Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Orang Tua Gagap Teknologi: Dampaknya pada Pengasuhan Digital

Orang Tua Gagap Teknologi: Dampaknya pada Pengasuhan Digital
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Era Digital Keluarga: Masalahnya Bukan di Layar, Tapi di Pendampingan

Kesenjangan literasi digital orang tua adalah kondisi ketika kemampuan orang dewasa dalam memahami, menilai, dan mengawal aktivitas teknologi keluarga tertinggal jauh dibanding kecepatan anak mengadopsi gawai, media sosial, dan ruang digital; kesenjangan ini membuat keluarga rentan terhadap paparan konten negatif, pola komunikasi toksik, dan penggunaan teknologi tanpa arah yang jelas bagi perkembangan anak. Derasnya perkembangan teknologi digital memang menjadi tantangan baru bagi keluarga dalam mendidik dan melindungi anak, tetapi tantangan utama sekarang bukan lagi akses, melainkan kualitas pendampingan. Kita sudah memegang ponsel, namun belum tentu siap bermedia sosial secara dewasa. Ketika anak hidup di era digital, menjauhkan mereka dari layar bukan solusi, justru bisa memutus peluang belajar dan berkreasi. Pertanyaannya: apakah orang tua siap mendampingi, atau memilih panik lalu melarang?

Orang Tua Gagap Teknologi: Dampaknya pada Pengasuhan Digital

Bahtsul Masail dan Alarm Serius: Anak dalam Pusaran Konten Digital

Kegelisahan soal pengasuhan digital tidak berhenti di obrolan grup keluarga; ia sudah masuk ke forum keilmuan dan keagamaan. Dalam Bahtsul Masail Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) yang digelar di Masjid SMKN 1 Jombang, Kamis (28/8/2026), sebagai bagian dari rangkaian menyongsong Muktamar NU ke-35, para guru besar membahas langsung persoalan keluarga di tengah perkembangan teknologi. Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa anak-anak sekarang hidup di era digital dan teknologi tidak mungkin dijauhkan dari kehidupan mereka. Rumusan yang disusun melalui naskah akademis dan versi populer bertujuan menjadi pijakan menghadapi persoalan keluarga, pendidikan, perlindungan anak dan tantangan kehidupan digital. Lebih dari 40 juta anak telah terpapar konten negatif dan bermuatan seksual melalui ruang digital; angka ini bukan statistik dingin, melainkan alarm keras bahwa gagap teknologi sudah berbahaya.

Sudah Pandai Bermain Ponsel, Tapi Belum Dewasa Bermedia Sosial

Secara teknis, keluarga tidak gagap teknologi: ponsel pintar, aplikasi, dan media sosial menyebar sampai ruang tamu dan dapur. Jutaan pelaku UMKM menggunakan media sosial untuk menjual produk dan pelaku ekonomi kreatif menemukan pasar baru. Namun kedewasaan penggunaan media sosial jelas belum sejalan dengan penetrasi pengguna digital. Indeks Literasi Digital berada di kisaran 3,54 dari skala 5 dan masih dikategorikan cukup; artinya, banyak orang bisa mengunggah konten, tetapi belum terlatih memilah, memverifikasi, dan beretika. Jika orang dewasa terbiasa menyebarkan informasi tanpa verifikasi atau menjadikan media sosial sebagai ruang pelampiasan emosi, jangan berharap anak otomatis belajar etika digital sehat. Di titik ini, literasi digital orang tua menjadi penentu: cara mereka berkomentar, berbagi, dan bereaksi di media sosial diamati dan ditiru anak, jauh lebih kuat daripada nasihat tanpa contoh.

Pendampingan Aktif vs Larangan Total: Mana Lebih Melindungi Anak?

Respons paling cepat orang tua terhadap ketakutan digital biasanya adalah larangan: menyita ponsel, memblokir semua platform, atau mengawasi ekstrem sampai pada level menyadap percakapan anak. Padahal, para akademisi mengingatkan bahwa persoalan bukan pada teknologi semata, melainkan pada bagaimana anak menggunakannya. Orang tua dituntut tidak sekadar memberi akses, tetapi memahami dan mendampingi aktivitas digital anak. Literasi digital orang tua yang memadai memungkinkan mereka mengetahui konten yang dikonsumsi dan memberi batasan sesuai usia. Pendampingan anak media sosial yang sehat bukan berarti menempel 24 jam, tetapi menyediakan lingkungan aman dan terarah, tanpa menghapus ruang eksplorasi. Larangan total mungkin terasa menenangkan bagi orang tua, namun berisiko membuat anak belajar diam-diam tanpa panduan, sehingga keamanan digital anak justru makin rapuh.

Melek Teknologi sebagai Kewajiban Pengasuhan, Bukan Sekadar Pilihan

Perkembangan teknologi keluarga memaksa orang tua mengubah cara pandang: melek teknologi bukan hobi tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab pengasuhan. Para guru besar syariah menekankan pentingnya pola asuh positif di tengah derasnya arus informasi digital, di mana orang tua perlu memahami dunia digital anak agar dapat mencegah paparan konten yang tidak sesuai dengan nilai agama maupun perkembangan psikologis. Negara memang turun tangan melalui regulasi dan pembatasan akses anak terhadap platform digital tertentu, tetapi regulasi saja tidak akan pernah cukup. Anak tumbuh di ruangan yang sama dengan orang dewasa yang juga menatap layar. Karena itu, kebutuhan edukasi berkelanjutan bagi orang tua sangat mendesak: dari kelas literasi digital di sekolah, kajian keagamaan, hingga panduan populer yang disusun APMNU. Tanpa komitmen belajar terus-menerus, orang tua akan terus ketinggalan satu langkah di belakang anak dalam setiap perubahan aplikasi baru.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!