Rumah adalah sekolah pertama bagi akhlak
Mendidik anak dengan teladan adalah pengasuhan yang mengajarkan nilai agama dan akhlak melalui perilaku orang tua sehari-hari, bukan dengan bentakan atau ancaman. Rumah menjadi tempat anak lebih dulu mengenal kasih sayang, marah, maaf, kejujuran, dan tanggung jawab. Sebelum mendengar nasihat guru, anak mengamati wajah serta suara ayah dan ibunya; karena itu, teladan orang tua bukan pelengkap nasihat, melainkan bagian utama dari pendidikan.
Khutbah Jumat mengingatkan bahwa perintah Allah untuk menjaga keluarga dari api neraka dalam Q.S. At-Tahrim [66]: 6 mencakup mendidik, mengajarkan kebaikan, dan mengarahkan keluarga kepada ketaatan. Tugas ini tentu meliputi kebutuhan hidup, tetapi tidak berhenti pada biaya sekolah dan makanan. Anak juga memerlukan iman, rasa aman, teladan, dan kasih sayang agar agama hadir di rumah sebagai rahmat, bukan sekadar suara marah. Bentakan mungkin membuat anak diam saat itu, tetapi diam bukan bukti bahwa nasihat telah masuk ke hati.
Niat dan visi memberi arah pada pengasuhan
Parenting Islami membutuhkan arah yang disertai kelapangan hati. Dosen UMS Dr. Hakimuddin Salim mengingatkan bahwa membiarkan anak tumbuh tanpa niat dan visi perjuangan agama merupakan kelalaian dalam pendidikan Islam. Ia merujuk kisah Hannah, istri ‘Imran, yang bernazar agar anaknya mengabdi kepada Allah. Pelajarannya bukan bahwa orang tua harus menentukan seluruh jalan hidup anak, melainkan bahwa pengasuhan perlu membawa tujuan kebaikan.
Visi pengasuhan sebaiknya menghindari dua ekstrem: memaksakan peran secara kaku tanpa melihat potensi anak, atau membiarkannya tumbuh tanpa arah. Apa pun profesi yang kelak dipilih anak, orang tua dapat menanamkan tujuan untuk berbuat manfaat dan membela kebaikan. Dalam materi UMS, rancangan visi sejak dini juga dikaitkan dengan Tarbiyah Ma Qablal Wiladah, pendidikan pra-kelahiran, yang berawal dari niat lurus dan doa. Visi yang sehat menjadi kompas, bukan cetak biru yang menutup pilihan anak.
Kelembutan bukan berarti tanpa batas
Islam memberi dasar kuat untuk mendidik tanpa merendahkan. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku” (H.R. Tirmidzi). Anas bin Malik juga meriwayatkan bahwa selama sepuluh tahun melayani Rasulullah, ia tidak pernah mendengar beliau berkata “ah” atau mencelanya dengan pertanyaan yang menyudutkan (H.R. Bukhari dan Muslim). Kelembutan bukan berarti membiarkan kesalahan; ia berarti menegur tanpa menghina dan mengarahkan tanpa melukai harga diri.
Nasihat Luqman kepada anaknya dalam Q.S. Luqman [31]: 13 menunjukkan bahwa pesan tauhid yang tegas dapat disampaikan dengan panggilan penuh kasih, “Wahai anakku.” Cara bicara menentukan apakah anak lebih mudah membuka hati atau menutup diri. Karena itu, orang tua perlu memisahkan perilaku yang perlu diperbaiki dari harga diri anak: tegur tindakannya dengan jelas, jelaskan akibatnya, lalu tunjukkan pilihan yang lebih baik. Disiplin tetap perlu, tetapi teriakan, hinaan, dan perbandingan bukan penggantinya.
Jadikan kebiasaan baik terlihat setiap hari
Anak lebih mudah meniru sikap yang berulang daripada mengingat ceramah panjang. Maka, konsistensi kecil di rumah patut menjadi bagian dari rencana mendidik anak. Tepati janji kepada anak, akui kesalahan dan minta maaf, berbicara sopan kepada pasangan, serta hindari merendahkan orang lain saat kecewa. Ketika marah, berhenti sejenak sebelum menjawab; setelah tenang, jelaskan batas dan alasan dengan kata-kata yang mendidik. Perilaku ini menunjukkan bahwa mengendalikan diri adalah kekuatan, bukan tanda kalah.
Buat nilai keluarga tampak dalam rutinitas: berdoa bersama, mengucapkan terima kasih, meminta izin, dan membagi tanggung jawab rumah. Jika orang tua berharap anak jujur, mereka juga perlu mengakui fakta tanpa mencari alasan. Jika ingin anak meminta maaf, tunjukkan cara meminta maaf dengan tulus. Khutbah merangkum arah praktisnya: kurangi teriakan dan celaan, perbanyak teladan serta dialog; tegur anak, tetapi jangan hinakan. Kebiasaan ini tidak menuntut orang tua sempurna, hanya kesediaan untuk terus memperbaiki sikap.
Pada akhirnya, teladan orang tua memberi anak gambaran nyata tentang nilai yang selama ini hanya terdengar sebagai nasihat. Niat dan visi menyediakan arah, sementara kelembutan dan konsistensi membuat arah itu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Mendidik tanpa teriakan bukan berarti meniadakan aturan, melainkan memilih cara yang menjaga martabat anak sekaligus membimbingnya. Rumah yang menghadirkan iman, rasa aman, kasih sayang, dan ketegasan yang santun lebih siap menumbuhkan anak yang mengenal kebaikan sekaligus belajar mempraktikkannya.






