setelah bebas. Dalam konteks ini, Lapas Kelas IIB Mojokerto memilih langkah berani: mengubah lapas dari sekadar ruang hukuman menjadi ruang produksi dan pembelajaran. Mereka menjalin koordinasi dengan pelaku UMKM Kabupaten Mojokerto, Ainun Nurdiana, pemilik Rumah Kue Tenrilangi, untuk memperluas kesempatan pelatihan kerja bagi warga binaan. Pertemuan resmi dihadiri Kasi Binadik Anggi Fauzi dan Kasubsi Giatja Aviudin Kusuma, menandai bahwa ini bukan program seremonial, melainkan desain ulang pembinaan yang berorientasi pada pasar kerja dan usaha kecil.

Mengapa Kolaborasi Lapas–UMKM Lebih Masuk Akal daripada Pelatihan Biasa

Kolaborasi lapas UMKM adalah model yang menghubungkan pelatihan vokasi di dalam lapas dengan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah di luar. Di Mojokerto, pelatihan dirancang mencakup tata boga dan kerajinan tangan, disesuaikan dengan potensi warga binaan dan kebutuhan pasar. Ini penting: keterampilan yang diajarkan bukan sekadar hobi, tetapi skill yang langsung bisa diterapkan di industri UMKM. Anggi Fauzi menegaskan bahwa tujuan utama adalah memberikan keterampilan praktis yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha maupun pekerjaan setelah bebas. Artinya, program rehabilitasi ekonomi ini tidak berhenti pada sertifikat pelatihan; ia menghubungkan warga binaan dengan rantai produksi nyata, dari dapur UMKM hingga pasar lokal. Tanpa jembatan ke UMKM, pelatihan di lapas sering berhenti sebagai teori yang tidak pernah diuji di dunia kerja.

Rehabilitasi Ekonomi sebagai Kunci Reintegrasi Sosial Kerja

Program rehabilitasi ekonomi di lapas Mojokerto dirancang sebagai jalan masuk menuju reintegrasi sosial kerja. Kepala Lapas Arifin Akhmad menyatakan harapan agar kerja sama ini membuka lebih banyak kesempatan bagi warga binaan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri agar mandiri serta produktif setelah kembali ke masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan untuk mendukung pembinaan kemandirian dan mempersiapkan warga binaan agar lebih siap berintegrasi kembali dengan masyarakat. Di sisi lain, Ainun Nurdiana melihat peluang konkret: pelatihan tidak berhenti di kelas, tetapi bisa berlanjut pada pemberdayaan warga binaan dalam memenuhi permintaan produk UMKM di Mojokerto. Di sinilah reintegrasi sosial kerja menemukan bentuknya: warga binaan kembali bukan sebagai beban sosial, melainkan sebagai pekerja atau pelaku usaha yang sudah terhubung dengan jaringan UMKM.

Belajar dari Praktik Lain: Pelatihan Berbasis Produk Nyata

Model yang dibangun Lapas Mojokerto sejalan dengan pendekatan pelatihan yang menempatkan produk nyata sebagai media rehabilitasi ekonomi. Di tempat lain, pola serupa terlihat ketika mantan pengguna narkoba dilatih memproduksi keripik dan bolu panas sebagai bagian dari program pemberdayaan. Intinya sama: keterampilan yang diajarkan harus punya pasar, punya pelanggan, dan bisa menjadi sumber penghasilan setelah program selesai. Dalam konteks pelatihan kerja warga binaan, pendekatan berbasis produk ini membuat proses pembinaan lebih terukur. Ada standar kualitas, tenggat produksi, dan umpan balik konsumen. Semua elemen itu menyiapkan warga binaan menghadapi dunia kerja yang menuntut disiplin dan tanggung jawab. Tanpa dimensi pasar, program pelatihan mudah terjebak menjadi aktivitas pengisi waktu, bukan jembatan nyata menuju kemandirian.

Kesimpulan: Lapas Harus Menjadi Inkubator UMKM, Bukan Sekadar Tempat Menunggu Bebas

Kolaborasi lapas UMKM seperti yang dirintis Lapas Kelas IIB Mojokerto menunjukkan bahwa pelatihan kerja warga binaan bisa diubah menjadi program rehabilitasi ekonomi yang konkret, bukan sekadar formalitas pembinaan. Dengan pelatihan vokasi yang dirancang sesuai kebutuhan industri kecil, warga binaan mendapatkan bekal keterampilan praktis, jaringan kerja, dan peluang usaha setelah bebas. Reintegrasi sosial kerja tidak lagi abstrak; ia hadir dalam bentuk pesanan kue, produk kerajinan, atau pekerjaan di unit usaha mitra. Kesimpulannya, lapas yang tidak membuka diri pada dunia UMKM akan tertinggal dan terus memproduksi lulusan yang kembali ke lingkaran pengangguran dan stigma. Sebaliknya, lapas yang berani menjadi inkubator UMKM berpeluang mengubah narasi: dari tempat hukuman menjadi ruang lahirnya wirausaha baru dan pekerja terampil.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!