Dua proyek, satu tujuan konektivitas
Infrastruktur penghubung antardaerah adalah sarana fisik yang memungkinkan warga, barang, dan kegiatan ekonomi bergerak lebih mudah melintasi batas wilayah. Peresmian Jembatan Salujambu dan ruas Paleteang–Malimpung–Kabere menunjukkan dua cara berbeda untuk mencapai tujuan itu: membuka lintasan yang sebelumnya terputus dan memperbaiki jalur yang sudah ada.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman meresmikan Jembatan Salujambu Andalan di Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, pada 29 Oktober 2026. Sehari kemudian, ia meresmikan ruas jalan Paleteang–Malimpung–Kabere di Pinrang, yang mengarah hingga perbatasan Kabupaten Enrekang. Keduanya penting bukan semata sebagai proyek fisik, melainkan karena konektivitas sehari-hari menentukan seberapa mudah warga mencapai lahan, pasar, layanan, dan kabupaten tetangga. Nilai proyek infrastruktur Sulawesi Selatan itu paling tepat diukur dari manfaat praktis yang dirasakan pengguna, bukan hanya seremoni peresmian.
Jembatan Salujambu menutup celah akses
Jembatan Salujambu menghubungkan Desa Salujambu di Kecamatan Lamasi, Luwu, dengan Desa Lawewe di Kecamatan Baebunta Selatan, Luwu Utara. Dengan demikian, jembatan ini menyediakan hubungan langsung antara dua kabupaten, sekaligus menjawab penantian masyarakat yang disebut berlangsung sekitar 20 tahun. Perjuangan memperoleh bantuan telah dimulai pada 2021 dan 2022; pembangunan terlaksana pada 2025 dan jembatan diresmikan pada 2026.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memberikan bantuan keuangan kepada Pemerintah Kabupaten Luwu sebesar Rp16 miliar pada tahun anggaran 2025, dengan Rp13 miliar dialokasikan untuk pembangunan jembatan. Sekitar 40.000 warga diperkirakan akan memperoleh manfaat. Dampaknya berpotensi terasa terutama bagi akses ke kawasan pertanian dan perikanan serta kegiatan ekonomi warga di kedua sisi. Peran jembatan di sini mendasar: ketika sebuah lintasan terputus, peningkatan kondisi jalan di tempat lain tidak dapat menggantikannya. Jembatan membuka hubungan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Jalan Pinrang memperlancar arus yang lebih luas
Berbeda dari jembatan yang menyambungkan dua titik lintasan, peningkatan jalan memperbaiki perjalanan sepanjang koridor yang lebih panjang. Ruas Paleteang–Malimpung–Kabere membentang sekitar 19 kilometer dari Pinrang hingga perbatasan Enrekang. Kemantapan jalan dilaporkan meningkat dari sekitar 40 persen menjadi kurang lebih 100 persen. Perubahan kondisi ini menjadikan jalan Pinrang tersebut lebih siap mendukung mobilitas harian dan pergerakan hasil pertanian.
Ruas itu merupakan bagian dari Paket 3 Multiyears Project infrastruktur jalan provinsi senilai Rp478,1 miliar, yang mencakup penanganan 15 ruas dengan total panjang 254,85 kilometer. Manfaat aksesibilitas diproyeksikan menjangkau warga Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, dan Toraja Utara—sekitar 800.000 orang menurut keterangan gubernur. “Dari kondisi kemantapan jalan sekitar 40 persen, kini meningkat menjadi kurang lebih 100 persen.” Angka itu memberi gambaran jelas tentang skala perbaikan, meski manfaat akhirnya tetap bergantung pada kemudahan perjalanan dan distribusi yang dialami warga.

Konektivitas dinilai dari perjalanan warga
Kedua proyek tidak bersaing; fungsinya saling melengkapi. Jembatan Salujambu mengatasi hambatan geografis dengan menghubungkan desa-desa di Luwu dan Luwu Utara, sedangkan ruas Paleteang–Malimpung–Kabere meningkatkan kelancaran pergerakan di koridor yang menghubungkan Pinrang dengan kawasan Enrekang dan Toraja. Yang satu membuka akses lintas kabupaten, yang lain memperbaiki mutu perjalanan sekaligus mendukung distribusi hasil pertanian.
Itulah ukuran yang semestinya dipakai untuk menilai infrastruktur Sulawesi Selatan: apakah waktu dan kesulitan perjalanan berkurang, akses kegiatan ekonomi membaik, dan hubungan antardaerah menjadi lebih mudah digunakan warga. Peresmian menandai selesainya tahap pembangunan, tetapi arti proyek terletak pada fungsi yang kini tersedia. Jembatan dan jalan hanya menjadi konektivitas nyata ketika warga dapat memanfaatkannya untuk bergerak, bekerja, dan mengirim hasil produksi dengan lebih lancar.
Kesimpulannya, Jembatan Salujambu memberi jawaban atas keterputusan akses yang telah lama dirasakan, sementara peningkatan jalan di Pinrang memperkuat jalur mobilitas dan distribusi dalam cakupan wilayah lebih luas. Bersama-sama, keduanya menunjukkan bahwa konektivitas antardaerah membutuhkan baik penghubung baru maupun jalur yang lebih baik.






