Rantai pasok melampaui pintu masuk
Peredaran narkoba adalah rantai pasok yang menghubungkan penyelundupan lintas batas, pendaratan di wilayah pesisir, dan distribusi oleh jaringan di dalam negeri, sehingga penindakan di satu titik saja tidak cukup untuk memutusnya. Mantan Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol (Purn) Arman Depari, menyoroti tantangan berlapis ini dalam diskusi pada 24 Oktober 2026 dan mengapresiasi strategi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Kasus pencegatan kapal kargo berbendera Mongolia di Belawan, penyitaan sabu dalam jumlah besar di perairan Batam, serta pengungkapan laboratorium ilegal di Pidie memperlihatkan bahwa jalur laut narkoba bukan satu-satunya mata rantai yang harus diawasi.
Justru karena jalur masuk dan jaringan lokal saling terhubung, keberhasilan sebuah operasi tak boleh dinilai hanya dari barang bukti atau jumlah tersangka. Pengungkapan di laut perlu diikuti penyidikan yang menelusuri pemasok, pengendali, dan distribusi di darat. Jika proses berhenti pada kurir, sindikat dapat mengganti orang tanpa kehilangan jalur pasoknya.

Konsistensi lebih penting daripada operasi sesaat
Arman menegaskan bahwa pengawasan perbatasan, laut, dan pesisir harus berjalan terus-menerus, beriringan dengan penindakan terhadap jaringan distribusi dalam negeri. Peringatannya lugas: “Jangankan sebulan, seminggu saja kita lengah, dampaknya sangat berbahaya.” Pernyataan itu menggambarkan kelemahan pendekatan yang hanya mengandalkan operasi besar sesekali: ketika perhatian aparat surut, sindikat punya kesempatan menguji dan memanfaatkan celah.
Karena itu, apresiasi terhadap strategi Polri perlu diterjemahkan menjadi standar kerja yang konsisten dari pusat hingga daerah. Penangkapan pelaku lapangan seharusnya menjadi pintu masuk untuk mengembangkan perkara, bukan garis akhir. Kerja sama antarnegara melalui koordinasi antarkepolisian juga penting ketika dugaan pengendali berada di luar wilayah. Bagi masyarakat, kesinambungan ini berarti peluang lebih besar untuk mencegah narkotika mencapai lingkungan tempat tinggal dan melindungi generasi muda.
Kapasitas daerah menentukan hasil
Konsistensi penindakan membutuhkan lembaga daerah yang sanggup menjalankan tugasnya. Anggota Komisi III DPR RI HT Ibrahim mengapresiasi kerja BNN Aceh, tetapi menyoroti keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia yang dihadapi lembaga tersebut. Menurut Ibrahim, anggaran BNN yang ia sebut sekitar Rp18 miliar per tahun harus menopang operasional, pegawai, dan program pemberantasan narkotika. Angka itu menunjukkan mengapa tuntutan agar aparat selalu siaga perlu disertai perhatian pada kapasitas nyata mereka.
Ibrahim berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada kebutuhan anggaran dan penguatan kelembagaan BNN agar pencegahan serta pemberantasan narkoba di Aceh dapat berjalan lebih optimal. Pengungkapan laboratorium narkotika di Pidie, yang menurut pemberitaan melibatkan dua warga negara China yang diduga sebagai peracik, juga menegaskan perlunya koordinasi lintas lembaga. Dukungan masyarakat dan informasi yang disampaikan melalui jalur tepat dapat membantu aparat, tetapi tanggung jawab utama untuk membangun pengawasan yang memadai tetap berada pada negara.
Putuskan jaringan, bukan hanya tangkapannya
Pemberantasan narkoba akan tetap rapuh jika keberhasilan hanya diukur dari penangkapan dan penyitaan. Ukuran yang lebih berarti ialah apakah pengawasan menutup jalur penyelundupan, apakah penyidikan mencapai pengendali jaringan, dan apakah kapasitas daerah cukup untuk menjaga tekanan hukum tetap berlangsung. Pandangan Arman dan sorotan Ibrahim saling melengkapi: strategi operasional perlu konsisten, sementara lembaga yang menjalankannya harus mendapat dukungan yang sepadan.
Kesimpulannya, memutus peredaran narkoba menuntut kerja tanpa jeda dari laut hingga lingkungan lokal, disertai pengembangan perkara, koordinasi lintas wilayah, dan penguatan BNN Aceh. Operasi yang mencolok dapat mengganggu sindikat, tetapi hanya pengawasan berkelanjutan dan penindakan yang menembus seluruh rantai pasok yang dapat mempersempit ruang geraknya dalam jangka panjang.






