Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Gedung Parlemen hingga Museum, Pelajar Belajar Demokrasi

Dari Gedung Parlemen hingga Museum, Pelajar Belajar Demokrasi
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Demokrasi lebih mudah dipahami saat dialami

Pendidikan demokrasi siswa adalah proses belajar yang membantu pelajar memahami hak, lembaga, dan pengambilan keputusan publik melalui pengalaman, bukan hanya hafalan. Tiga kegiatan edukatif pada akhir Oktober menunjukkan mengapa cara belajar seperti ini penting: demokrasi terasa lebih nyata ketika siswa melihat tempat kerjanya, mencoba prosedurnya, atau menelusuri sejarahnya. Ratusan siswa kelas XI SMA YP Unila mengikuti outing class di Gedung DPRD Provinsi Lampung pada 27 Oktober 2026, sementara Kantor DPD RI Provinsi Riau menggelar program Goes to School di SMA Negeri 8 Pekanbaru pada hari yang sama. Dua hari kemudian, sekitar 80 pelajar SMA dan SMK Jakarta Timur mengunjungi Museum Perjalanan Pemilu dalam kegiatan yang dibuka Wali Kota Munjirin. Perbedaan format ini bukan soal mana yang paling menarik, melainkan bagaimana tiap ruang mengajarkan sisi demokrasi yang berbeda.

DPRD Lampung: belajar dari proses pengambilan keputusan

Kunjungan DPRD pelajar SMA YP Unila dirancang sebagai pembelajaran langsung tentang kebijakan daerah. Siswa mendengar pemaparan M. Syukron Muchtar mengenai tugas DPRD, termasuk fungsi pembentukan peraturan daerah, penganggaran, dan pengawasan. Mereka juga berkeliling ke ruang komisi dan badan-badan DPRD sebelum menuju Ruang Rapat Paripurna. Bagian paling kuat ialah simulasi sidang tentang rancangan aturan pembatasan media sosial di lingkungan pendidikan: siswa memainkan peran pimpinan, anggota DPRD, dan Sekretaris Daerah, lalu menjalani tahapan pembahasan dan pandangan fraksi. Isu yang dekat dengan kehidupan mereka membuat pelajaran tentang perbedaan pendapat dan pertimbangan kepentingan publik terasa konkret. Syukron mengingatkan, “Demokrasi bukan sekadar datang ke tempat pemungutan suara setiap lima tahun sekali.” Pesan itu tepat: pemilih muda perlu melihat bahwa keputusan publik lahir dari proses mendengar, berdebat, dan mencari pertimbangan bersama.

Dari Gedung Parlemen hingga Museum, Pelajar Belajar Demokrasi

Pekanbaru: mengenali peran DPD dari ruang kelas

Berbeda dari outing class di Lampung, program DPD RI Goes to School membawa pengenalan lembaga negara ke sekolah. Di SMA Negeri 8 Pekanbaru, para pelajar mengikuti kegiatan bertema “Mengenal DPD RI, Menginspirasi Generasi” dengan narasumber Kepala Kantor DPD RI Provinsi Riau, Fendri Markauri, serta Kepala Dinas Pendidikan Riau, Erisman Yahya. Fokusnya adalah peran lembaga negara di tingkat perwakilan daerah: siswa diajak memahami tugas dan fungsi DPD RI dalam memperjuangkan aspirasi serta kepentingan daerah. Format sekolah memudahkan dialog tanpa perlu mengunjungi gedung pemerintahan, tetapi manfaatnya akan lebih besar bila pelajar diberi ruang bertanya dan menghubungkan materi dengan persoalan di sekitarnya. Tujuan kegiatan ini bukan sekadar mengenalkan nama lembaga, melainkan membantu siswa memahami bagaimana aspirasi masyarakat dapat disampaikan dan dipertimbangkan dalam pembangunan daerah.

Museum: memahami demokrasi lewat perjalanan pemilu

Di Jakarta Timur, pendekatannya bergerak dari praktik lembaga ke lintasan sejarah. Sekitar 80 pelajar SMA dan SMK mengunjungi Museum Perjalanan Pemilu di Kantor Sekretariat KPU Kelurahan Kayu Putih, Pulogadung, untuk mengenal perubahan penyelenggaraan pemilu dari masa ke masa. Koleksi dan dokumentasi membantu mereka melihat perkembangan regulasi, kelembagaan, serta mekanisme pemilu, dari pemilu pertama pada 1955 hingga era yang memanfaatkan teknologi informasi. Dibanding simulasi sidang DPRD yang menekankan cara kebijakan dibahas, museum menempatkan demokrasi dalam konteks perubahan panjang dan mengingatkan bahwa aturan pemilu tidak terbentuk sekali untuk selamanya. Para peserta menyampaikan bahwa melihat rekam jejak tersebut membuka wawasan baru. Penyelenggara berharap mereka membagikan pengalaman kepada teman sebaya dan tumbuh sebagai warga yang kritis serta bertanggung jawab.

Dari Gedung Parlemen hingga Museum, Pelajar Belajar Demokrasi

Tiga ruang, satu tujuan kewargaan

Ketiga kegiatan mengajarkan demokrasi melalui pintu masuk yang berlainan: DPRD Lampung menawarkan simulasi dan pengenalan kerja legislatif, program di Pekanbaru menjelaskan tugas DPD RI di ruang sekolah, sedangkan museum di Jakarta Timur mengajak pelajar membaca sejarah pemilu. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pendidikan kewargaan tidak seharusnya berhenti pada ceramah atau kunjungan seremonial. Pengalaman langsung membuat fungsi lembaga lebih mudah dibayangkan; pembahasan sejarah memberi konteks atas perubahan; dan dialog dapat menghubungkan keduanya dengan aspirasi masyarakat. Tantangannya adalah menjaga agar kegiatan semacam ini berlanjut dalam pembelajaran di sekolah, bukan menjadi pengalaman sekali lewat. Bila pelajar diajak menindaklanjuti kunjungan dengan diskusi dan pertanyaan kritis, pemahaman tentang demokrasi akan lebih dari sekadar pengetahuan tentang gedung dan pemilu. Mereka dapat melihat diri sendiri sebagai warga yang punya tanggung jawab dalam proses publik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!